Jika Lupa atau Ragu-Ragu dalam Salat, Begini Caranya

 Jika Lupa atau Ragu-Ragu dalam Salat, Begini Caranya

Bagaimana Hukumnya Berpuasa Ramadhan Tapi Meninggalkan Sholat? (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Lupa atau ragu adalah sifat bawaan manusia, sebagaimana maqalah al-insan mahal al-khatha’ wa al-nisyan (manusia adalah tempatnya salah dan lupa). Biasanya sifat ini akan muncul ketika seseorang kurang tidur, stress, banyak pikiran dan lain-lain. Namun bagaimana jika lupa atau ragu tersebut terjadi ketika seseorang sedang mengerjakan salat?

Jika lupa atau keraguannya terjadi di pertengahan salat, maka diperinci sebagai berikut:

Jika teringatnya atau keyakinnya terjadi sebelum seseorang mengerjakan rukun yang sama yang ia tinggalkan di rakaat sebelumnya, maka ia harus kembali untuk mengerjakan rukun yang ia tinggalkan.

Misalnya, seseorang ragu-ragu atau lupa belum ruku’ di rakaat pertama, kemudian ia teringat di waktu sujud atau saat membaca al-Fatihah di rakaat kedua, maka ia harus mengulang ruku’ yang ia tinggalkan, mengulang i’tidalnya dan rukun-rukun setelahnya, lalu meneruskan salatnya.

Namun jika ia teringat ketika mengerjakan rukun yang sama dengan rukun yang ia tinggalkan, maka rukun-rukun yang ada di antara keduanya dianggap mulghah (sia-sia) dan tidak dihitung.

***

Dalam masalah ini, Sayyid Abu Bakar Syatha berkomentar:

(وَلَوْ سَهَا غَيْرُ الْمَأْمُوْمِ) فِي التَّرْتِيْبِ (بِتَرْكِ رُكْنٍ) كَأَنْ سَجَدَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ رَكَعَ قَبْلَ الْفَاتِحَةِ لَغَا مَا فَعَلَهُ حَتَّى يَأْتِيَ بِالْمَتْرُوْكِ، فَإِنْ تَذَكَّرَ قَبْلَ بُلُوْغِ مِثْلِهِ أَتَى بِهِ (أَوْ شَكَّ) هُوَ أَيْ غَيْرُ الْمَأْمُوْمِ فِي رُكْنٍ هَلَ فَعَلَ أَمْ لاَ  كَأَنْ شَكَّ رَاكِعًا هَلْ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ أَوْ سَاجِدًا هَلْ رَكَعَ أَوْ اِعْتَدَلَ (أَتَى) بِهِ فَوْرًا وُجُوْبًا (إِنْ كَانَ) الشَّكُّ (قَبْلَ فِعْلِ مِثْلِهِ) مِنْ رَكْعَةٍ أُخْرَى (وَإِلاَّ) أَيْ وَإِنْ لَمْ يَتَذَكَّرْ حَتَى فَعَلَ مِثْلَهُ فيِ رَكْعَةٍ أُخْرَى (أَجْزَأَهُ) عَنْ مَتْرُوْكِهِ وَلَغَا مَا بَيْنَهُمَا.

Ketika selain makmum lupa meninggalkan rukun, misalnya ia telah sujud sebelum ruku’ atau ruku’ sebelum membaca al-Fatihah, maka rukun yang ditinggalkan dianggap sia-sia, sampai ia mengerjakan rukun yang ia tinggalkan, dengan syarat ia belum mengerjakan rukun yang sama yang ia tinggalkan di rakaat sebelumnya. Atau seseorang (selain makmum) ragu-ragu dalam mengerjakan rukun salat, misalnya ia ragu-ragu apakah ia sudah membaca al-Fatihah sementara ia sedang ruku’ atau ruku’ atau i’tidal sementara ia sedang dalam keadaan sujud, maka ketika ingat, seketika itu ia wajib mengulang ruku’ dan i’tidalnya, lalu meneruskan salatnya, jika keraguan tersebut terjadi sebelum ia mengerjakan rukun yang sama di raka’at setelahnya. Sebaliknya, jika ia telah mengerjakan rukun yang sama di raka’at setelahnya, maka maka rukun-rukun yang ada di antara keduanya dianggap mulghah (sia-sia).  (Sayyid Abu Bakar Syatha, I’anat al-Thalibin, juz 1, hlm. 38)

Sebagai ilustrasi, seseorang lupa belum ruku’ di rakaat pertama, lalu ia teringat saat  ruku’ di rakaat kedua, maka i’tidalnya, sujudnya, serta duduknya di rakaat pertama dianggap sia-sia.

Salatnya baru dianggap satu rakaat karena rakaat kedua dihitung sebagai rakaat pertama, sebab adanya rukun yang ditinggalkan (ruku’) di rakaat pertama. Karena itu ia tidak boleh mengerjakan tahiyyat awal.

Praktiknya, seseorang mengerjakan salat lima rakaat, namun yang dianggap sah hanya empat rakaat. Kemudian sebelum salam, ia disunnahkan sujud sahwi.

Ragu-Ragu atau Lupa Sunnah-Sunnah Salat

Namun, jika yang terlupakan adalah pekerjaan yang hukumnya sunnah, maka seseorang tidak diperbolehkan kembali untuk melakukan kesunahan yang ia tinggalkan. Bahkan jika ia kembali mengerjakan yang sunnah dengan sengaja (bukan karena lupa), maka salatnya menjadi batal.

Syaikh Taqiyyuddin Abu Bakar al-Husaini dalam Kifayat al-Akhyar menjelaskan:

فَلَوْ تَرَكَ التَّشَهُّدَ الأَوَّلَ وَتَلَبَّسَ بِالْقِيَامِ نَاسِيًا لَمْ يَجُزْ لَهُ الْعَوْدُ إِلَى الْقُعُودِ فَإِنْ عَادَ عَامِدًا عَالِمًا بِتَحْرِيمِهِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ لِأَنَّهُ زَادَ قُعُودًا وَإِن عَادَ نَاسِيًا لَمْ تَبْطُلْ

Ketika seseorang lupa meninggalkan tasyahhud awal dan telah berdiri, maka ia tidak diperbolehkan kembali untuk duduk. Jika ia kembali duduk (untuk tasyahhud awal) sementara ia mengetahui keharamannya, maka salatnya batal. Karena dengan begitu, ia telah menambahkan duduk. Sebaliknya, jika ia melakukannya karena lupa, maka salatnya tidak batal. (Syaikh Taqiyyuddin Abu Bakar al-Husaini, Kifayat al-Akhyar, juz 1, hlm. 105)

 

Sebagai ilustrasi, seseorang lupa tidak qunut atau tidak membaca surah-surah tertentu dari al-Qur’an, lalu ketika sujud ia teringat, kemudian ia berdiri kembali untuk mengerjakan qunut atau membaca surah, maka salatnya menjadi batal. Alasannya, karena ia meninggalkan rukun yang wajib dikerjakan (ruku’) untuk mengerjakan perkara yang sunnah (qunut atau membaca surah).

Yang ia lakukan seharusnya melanjutkan salatnya dan tidak perlu mengulang pekerjaan-pekerjaan sunnah yang ia tinggalkan. Kemudian sebelum salam, ia disunnahkan sujud sahwi jika sunnah yang terlupakan berupa sunnah ab’adh (seperti qunut, tahiyyat awal dan lain-lain), dan tidak disunnahkan sujud sahwi jika berupa sunnah hai’at (membaca surah-surah tertentu dan yang lainnya).

Lupa Ketika Salat Telah Selesai

Selanjutnya, jika seseorang teringat ada rukun atau rakaat yang tertinggal sementara ia sudah mengakhiri salatnya, maka diperinci sebagai berikut; Jika jarak waktu selesainya salat dengan ingatannya sebentar, maka ia cukup menambah satu atau dua rakaat yang ditinggalkannya, kemudian sebelum salam disunnahkan sujud sahwi. Sebaliknya, jika jaraknya terlalu lama (semisal orang tersebut teringat setelah selesai membaca dzikir salat atau sudah keluar dari masjid), maka ia wajib mengulangi salatnya dari awal.

Penjelasan ini didasarkan pada pendapat imam al-Nawawi sebagai berikut:

اِذَا سَلَّمَ مِنْ صَلَاتِهِ ثُمَّ تَيَقَّنَ أَنَّهُ تَرَكَ رَكْعَةً أَوْ رَكْعَتَيْنِ أَوْثَلَاثًا أَوْ أَنَّهُ تَرَكَ رُكُوْعًا أْوْسُجُوْدًا أَوْغَيْرَهُمَا مِنَ الْأَرْكَانِ سِوَى النِّيَّةِ وَتَكْبِيْرَةِ الْإِحْرَامِ فَإِنْ ذَكَرَ السَّهْوَ قَبْلَ طُوْلِ الْفَصْلِ لَزِمَهُ البِنَاءُ عَلَى صَلَاتِهِ فَيَأْتِى بِالْبَاقِى وَيَسْجُدُ لِلسَّهْوِ وَإِنْ ذَكَرَ بَعْدَ طُوْلِ الْفَصْلِ لَزِمَهُ اِسْتِئْنَافُ الصَّلاَةِ

Ketika seseorang telah salam (menyelsaikan salatnya), kemudian ia yakin telah meninggalkan satu, dua atau tiga rukun salat, atau meninggalkan ruku’, sujud atau rukun lainnya, selain niat dan takbiratul ihram, maka jika waktu selesainya salat dengan ingatannya sebentar, maka ia tinggal menambah satu, dua, atau tiga rukun yang ia tinggalkan, kemudian sebelum salam disunnahkan sujud sahwi. Sebaliknya, jika jaraknya lama, maka ia harus mengulang salatnya. (Al-Nawawi, al-Majmu’, juz 5, hlm. 131)

Imam Nawawi kemudian menambahkan bahwa ukuran sebentar dalam konteks ini sekiranya seseorang melakukan salat satu raka’at. Ada juga yang berpendapat dikembalikan kepada urf (persepsi umumnya orang dalam menentukan lama atau sebentarnya sebuah pekerjaan).

Ragu-Ragu Ketika Salat Telah Selesai

Namun jika seseorang diliputi keraguan (selain niat dan takbiratul ihram) sementara ia telah menyelesaikan salatnya, maka keraguan itu sama sekali tidak mempengaruhi keabsahan salatnya. Alasannya, karena faktanya ia telah melakukan salam dan salatnya dianggap sempurna. Namun jika keraguan itu berkaitan dengan niat dan takbiratul ihram, maka ia harus mengulang salatnya dari awal.

Imam al-Syarwani menjelaskan:

لَوْ شَكَّ بَعْدَ السَّلاَمِ الَّذِي لاَ يَحْصُلُ بَعْدَهُ عَوْدٌ لِلصَّلاَةِ فِى تَرْكِ فَرْضٍ غَيْرِ النِّيَّةِ وَتَكْبِيْرَةِ الْإِحْرَامِ لَمْ يُؤْثِرْ عَلَى الْمَشْهُوْرِ، وَإِلاَّ لِعُسْرٍ وَشَقٍّ وَلِأَنَّ الظَّاهِرَ مُضِيُّهَا عَلَى الصِّحَّةِ

Ketikaada orang ragu-ragu meninggalkan rukun salat, selain niat dan takbiratul ihram sementara ia telah mengucapkan salam, maka keraguan tersebut tidak berarti, karena akan membertakan dan melelahkan dan secara fakta ia telah menyelesaikan salatnya dalam keadaan sah. (Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani, juz 2, hlm. 461)

Abdul Wadud Kasful Humam

Dosen di STAI Al-Anwar Sarang-Rembang

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *