Jejak Syekh Yusuf Makassar di Afrika

 Jejak Syekh Yusuf Makassar di Afrika
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Syekh Yusuf Makassar adalah ulama Gowa yang tersohor hingga tanah Afrika. Beliau lahir di Gowa, Sulawesi Selatan pada 3 Juli 1626 dengan nama asli Muhammad Yusuf. Nama ini merupakan pemberian dari Sultan Alaudin yang merupakan penguasa Gowa pertama yang masuk Islam.

Banyak kisah beredar tentang status Syekh Yusuf sebagai anak Sultan Alaudin, ada yang mengatakan jika Syekh Yusuf merupakan anak kandung Sultan Alaudin, namun versi lain mengatakan bahwa beliau hanyalah anak angkat.

Terlepas dari anak kandung atau anak angkat, Syekh Yusuf Makassar sering mengenalkan diri sebagai anak dari Sultan Alaudin. Ini dilakukan ketika ia mengenalkan diri kepada Belanda, karena pada saat itu Belanda dan Gowa bersahabat, sehingga keberadaanya diterima dengan baik oleh Belanda.

Pada usia 15 tahun, Syekh Yusuf mulai belajar agama, beliau berguru kepada Daeng Ri Tassamang yang merupakan guru kerajaan Gowa di Cikoang.

Sepulang dari Cikoang, Syekh Yusuf menikah dengan salah satu putri Sultan Alaudin yang bernama Sitti Daeng Nisanga.

Pada 1644, ia melakukan perjalanannya ke Banten, disana ia berguru kepada ulama-ulama terkenal di Kesultanan yang terletak di ujung barat pulau Jawa itu.

Syekh Yusuf Makassar menjalin erat persahabatan dengan anak-anak Abu al-Ma’ali Ahmad, terutama dnegan sang putra mahkota yakni Abu al-Fath atau Pangeran Surya.

Pangeran Surya inilah yang kemudian dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa dan naik tahta pada 1651. Sedangkan Syekh Yusuf nantinya diangkat sebagai mufti kerajaan sekaligus penasihat Sultan Ageng Tirtayasa dan turut berjuang melawan Belanda.


Setelah beberapa lama menetap di Banten, Syekh Yusuf Makassar pergi ke Aceh. Ia pergi ke Aceh lantaran tertarik dengan ajaran sufi dari seorang ulama besar bernama Nuruddin ar-Raniri.

Syekh Yusuf tiba di Aceh pada 1645 saat kesultanan Aceh dipimpin oleh seorang Ratu, yakni Sultanah Safiatuddin Tajul ‘Alam, yang merupakan putri Sultan Iskandar Muda.

Kepada Nuruddin ar-Raniri beliau belajar ilmu tasawuf dan tarekat. Nantinya, Syekh Yusuf akan menjadi perintis ketiga pembaruan Islam pada abad ke-17 setelah gurunya, Nuruddin ar-Raniry dan Abdurrauf as-Singkily.

Setelah dua tahun di Aceh, beliau ingin meneruskan kembali perjalanannya ke Timur Tengah. Ia berlayar pada 1649 dan sempat singgah di Sri Langka sebelum menuju Yaman. Selain ke kota Yaman, beliau juga pergi ke Damaskus dan ke Tanah Suci Makkah untuk melakukan ibadah Haji.

Sepulang dari Timur tengah pada 1670 Syekh Yusuf Makassar tidak langsung pulang ke Gowa, melainkan pergi ke Banten untuk membantu Kesultanan Banten yang sedang diserang oleh Belanda.

Jika diingat, pada 1644 Syekh Yusuf menjalin hubungan baik dengan Putra Mahkota saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa. Syekh Yusuf menjadi membantu Kesultanan Banten dengan menjadi penasihatnya. Namun sayang, saat Kesultanan Banten jatuh ke tangan Belanda, Syekh Yusuf kemudian ditangkap dan diasingkan ke Ceylon, Sri Langka.

Di Srilangka, Syekh Yusuf Makassar tetap aktif menyebarkan ajaran Islam, ia juga masih dapat mengirim surat kepada Kesultanan Banten dan Kesultanan Gowa lewat para jamaah haji yang singgah di Srilangka.

Hal ini diketahui Belanda sehingga mereka kemudian mengirim Syekh Yusuf ke Afrika dengan tujuan agar ia tidak dapat lagi menghubungi para pengikutnya di Tanah air.

Pada 1694, Syekh Yusuf Makassar dan keluarganya diasingkan ke Afrika Selatan. Di tempat pembuangan terkahirnya inilah, Syekh Yusuf justru memperoleh kedamaian hidup dan leluasa untuk menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk setempat dan murid-muridnya yang setia hingga akhir hayatnya.

Berkat Syekh Yusuf dan para pengikutnya, banyak warga Afrika Selatan yang masuk Islam. Mereka menikah dan beregenerasi dengan penduduk setempat, hingga terbentuklah komunitas Melayu di Cape Town yang kini menjadi Ibukota Provinsi Western Cape.

Gambar : Pualam yang berada di makam Syekh Yusuf di Cape Town, menjadi bukti keberadaan beliau di Tanah Afrika

Bekas area pengasingan Syekh Yusuf di Cape Town kemudian menjadi kota kecil bernama Macassar. Di kota inilah, terdapat nama-nama jalan yang bernuansa Melayu seperti Macassar Road, Syekh Yusuf Road dan Kramat Road. Nama Syekh Yusuf pun sangat membekas di hati warga Afrika Selatan. Nelson Mandela bahkan pernah berkata bahwa Syekh Yusuf adalah “Putra Afrika, pejuang teladan kami”.

Mandela juga menjadikan Syekh Yusuf sebagai inspirasi perjuangan rakyat Afrika melawan apartheid (sistem pemisahan kulit ras oleh pemerintah kulit putih di Afrika pada awal abad ke-20 hingga 1990).

Syekh Yusuf wafat di Cape Town pada 23 Mei 1699. Dan atas permintaan Sultan Gowa, Abdul Jalil, Jenazah Syekh Yusuf dipulangkan ke Makassar pada 1705. Kemudian jenazahnya dimakamkan di makam bangsawan di Lakiung. Dan pada 7 Agustus 1995, Presiden Soeharto menetapkan Syekh Yusuf sebagai pahlawan Nasional.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

8 + 4 =