Jawaban atas Tuduhan kepada al-Ghazali dan al-Asy’ari? (2)

 Jawaban atas Tuduhan kepada al-Ghazali dan al-Asy’ari? (2)

Gus Ulil (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Apakah benar terjadi kemunduran dalam hal kultur pengetahuan di kalangan “anak-cucu” al-Ghazali dan al-Asy’ari? Apakah benar, dengan mengikuti ajaran kedua ulama besar ini, warga nahdliyyin mengalami kemunduran dalam aspek pengetahuan dan daya kritisisme?

“Anak-cucu” al-Ghazali dan al-Asy’ari dalam konteks Indonesia adalah warga nahdliyyin, terutama para santri, mahasiswa, aktivis Nahdlatul Ulama (NU). Merekalah anak-cucu dan pelanjut ajaran-ajaran al-Ghazali di Indonesia, baik mereka sadari atau tidak. 

Jika kita telaah peta umat Islam di Indonesia saat ini, akan tampak gambar “kasar” seperti ini : segmen umat yang paling bersemangat. Untuk menerima gagasan-gagasan pembaharuan Islam justru datang dari kalangan anak-anak muda NU.

Kalangan terpelajar Islam yang paling antusias membaca, menelaah, dan mendiskusikan gagasan-gagasan pembaharuan Islam. Di antaranya yang dilontarkan oleh Nurcholish Madjid, Munawir Sjadzali, Harun Nasution, adalah justru anak-anak lulusan pesantren tradisional yang kemudian meneruskan pendidikan di IAIN/UIN.

Sebaliknya, kalangan yang paling “enggan”, bahkan menyesatkan dan mengkafirkan para pembaharu itu, untuk sebagian besar, justru datang dari luar komunitas nahdliyyin. 

Peran Gus Dur Mengenalkan Kultur Pengetahuan Islam

Menariknya, sosok Kiai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Siapa yang bisa menyangsikan bahwa Gus Dur adalah bagian dari anak-anak cucu al-Ghazali di Indonesia? Ia pernah menempuh pendidikan Islam di pesantren tradisional di Tegalrejo, Magelang.

Dia pernah menempuh pendidikan di Universitas al-Azhar, lembaga yang bisa kita anggap sebagai “pemangku” dan pelestari tradisi Islam Sunni. Adapun yang mengikuti ajaran-ajaran al-Ghazali, al-Asy’ari, al-Maturdi, dll.

Dari al-Azhar inilah lahir seorang ulama besar yang dianggap sebagai “Imam Ghazali Abad ke-20”, yaitu Syaikh Abdul Halim Mahmud. Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus adalah salah satu murid ulama besar ini.

Peran Gus Dur dalam mengenalkan kultur pengetahuan Islam baru yang lebih kritis dan progresif di kalangan generasi muda nahdliyyin, jelas amat besar. Gus Dur lah yang mengenalkan untuk pertama kali buku-buku pemikir besar asal Mesir yang meninggal pada 21/10 yang lalu, yaitu Hassan Hanafi.

Pada tahun 90an, Gus Dur mengenalkan salah satu karya penting Dr. Hanafi kepada anak-anak muda nahdliyyin, yaitu “Min al-‘Aqidah Ila al-Tsaurah” (Dari Akidah ke Revolusi). 

Melalui sebuah artikelnya di Jurnal Prisma pada tahun 80an, Gus Dur mengenalkan gagasan besar Hanafi tentang Kiri Islam atau al-Yasar al-Islami. Pada tahun 90an, Penerbit LKiS Yogyakarta, pernah menerbitkan sebuah disertasi yang ditulis oleh seorang sarjana Jepang tentang gagasan Kiri Islam Hassan Hanafi itu.

Mengenalkan kepada Anak-anak NU

Gus Dur tidak hanya mengenalkan Hassan Hanfi. Ada dua pemikir Islam lain yang dikenalkannya kepada anak-anak NU. Pertama adalah Muhammad Abid al-Jabiri (w. 2010), pemikir besar Islam dari Maroko.

Saya adalah salah satu anak muda NU yang menerima “berkah pemikiran dari Gus Dur ini. Dari dialah saya mengenal mengenal bukul-Jabiri yang paling populer, “Naqd al’Aql al-‘Arabi” (Kritik Akal Arab).

Saya harus membikin pengakuan di sini: buku ini saya curi dari rak pribadi Gus Dur di kantor PBNU (yang lama, sebelum dibangun dan menjadi bagus seperti sekarang). Pada tahun 90an, gagasan-gagasan Al-Jabiri banyak dibaca dan dikaji dengan penuh antusiasme oleh anak-anak NU. 

Pemikir lain yang dikenalkan oleh Gus adalah Muhammad Arkoun (w. 2010). Seorang pemikir Muslim yang “kontroversial” dari Tunisia. Arkoun melewatkan seluruh karir akademisnya di Universitas Sorbonne, Paris (universitas yang merupakan alma mater dari Hassan Hanafi).

Dia dikenal, antara lain, melalui gagasannya tentang dekonstruksi” (tafkik) pemikiran Islam. Sebagaimana Hassan Hanafi dan Al-Jabiri, buku-buku Arkoun menjadi bacaan yang amat disukai anak-anak NU pada tahun-tahun 90an.

Gus Dur memang telah membukakan pintu pengetahuan yang “baru” dan “segar” bagi anak-anak NU. Setelah pintu itu terbuka, anak-anak NU kemudian melakukan penjelajahan sendiri ke segala penjuru.

Mereka, dengan penuh semangat, membacai hampir semua pemikir-pemikir Muslim baru yang sulit diterima di negeri-negeri Muslim lain; salah satunya adalah Nasr Hamid Abu Zayd (w. 2010), pemikir Mesir yang pernah diadili di negerinya sendiri.

Gus Mus, Bagian dari Anak Cucu al-Ghazali

Saat Nasr Hamid Abu Zayd berkunjung ke Indonesia pada 2009, sejumlah kelompok Islam di Indonesia mempersoalkannyan (siapa mereka, tentu anda sudah bisa menduga). Tetapi anak-anak NU membuka tangan lebar untuk menerima kedatangan pemikir besar ini.

Gus Mus adalah salah satu tuan rumah yang menyambut kedatangan Abu Zayd. Saya bertemu Prof. Abu Zayd di “ndalem” Gus Mus di Rembang dan bercengkerma cukup lama di sana.

Siapa itu Gus Mus? Dia tiada lain adalah bagian dari anak cucu al-Ghazali, bahkan murid langsung dari ulama besar penerus al-Ghazali pada Abad ke-20 yang sudah saya sebut di atas: Syaikh Abdul Halim Mahmud. 

Menariknya, anak-anak NU pula yang paling terdepan dalam menyambut gagasan-gagasan mengenai keadilan gender. Pikiran-pikiran Amina Wadud, Riffat Hassan, Ziba Mir-Hosseini, Fareed Essack, disambut dengan tangan terbuka dan dibaca dengan penuh semangat oleh generasi muda NU yang berwawasan Gusdurin.

Kaum yang Pemikiran Keislamannya Terbuka

Keterbukaan anak-anak NU ini tidak berarti bahwa mereka meninggalkan tradisi sama sekali. Hal yang mengesankan bagi saya adalah bahwa mereka begitu bersemangat membaca pikiran-pikiran yang amat maju parai pemikir Muslim dari segala penjuru dunia itu.

Pada saat yang sama mereka tetap mempertahankan tradisi yang menjadi fondasi komunitas NU. Salah satu tradisi itu ialah hormat pada otoritas para kiai.

Semua anak-anak NU yang “keranjingan” pada buku-buku Hassan Hanaf dan lain-lain itu, akan cium tangan jika bertemu dengan para kiai. Ini adalah bagian dari penghormatan kepada otoritas keilamuan. 

Pertanyaan yang patut menjadi renungan bagi kita semua adalah:

Jika benar ajaran-ajaran Imam Ghazali dan al-Asy’ari menimbulkan kemunduran. Kenapa anak-anak cucuk dua ulama besar ini justru yang paling maju dan terbuka dalam hal pemikiran keislaman, paling toleran dan moderat dalam sikap-sikap keberagamaan. Sekurang-kurangnya dalam konteks Indonesia kontemporer?

Kenapa konservatisme Islam justru lebih menonjol di kalangan yang bukan merupakan anak-anak cucu al-Ghazali?

 

Penulis : Gus Ulil Abshar Abdalla

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *