Oleh: Mj. Ja’far Shodiq (Pimpinan Redaksi Hidayatuna)

Gerakan Islam transnasional merupakan sebuah gerakan Islam yang bergerak di lintas dunia. Berdasarkan hasil penelitian yang di-release dan diedarkan oleh Badan Intelejen Negara (BIN) Republik Indonesia, ideologi Islam transnasional memiliki ciri yaitu bersifat antar-negara (transnasional), konsep gerakan tidak lagi bertumpu pada nation-state, melainkan konsep ummah, didominasi oleh corak pemikiran skripturalis, fundamentalis atau radikal dan terakhir secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern.

Oleh sebab itu jelas bahwa Islam transnasional memiliki ideologi yang menentang negara bangsa (nation state). Untuk mewujudkan impian ideologi tersebut, mereka mengembangkan berbagai cara, termasuk memaksakan kehendak melalui tindakan kekerasan, represi, teror, seraya mengingkari, menafikan atau membedakan keyakinan orang lain (the others), dan mengkafirkan selain mereka, baik dari kalangan umat agama lain maupun dalam internal Islam yang tidak sejalan dengan ideologi mereka. Gerakan politik transnasional tak ragu-ragu melakukan klaim kebenaran sepihak atas nama agama atau Tuhan.

Jika dilihat dari tipologinya, gerakan transnasional-radikal memiliki dua tipologi, yang pertama adalah gerakan transnasional bertipologi radikalisme statis yaitu gerakan transnasional yang memiliki pemikiran radikal yang lebih bersifat gagasan, tidak dalam bentuk aksi nyata kekerasan. Contoh organisasi transnasional seperti ini adalah Hizbut Tahrir (HT), Ikhwanul Muslimin (IM), Ahmadiyah, Jama’ah Tabligh, dan Syiah. Adapun tipologi yang kedua adalah gerakan transnasional yang bertipologi radikalisme destruktif, yaitu gerakan yang memiliki pemikiran radikal yang merusak dan menggunakan metode kekerasan dalam wujudkan tujuan yang dicita-citakan. Contoh organisasi seperti ini adalah ISIS, dan Jihadi.

Berikut profil singkat beberapa gerakan Islam transnasional menurut data Badan Intelejen Negara (BIN) Republik Indonesia adalah sebagai berikut:

Baca Juga :  Kita Kembali ke Ahlussunah Wal Jama'ah ala Shofaih

Pertama, ISIS, atau Negara Islam Irak dan Syam adalah kelompok militan ekstremis pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi. Kelompok ini dipimpin dan didominasi oleh anggota Arab Sunni dari Irak dan Suriah. Hingga Maret 2015, NIIS menguasai wilayah berpenduduk 10 juta orang di Irak dan Suriah. Lewat kelompok lokalnya, NIIS juga menguasai wilayah kecil di LibyaNigeria, dan Afghanistan. Kelompok ini juga beroperasi atau memiliki afiliasi di berbagai wilayah dunia, termasuk Afrika Utara dan Asia Selatan

Kedua, Ikhwanul Muslimin, didirikan pada maret 1928 oleh Hasan al-Banna di Ismailia Mesir, lalu berpindah ke Ibu Kota Kairo pada tahun 1932. Persebaran Ikhwanul Muslimin kurang lebih di 70 negara, mulai dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara hingga Amerika Serikat dan Kanada. Ikhwanul Muslimin memiliki sifat jaringan yang sangat fleksibel dan setengah tertutup, Nama gerakannya pun berbeda-beda di setiap negara. Kekuatan utama kaderisasi gerakan ini adalah pembentukan kelompok-kelompok pengajian (halaqoh). Gerakan ini hadir di Indonesia pada awalnya melalui lembaga-lembaga dakwah kampus yang kemudian menjadi gerakan tarbiyah.

Ketiga, Hizbut Tahrir, didirikan oleh Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani pada tahun 1953 di Palestina.  Tujuan utamanya adalah membentuk negara khilāfah Islamiyah ‘alā minhāj al- nubuwwah. Untuk mencapai tujuan tersebut Hizbut Tahrir menerapkan langkah-langkah dakwahnya dalam tiga tahap: tatsqif (pembinaan dan pengkaderan), tafa’ul (interaksi) dengan umat, dan istilām al-hukmi (menerima kekuasaan) dari umat. Gerakan Hizbut Tahrir di Indonesia Masuk pertama kali pada tahun 1980-an di bawah pimpinan Abd. Rahman al-Baghdadi, dengan merintis halaqah- halaqah (pengajian-pengajian kecil). Dalam menjalankan agendanya, Hizbut Tahrir menginginkan revolusi bersama rakyat. Setelah sukses dalam mengubah paham, pemikiran dan keyakinan rakyat, maka dengan sendirinya rakyat akan melakukan perubahan sistem politik dengan menggulingkan sistem yang ada.

Baca Juga :  Panglima Santri Jawa Barat Seharusnya Dukung Film The Santri

Keempat, Jihadi, lahirnya gerakan Jihadi dipicu oleh perang Afganistan. Bahan baku utama gerakan ini terutama berasal dari gerakan Ikhwan sayap radikal dan Salafy sayap radikal. Tokoh intelektual dibalik gerakan ini adalah Abdullah Azzam, Aiman Zawahiri, dan Sheikh Abu Muhammad Al Maqdisy. Sedang operator utamanya adalah Usamah bin Laden. Pengikut gerakan ini sebagian besar adalah alumni Afgan, Moro dan Chechnya.

Kelima, Salafi Dakwah dan Salafi Sururi. Formulasi teologis salafisme pasca kemunduran Islam dilakukan oleh Taqiyyudin ibnu Taimiyyah dan gerakan pemurnian oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Faham ini masuk ke Indonesia pada abad ke 19-20, bersamaan dengan datangnya orang-orang Indonesia yang melaksanakan haji ke Makkah. Strategi perjuangan dakwah dan pendidikan yang a-politis dan non- organisatoris.  Gerakan Islam yang politik dan membentuk organisasi dianggap sebagai kaum mubtadiun (pelaku bid’ah) yang melenceng dari ajaran yang benar, ajaran salafi. 

Keenam, Jama’ah Tabligh, merupakan gabungan antara wahabisme dan suffisme. Menjadi bahan baku bagi gerakan sunni radikal (Harakatul Mujāhidin) Jama’ah Tabligh di Indonesia mempunyai anggota yang cukup banyak. Anggota Jama’ah Tabligh di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari artis sampai dengan tentara, kalangan profesional dan lain-lain. Sasaran utama pengembangan Jama’ah Tabligh umumnya   kalangan perkotaan terutama yang tidak menyukai aktivitas politik dan ada minat terhadap sufisme. 

Ketujuh, Syi’ah, pasca terjadi Revolusi Islam Iran (1979), pada awal gerakannya, syi’ah bersifat intelektual, namun sejak kehadiran alumnus Qum, gerakan Syi’ah mulai mengembangkan Fiqh Syi’ah, sehingga muncullah lembaga-lembaga Syi’ah yang tersebar di seluruh dunia.

Kedelapan, Ahmadiyyah, sebuah gerakan keagamaan Islam yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889, di sebuah kota kecil yang bernama Qadian di negara bagian PunjabIndia. Jemaat Muslim Ahmadiyah (Ahmadiyya Muslim Community) adalah satu organisasi keagamaan Internasional yang memiliki cabang di 174 negara tersebar mulai dari AfrikaAmerika UtaraAmerika SelatanAsiaAustralia dan Eropa. Jemaat Ahmadiyah Internasional juga telah menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa-bahasa besar di dunia dan sedang merampungkan penerjemahan Alquran ke dalam 100 bahasa di dunia.