Warning: sprintf(): Too few arguments in /home/u7096914/public_html/wp-content/plugins/wp-user-avatar/includes/class-wp-user-avatar-functions.php on line 668
Cancel Preloader

Jangan Terlena Dengan Kehidupan Dunia, Ini Cara Menghindarinya

 Jangan Terlena Dengan Kehidupan Dunia, Ini Cara Menghindarinya

Inilah Bukti Kesederhanaan Hidup Rasulullah

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Hidup di dunia ibarat seperti menumpang minum saja. Kita tidak akan berlama-lama tinggal di dunia ini dan akan kembali ke alam yang abadi yakni alam akhirat. Begitu juga dengan kenikmatan dunia berupa banyaknya harta, jabatan, dan rasa bangga berlebih akan banyaknya anak tidak akan kita bawa ke akhirat kelak.

Hal tersebut hanya bisa kita rasakan selama hidup di dunia saja dan saat meninggal hanyalah amal yang turut menyertai kita. Namun, selama ini tidak sedikit dari manusia yang meninggi-ninggikan hartanya, seolah harta adalah bagian dari kehidupannya yang tidak terpisahkan. Jika tidak ada harta, maka hidup rasanya hampa.

Padahal dari penggunaan harta yang tidak bijaklah, berisiko menjerumuskan kita ke lubang dosa. Di mana kita terlena menggunakan harta untuk memuaskan nafsu hingga lupa tentang urusan akhirat. Sebagaimana hadis Baihaqi dari Anas, Rasulullah saw bersabda:

“Tidakkah ada seorang pun yang berjalan di air kecuali tumitnya pasti basah? Demikian pula orang yang memiliki duniawi, ia tidak bisa selamat dari dosa-dosa”.

Oleh karena itu, kita harus bisa mengendalikan diri ini di tengah godaan duniawi yang mampu membuat terlena. Sehingga kita bisa menggunakan kenikmatan dunia secara seperlunya saja tanpa melupakan kewajiban kita terhadap Allah SWT.

Lalu, bagaimana caranya agar kita tidak terlena dengan kehidupan dunia?

Ingatlah Bahwa Hidup di Dunia Tidaklah Abadi

Kita harus selalu ingat bahwa apa yang kita nikmati di dunia tidak akan berlangsung lama. Jadi, jangan biarkan diri kita selalu bergantung dengan kesenangan dunia. Sebab jika kita sudah meninggal, maka semua yang kita miliki akan ditinggalkan begitu saja dan tidak akan bisa dibawa ke akhirat.

Hal ini pun sudah dijelaskan dalam surat Al-Hadid ayat 20:

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani.

Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.

Ingatlah Bahwa Apa yang Dimiliki di Dunia Hanyalah Titipan

Semua yang kita miliki di dunia adalah titipan dari Allah SWT dan harus kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Misalnya saja harta, untuk apa saja harta tersebut kita gunakan, apakah untuk kemaksiatan atau untuk kemaslahatan bersama. Kemudian anak yang kita lahirkan, apakah kita sudah mendidiknya dengan baik dan memenuhi semua hak-haknya atau belum.

Kesemua hal tersebut tidaklah boleh luput dari perhatian kita. Karena semua yang diberikan kepada kita di dunia adalah amanah dari Allah SWT untuk dijaga sebaik mungkin.

Terapkan Hidup yang Sederhana

Hidup sederhana bukan berarti hidup susah. Tetapi hidup yang tidak terlalu berlebih-lebihan. Karena dengan hidup sederhana inilah, kita bisa lebih menghargai apa saja yang ada di sekitar kita, lebih banyak melihat yang di bawah daripada yang di atas, dan semua yang dimiliki benar-benar akan diterima dengan penuh rasa syukur.

Bahkan hidup sederhana adalah sebentuk pembelajaran berharga bagi diri kita yang dijelaskan dalam hadis riwayat Abu Na’im dari Ali, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang sederhana terhadap dunia, maka Allah mengajarkannya sesuatu yang tanpa belajar, dan memberinya petunjuk tanpa hidayah secara langsung dan telah menjadikannya melihat, dan Allah membukakan daripadanya kebutaan”.

Melalui beberapa cara tersebut, mudah-mudahan kita bisa lebih bijak dalam menggunakan kenikmatan dunia dan dihindarkan dari keterlenaan yang hanya sesaat itu.

Widya Resti Oktaviana

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one + 8 =