Jadilah Pemimpin yang Ulama

 Jadilah Pemimpin yang Ulama

Santri turut andil dalam barisan pahlawan mempertahankan kemerdekaan Indonesia (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Menjadi seorang pemimpin (umara’) bukanlah suatu perkara yang mudah. Dibalik kata kepemimpinan terdapat beban besar yang harus dipenuhi. Pemimpin bukan hanya tentang jabatan namun juga tentang tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.

Umara’ menjadi istilah Alquran untuk menyebutkan para pemimpin masyarakat. Kata umara’ selalu disandingkan dengan kata ulama dalam kinerjanya. Pasalnya, dua unsur ini memang merupakan roda penggerak masyarakat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Kata umara’ merupakan serapan dari bahasa Arab, umara’ merupakan jamak dari kata amir yang berarti orang yang menyuruh atau orang yang memberikan perintah. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa umara’ adalah istilah lain untuk pemerintah yang mempunyai kekuasaan. Untuk membuat dan menerapkan sebuah peraturan atau hukum dalam sebuah masyarakat.

Penggunaan kata umara’ atau amir sering diaplikasikan untuk menyebutkan jabatan gubernur atau walikota di kota-kota besar di Saudi Arabia. Misalnya, seperti Amir Makkah, Amir Jeddah, Amir Riyadh dan kota-kota yang lain. Namun eksistensi dan tugas nya tetap masuk dalam wilayah pemerintahan.

***

Sementara ulama sendiri berasal dari kata Bahasa Arab, yaitu ‘Alim yang artinya mengetahui. Mengetahui di sini adalah paham terhadap ilmu-ilmu keislaman, memahami ilmu tata cara berhubungan dengan Allah SWT. sebagai pencipta serta memahami ilmu-ilmu bagaimana berhubungan dengan segala makhluknya.

Sementara Ibnu Abbas mendefiniskan seorang ulama sebagai hamba-hamba Allah yang mengetahui tentang Dzat, sifat-sifat dan kekuasaan Allah, taat kepada-Nya dan tidak pernah menyekutukan-Nya. Hanya menghalalkan yang dihalalkan Allah dan mengharamkan yang diharamkan Allah.

Selalu menjaga dan melaksanakan perintah-perintah-Nya, serta meyakini bahwa di akhirat nanti akan bertemu dengan-Nya. Dia-lah yang akan menghisab atau mengadili seluruh amal perbuatan manusia. 

Tanggung Jawab Umara’ dan Ulama 

Walaupun tugas dan wilayah umara’ dan ulama berbeda, namun mereka mempunyai tanggung jawab yang sama. Tanggung jawab umara’ dan ulama adalah membimbing masyarakat dan umat.

Umara’ bertanggung jawab membawa masyarakat yang dipimpinnya menuju kesejahteraan. Umara’ berkewajiban memperhatikan kegiatan dan kondisi masyarakat sebagai acuan dalam membuat keputusan dan peraturan dan tindakan terbaik bagi masyarakat.

Sementara ulama bertangung jawab untuk membimbing masyarakat secara batiniyah, membawa masyarakat untuk taat dan bertaqwa kepada Allah. Sebab, pada dasarnya ulama adalah pewaris para nabi dimuka bumi.

Jadi tugas ulama adalah menegakan syariat Islamiyah di masyarakat dan membimbing jalannya masyarakat pada jalan kebaikan. 

Pertanggung-jawaban umara’ dan ulama tidaklah selesai di dunia saja, pertanggung-jawabannya akan terus berlanjut sampai diakhirat kelak. Sebab memang semua keputusan dan kebijakan dua unsur ini berdampak dalam cakupan wilayah yang luas.

Oleh karena itu memang kualitas keilmuan dan pengetahuan umara’ dan ulama harus benar-benar kredibel, agar tidak membebani pihak umara’ – ulama dan pihak masyarakat luas. 

Menjadi Umara’ yang Ulama

Memang untuk membentuk sebuah masyarakat yang ideal unsur umara’ dan ulama harus berjalan secara berdampingan dengan saling melengkapi. Tujuannya agar kesejahteraan lahir batin dapat tercapai dengan maksimal.  

Pada dasarnya, salah satu tugas ulama adalah mengawasi laju kinerja dari umara’supaya setiap keputusan yang diambil tidak menimbulkan kesalahan bahkan kerusakan dalam masyarakat. Oleh karena itu keputusan yang dikeluarkan harus dipertimbangkan bersama antara ulama dan umara’. 

Namun tidak ada salahnya seorang umara’ itu juga seorang ulama, hal itu akan semakin menambah kualitas kepemimpinan umara’ dalam masyarakat. Sebab yang menjadi tolok ukur berkualitas tidaknya seorang pemimpin adalah ilmu dan pengetahuannya. 

Sebenarnya sudah menjadi syarat wajib bahwa seorang umara’ itu adalah orang yang berilmu dan berpengetahuan. Bukan tanpa alasan umara’ yang tidak berilmu hanya akan bertindak atas egonya sendiri dan dampak yang ditimbulkan adalah kedzaliman terhadap masyarakat.

Umara’ yang Alim

Umara’ yang alim akan berjalan sesuai koridor yang lurus, dengan mengetahui batasan-batasan apa saja yang boleh dilakukan dan yang harus ditinggalkan. Tentu saja umara’ yang alim akan lebih matang dalam mengambil keputusan karena pertimbangan yang diambil adalah berbagai sisi kehidupan. 

Selain itu umara’ yang alim akan lebih beradab dan beretika, seorang alim tidak akan bertindak berdasarkan nafsunya sendiri. Mentalnya sudah matang sebagai hasil dari proses mereka dalam mencari ilmu dan pengetahuan.  

Umara’ yang alim akan senantiasa bertaqwa dan takut terhadap Allah SWT. Dengan dasar itu, mereka tidak akan mungkin berbuat sesuatu yang zalim terhadap diri sendiri dan masyarakat karena merasa akan selalu diawasi oleh Allah SWT.

Dengan dasar pertanggung-jawaban atas amanah kepemimpinan yang akan terus dibawa sampai akhirat, menjadikan para umara’ akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.  Walaupun umara’ dan ulama adalah dua unsur yang tak terpisahkan namun tetap harus ada sosok umara’ yang ulama.

Oleh karena hal tersebut akan menjadi suatu kekuatan tambahan yang luar biasa untuk dapat mengantarkan masyarakat menuju kesejahteraan lahir dan batin.  

Andy Setiawan

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

19 − eight =