Israel Bebaskan Pemimpin Politik Palestina Raed Salah

 Israel Bebaskan Pemimpin Politik Palestina Raed Salah

Palestina Berduka: 8.900 Perempuan Dibunuh Israel di Tengah Peringatan Hari Perempuan Internasional (Ilust/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Pemimpin politik Palestina Sheikh Raed Salah telah dibebaskan dari penjara di Israel setelah menjalani hukuman selama 17 bulan atas tuduhan “penghasutan”.

Salah, seorang warga Palestina dan mantan kepala Gerakan Islam Utara, dibebaskan dari penjara Megiddo pada Senin pagi (13/12) di utara kota kelahirannya Umm al-Fahm, barat daya kota Nazareth.

Puluhan orang, termasuk keluarga, teman, dan pengikut berkumpul di sepanjang pintu masuk utama Umm al-Fahm dengan musik perayaan, spanduk, dan kotak permen untuk menyambut Salah sekembalinya ke rumah.

“Ini adalah perasaan yang bercampur antara rasa sakit dan kebahagiaan. Ada banyak rasa sakit – dia mengalami banyak ketidakadilan. Dia membayar harga tinggi dari hidupnya karena ketidakadilan yang dia alami oleh Israel,” Khaled Zabarqa, pengacara Salah, dilansir dari Al Jazeera, Selasa (14/12/2021).

“Dia adalah seorang Syekh bagi kita semua. Kita semua adalah Raed Salah. Laki-laki, perempuan dan anak-anak semua ada di sini untuk perayaan yang luar biasa ini untuk menyambutnya,” keponakannya, Muntaha Amara, mengatakan kepada media setempat.

Polisi Israel menangkap Salah pada Agustus 2017. Dia menghabiskan 11 bulan di balik jeruji besi tanpa dakwaan sebelum dia dibebaskan dan ditempatkan di bawah tahanan rumah yang ketat, termasuk mengenakan monitor pergelangan kaki, selama dua tahun sementara persidangannya berlanjut.

Pada Agustus 2020, Salah ditangkap kembali dan dijatuhi hukuman 28 bulan penjara – termasuk waktu yang dijalani – atas empat dakwaan dari 12 semula. Dia didakwa dengan tuduhan “hasutan untuk teror” dan mendukung organisasi terlarang – cabang utara Gerakan Islam di Israel.

Berdasarkan beberapa pidato publik dan posting Facebook, menurut pengacaranya.

“Penangkapan Syekh, hukumannya, dan berkasnya semuanya tidak adil. Dia ditahan dan dihukum berdasarkan kebebasan berbicara dan berpendapat dan keyakinannya – agamanya,” kata Zabarqa.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *