Islamofobia Menguat, Pemakaman Muslim di Prancis Kembali Dirusak

 Islamofobia Menguat, Pemakaman Muslim di Prancis Kembali Dirusak

Tiga Muslim AS Gugat Tuduhan Penargetan Muslim di Perbatasan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Komunitas Muslim di Prancis kembali dikejutkan dengan perusakan makam akibat Islamofobia. Kali ini menimpa pemakaman Muslim di Mulhouse, sebuah komune di departemen Haut-Rhin di Prancis timur.

Peruskan makam Muslim yang terjadi pada Minggu malam di pemakaman Muslim di kota itu ini bukan tindakan yang pertama. Tahun 2008 pernah juga terjadi peruskan makam pahlawan beragama Muslim.

Aksi perusakan dan tindakan vandalisme makam muslim ini mendapat kecaman dari Walikota Mulhouse Michele Lutz.

Walikota menyampaikan jika pihak berwenang akan mengusut tindakan ini. Berdasrkan temuan awal elemen dekorasi makam, bunga, vas, dan patung, berserakan di tanah di bagian pemakaman Muslim.

“Pemakaman adalah simbol yang harus dihormati. Saya mengerti bahwa keluarga terkejut dengan apa yang mereka lihat. Makam harus tetap menjadi tempat meditasi dan ketenangan,” kata Michele Lutz.

Selain Walikota, Bruno Fuchs yang merupakan Anggota parlemen Haut-Rhin dari Gerakan Demokratik juga mengutuk tindakan vandalisme. Ia menyatakan solidaritas dengan komunitas Muslim.

Masjid Menjadi Target Islamofobia

Bruno meminta agar para korban untuk pergi ke kantor polisi untuk mengajukan pengaduan, sehingga segera ditangani dan lebih mudah untuk diselidiki.

Menanggapi tindakan vandalisme, French Coucil of Muslim Worship (CFCM) mengecam keras penodaan kuburan Muslim.

Majelis Muslim mengatakan bahwa kuburan-kuburan itu hampir semuanya diobrak-abrik.

“CFCM mengungkapkan solidaritasnya dengan keluarga dan menyerukan otoritas publik untuk melakukan segala kemungkinan untuk menemukan pelaku tindakan hina ini,” kata dewan .

Prancis telah menyaksikan gelombang tindakan Islamofobia dalam beberapa bulan terakhir, dengan pelaku terutama menargetkan masjid.

Pada bulan November, dua masjid di Besencon dirusak; para penyerang menggunakan cat merah untuk menggambar salib Lorraine di dinding masjid.

Islamofobia dan Politik Prancis

Salib Lorraine melambangkan perlawanan Prancis terhadap pendudukan Nazi pada tahun 1940-an, menunjukkan bahwa pengacau dua masjid dipengaruhi oleh klaim sayap kanan bahwa Muslim “menyerang” Prancis.

Insiden seperti itu telah menjadi hal biasa di Prancis, asosiasi dan aktivis Muslim meminta keadilan untuk memastikan keamanan komunitas Muslim negara Eropa.

Sentimen anti-Islam telah lama menjadi penanda kehidupan politik Prancis dalam dua dekade terakhir. Tetapi tren tersebut telah memperoleh lebih banyak keuntungan secara politik dan legitimasi dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini karena kedua partai politik sayap kiri dan kanan tampaknya mendukung wacana yang sangat mirip tentang migrasi massal dan “separatisme Islam.”

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *