Cancel Preloader

Islam Nusantara

 Islam Nusantara

Wali Allah (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Islam itu hanya satu. Islam, ya Islam. Seiring berjalannya waktu, saat kaum Muslimin menyebar ke seluruh penjuru dunia, maka muncullah identitas tampilan yang beranekaragam dari kaum muslimin itu sendiri.

Hal itu akibat dari budaya setempat yang berbeda-beda. Misalnya, tradisi Muslim di Arab, berbeda dengan Islam di Afrika, berbeda dengan Islam di Amerika, di India, dan seterusnya.

Perbedaannya tentu saja bukan dalam hal yang qoth’ie melainkan pada praktik kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam hal akhlak, busana, dan tata cara hidup.

Sebagai misal, di Indonesia, terdapat budaya Islami yang tidak terdapat di negara lain. Contohnya, pada saat bulan Ramadhan dan sebelum maupun sesudahnya, ada tradisi bancakan, nyadran, padusan, mengenakan mukena, ngabuburit, imsya’, punjungan, halal bi halal, lebaran ketupat, dan lain-lain.

Semua itu terjaga dengan baik, sebab para Ulama berhasil memasukkan nilai-nilai Islam dan kehidupan sehari-hari sehingga ajaran Islam mudah diserap dan dilaksanakan. Bahkan oleh orang paling awam sekalipun.

Ulama sebagai Pemimpin Tertinggi di Indonesia yang Mengedepankan Toleransi

Di Indonesia, kekuasaan tertinggi kaum Muslimin berada di tangan Ulama yang menyebar di seantero Nusantara yang sangat menghargai perbedaan furu’iyah. Tidak pernah berusaha untuk mempertentangkan ijtihad satu ulama dengan ulama lainnya. Bahkan para Ulama saling berguru antara satu dengan lainnya.

Berbeda dengan banyak wilayah di dunia lain, Islam muncul sebagai produk yang direkatkan oleh kekuasaan, dan sifat ashobiyahnya sangat kental. Sehingga seperti membentuk faksi-faksi yang lepas satu sama lain, dan berusaha saling menaklukkan.

Kepemimpinan juga dipegang oleh ulama sentral atau pemimpin kelompok yang mempunyai nilai fanatik yang sangat besar. Jadi, pada saat ada perbedaan pendapat atau kepentingan, sangat mudah untuk dibenturkan satu sama lain. Rentan terjadi konflik bersenjata.

Arab spring telah membuktikan bahwa wajah Arab di Timur Tengah mudah dibuat rapuh dan tercerai berai. Sementara di Indonesia, wajah Islam justru tampil dengan wajah yang ramah, toleran, terbuka, dinamis, dan bisa mewadai semua golongan.

Sehingga terlalu sulit untuk melakukan politik pecah-belah. Inilah yang sangat mengagumkan banyak kalangan di luar Islam.

Islam Nusantara Hanya Identitas

Islam Nusantara akhirnya dipilih sebagai identitas saja untuk membedakan karakter, bukan keinginan memisahkan diri dari islam itu sendiri. Islam Nusantara tidak bermakna adanya Islam Malaysia, Islam Cina, Islam Inggris, dan seterusnya.

Islam Nusantara hanyalah sebuah sebutan saja, yang merupakan identitas unik dari perjalanan panjang Islam di wilayah Nusantara sejak awalul Muslimin hingga hari ini.

Oleh karena Islam Nusantara sangat damai dan toleran, maka hal ini sangat tidak disukai oleh banyak kalangan. Sebab itu, muncullah gerakan yang hendak mengoyak kerukunan kaum muslimin.

Maka diciptakanlah gerakan Syiah Bukan Islam, Ahmadiyah Bukan Islam, NU ahli Bid’ah, dan seterusnya. Bahkan dikatakan bahwa Islam Nusantara hanya istilah untuk menghaluskan Gerakan Islam Liberal.

Islam di Nusantara Diakui Dunia

Islam Indonesia itu sudah ada istilah dari jaman dulu, bahkan Mbah Wali Gus Dur pernah dawuh, ” Kita ini orang Indonesia yang beragama Islam. Bukan orang Islam yang kebetulan di Indonesia.” Kita mengenal Pancasila, Departemen Agama, KUA, dan lain-lain.

Istilah Islam Indonesia itulah yang kita kenal saat ini dengan sebutan Islam Nusantara. Mengapa diubah Islam Nusantara? Oleh karena itu sebenarnya ada makna yang hendak disampaikan, Islam Nusantara sama dengan NU, SANtri, dan tenTARA. Ketika ketiganya bersatu, maka Indonesia tidak akan tergoyahkan.

Islam Nusantara mencengangkan dunia karena sifat toleran dan moderatnya. Maka tak heran jika NU pernah menjadi satu-satunya Ormas Islam di dunia yang didaulat untuk menyampaikan pidato di depan Sidang PBB di New York. Sebab NU dipilih mewakili wajah Islam yang teduh, rahmatan lil ‘alamin.

Hal ini membuat banyak kalangan tidak suka dan berusaha mengadu domba NU dengan kaum Muslimin lainnya di Indonesia. Oleh sebab itu, kita wajib waspada adu domba tersebut.

Islam tetap saja Islam, hanya satu dan satu-satunya. Islam Nusantara hanyalah sebuah istilah, tidak hendak mencipta firqoh. Namun hanyalah sebuah penegasan akan sebuah karakter di sebuah wilayah yang mencerminkan wajah tersendiri. Insyaallah kelak akan diterima dan dijadikan rujukan oleh seluruh kalangan di muka bumi ini.

Shuniyya Ruhama

Shuniyya Ruhama

Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri-Kendal

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

nine − one =