Iradah dan Ridha Allah

 Iradah dan Ridha Allah

Iradah dan ridha Allah (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Dua hal mengenai iradah dan ridha Allah ini sering dicampur aduk oleh nafsu seseorang sehingga akalnyapun ikut bingung.

Para ulama telah memberi garis pemisah yang jelas antara keduanya, tapi nafsu terus mengajak agar keduanya dicampur aduk. Dia pun akhirnya kebingungan sendiri dalam menentukan sikap.

Iradah adalah sifat Allah yang mutlak dan mencakup segalanya. Di mana dengan sifat ini Allah menentukan kapan terjadinya sesuatu, bagaimana prosesnya, bagaimana hasilnya, di mana tempatnya, bagaimana kualitas dan kuantitasnya dan seterusnya.

Jadi, segala kejadian di dunia ini, apa pun itu adalah hasil dari iradah Allah. Namun iradah ini adalah wilayah Tuhan, tidak ada sangkut pautnya dengan manusia kecuali bahwa manusia harus meyakini keberadaannya.

Sedangkan ridha bukanlah sifat yang melekat pada Allah, ia adalah istilah untuk menunjukkan bahwa tindakan baik atau ibadah manusia direstui oleh Allah. Setiap kali manusia menjalankan perintah Allah dengan baik, maka Allah akan ridha dan memberikan pahala kepadanya.

***

Sebaliknya, setiap kali manusia berbuat jahat atau maksiat, maka Allah akan memberinya kemarahan berupa hukuman. Inilah wilayah yang menjadi urusan manusia.

Namun nafsu selalu saja membawa-bawa aspek ridha yang merupakan wilayah urusan manusia ini ke aspek iradah yang sebenarnya bukan urusannya. Ketika dia melakukan pelanggaran, maka nafsunya akan berbisik bahwa pelanggaran ini pun sebenarnya iradah Allah.

Sebaliknya, ketika para ulama menjelaskan aspek iradah, maka nafsunya akan berbisik mengingatkan bahwa maksiatnya juga masuk di bawah aspek itu.

Orang yang bodoh akan temakan hasudan nafsu itu dan dia merasa benar dengan itu, padahal dia semakin tersesat jauh sekali. Nabi Muhammad pernah sangat marah pada beberapa sahabat yang membahas takdir (aspek iradah) tidak pada tempatnya.

Orang yang mengikuti nafsunya mencampur aduk kedua aspek ini sejatinya mengikuti jejak orang-orang musyrik yang disinggung dalam surat al-An’am: 148.

Mereka merasa benar ketika berkata bahwa seandainya Allah berkehendak tentu mereka dan leluhur mereka tidak akan musyrik. Betapa bodohnya mereka ini yang membawa-bawa iradah dalam bab ridha.

Aspek iradah bukan pada tempatnya dibahas atau dicampur aduk pada aspek ridha. Hanya ridha Allah lah yang perlu menjadi perhatian kita sebab di bagian ini kita dituntut bertanggung jawab.

Abdul Wadud Kasyful Humam

Dosen di STAI Al-Anwar Sarang-Rembang

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

8 + 14 =