IPNU Luruskan Kesalahpahaman Film The Santri

 IPNU Luruskan Kesalahpahaman Film The Santri
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Wakil Ketua IPNU Kota Yogyakarta, Didi M Hadi, meluruskan pemahaman tentang film “The Santri” yang dianggap liberal dan menyimpang dari nilai-nilai tradisi pesantren.

Menurutnya, kecaman ini terlalu terburu-buru tanpa adanya analisis yang matang. Karena film The Santri sendiri belum tayang, otomatis mereka belum melihat secara utuh film tersebut. Sehingga tidak sepantasnya kecaman itu dilontarkan.

Meskipun kecaman itu berdasarkan trailer yang beredar, tidaklah tepat berkomentar negatif terhadap film The Santri dengan mengatakan tidak mendidik dan cenderung liberal. Karena yang di tampilkan di trailer tersebut di antaranya yaitu potret santri yang sedang berlatih silat, kibaran bendera merah putih, shalat berjamaah, kegiatan santri yang sedang mengaji, ketulusan cinta, dan terdapat adegan menghormati agama lain.

“Dari sekian adegan itu, tidak ada satu pun adegan yang tidak mendidik dan liberal. Sebaliknya, berbagai adegan itu memiliki nilai-nilai positif yaitu nilai nasionalisme, perjuangan, religiusitas, toleransi, optimisme, dan nilai ketulusan persahabatan santri,” tegasnya, dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (17/9/2019).

Kecaman atau penolakan terhadap penayangan film The Santri itu berawal dari ketua Front Santri Indonesia (FSI) Hanif Alathas yang merupakan menantu dari Rizik Sihab Imam besar Front Pembela Islam (FPI), serta dalam poster yang diutarakan Luthfi Bashori pengasuh pondok pesantren Ribath al Murtadho al Islami Singosari Malang, yang kemudian diikuti oleh netizen yang tidak tahu menahu soal film tersebut.

Pada kesempatan itu, Wakil Ketua IPNU Kota Yogyakarta itu juga menegaskan bahwa seharusnya pihak yang mengecam dan berkomentar negatif terhadap film The Santri mengamati terlebih dahulu film tersebut setelah tayang Oktober mendatang. Selain itu perlu juga mengklarifikasi kepada produsen dan team creative film tersebut. Setelah itu semua dilakukan, barulah berkomentar terhadap film ini.

“Jika belum pernah menonton dan mengamati betul film ini maka komentar itu hanyalah berdasarkan halusinasi dan pengamatan yang dangkal,” jelasnya.

Perlu dikethui, dalam pandangannya, film itu mengangkat derajat santri yang selama ini dipandang sebelah mata dan diremehkan oleh sebagian kalangan karena terkesan kolot dan jadul menjadi modern dan kaya akan prestasi.

“Santri mampu bersaing bukan hanya di tingkat lokal tetapi santri mampu ber
saing di tingkat internasional. Jadi komentar negatif soal film The Santri merupakan sesat fikir karena pada realitanya jauh dari apa yang ditudingkan,” pungkasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twelve − 10 =