Inilah Nasihat Buya Hamka Untuk Generasi Muda

 Inilah Nasihat Buya Hamka Untuk Generasi Muda

Buya Hamka (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Tak diragukan lagi, Buya Hamka merupakan sosok tokoh agama yang sekaligus nasionalis. Ia juga adalah tokoh inspirasi bagi semua kalangan. Ketinggian ilmunya, kontribusi perannya, dan macam-macam karyanya selalu dapat memukau setiap orang yang melihatnya.

Semasa hidupnya, Buya Hamka telah banyak menghasilkan karya yang tentunya sarat akan makna dan nasihat bagi siapa saja yang menikmatinya. Salah satu karya terbaiknya ialah novel yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang tentunya tidak asing lagi bagi semua orang, yang kemudian diangkat menjadi sebuah film.

Terlepas dari hal itu, ternyata kepeduliaannya terhadap generasi muda tak dapat dipandang sebelah mata. Ia menaruh perhatian yang sangat tinggi kepada mereka, yang mana kelak akan menjadi penerus kendali bangsa.

Hal itu ia tunjukkan melalui ucapannya yang mengatakan bahwa, “Saya lebih senang dan merasa lebih berfaedah berhadapan dengan dua orang pemuda yang bersemangat dan bercita-cita, yang senantiasa resah dan gelisah, yang tiada merasa puas, yang hendak memahat batu dan yang berkata : inilah saya!”

Jangan Ragu Berlaku “Gila”

Optimisme Hamka kepada generasi muda sangat tampak dalam ucapannya itu. Ia yakin bahwa generasi muda mampu membuat perubahan yang mendasar.

Ucapan tersebut kiranya tak hanya berupa kalimat yang biasa. Jika dipahami lebih dalam, agaknya Hamka sangat mendambakan sosok pemuda yang mana ia dapat berdikari, yang selalu menciptakan inovasi dan semangat membuat gebrakan untuk sebuah kemajuan.

Ini yang kemudian menjadi cambukan bagi para generasi muda penerus bangsa. Agar jangan terlena dengan semua fasilitas yang dapat dengan mudah dinikmati, tapi teruslah belajar untuk mengembangkan kemampuan diri sehingga dapat berkontribusi untuk negeri.

Sehubungan dengan hal itu, maka tak ayal jika Hamka begitu tegas kepada para pemuda untuk jangan ragu berlaku “gila”. Karena menurutnya, dengan kegilaan itulah akan mucul gebrakan-gebrakan yang gila pula.

Hal tersebut selaras dengan apa yang dikatakan Bertrand Russel, ia mengatakan “jangan takut memiliki pemikiran-pemikiran gila, karena setiap pemikiran yang saat ini diterima; dulunya juga dianggap gila.”

Seorang pemuda bukanlah ia yang selalu membanggakan orang tuanya. Tapi merekalah yang berani tampil tanpa membawa nama besar keturunannya. Seperti dikatakan dalam sebuah ungkapan bahwa “bukanlah seorang pemuda, yang mengatakan ini bapak saya, akan tetapi yang dikatakan pemuda ialah yang mengatakan bahwa “inilah saya!”

Dalam ungkapan lain disebutkan bahwa “pemuda masa kini adalah pemimpin di masa depan”. Kiranya cukuplah semua nasihat itu guna memperbaiki keadaan generasi muda di masa sekarang. Sudah seharusnya generasi muda jangan terlena dengan segala kemudahan yang didapatkan.

Marilah menjadi generasi muda yang dicintai Allah, yang mana seperti disebutkan dalam sebuah hadits yang artinya “pemuda yang berakhlak baik, lebih dicintai Allah daripada orang tua ahli ibadah yang kikir lagi berakhlak buruk.” (Riwayat Ad-Dailami melalui Ibnu Abbas)

Rasanya jika akhlak, ilmu, dan semua potensi dikembangkan pada setiap generasi muda; niscaya mereka akan lebih sibuk mengembangkan dan memperbaiki dirinya untuk kemaslahatan umat dan negaranya dibanding menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya.

Pahami Sikap dan Peran

Dalam kesempatan lain, Hamka mengingatkan akan pentingnya paduan peran antara generasi tua dan generasi muda. Kalau bahasa gaulnya, generasi muda simbolnya ngegas, generasi tua simbolnya ngerem.

Tatkala perjalanan terus ngegas tanpa mengerem, maka akan celaka. Begitupun jika kita terus ngerem, maka tak ada kemajuan. Inilah yang ditekankan Hamka, agar peran yang muda dan yang tua harus setara. Sehingga menciptakan keharmonisan dalam kehidupan.

Berkenaan dengan hal itu, ia mengatakan “kerapkali orang tua menyesali pemuda, menuduhnya bekerja terburu-buru dan kurang berpikir. Kerapkali orang muda menuduh orang tua lamban, lambat bertindak dan terlalu banyak berpikir. Alangkah sibuknya dunia kalau pimpinan hanya di tangan yang muda-muda.

Dan dunia akan membosankan karena lamban geraknya, kalau yang memimpin hanya yang tua-tua. Gabungan antara gelora semangat muda dengan renung pikiran yang ua itulah yang menimbulkan keseimbangan dalam perjalanan hidup.”

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

thirteen + 3 =