Inilah Makna Hadis ‘Sampaikan Walau Satu Ayat’

 Inilah Makna Hadis ‘Sampaikan Walau Satu Ayat’

Khotbah Jumat  (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Pasti yang dimaksud dengan perintah ‘sampaikan’ di hadis ini bukan sekadar memperkenalkan keberadaan suatu ayat. Sebab keberadaan seluruh ayat Alquran pastinya sudah ada lengkap di dalam mushaf, dan umat Islam sudah tahu semua, meski tidak hafal, tapi etidaknya bisa baca di mushaf.

Maksud dari perintah untuk menyampaikan suatu ayat pastinya tidak bisa terlepas dari ilmu tafsir. Sebab ilmu resmi yang tugasnya membedah ayat Alquran itu namanya ilmu tafsir.

Ilmu tafsir itu sendiri ada literaturnya, apalagi cocokologi. Bukan hanya itu, tapi juga ada kampusnya, ada dosennya bahkan ada profesor ahli yang pakar di bidangnya.

Sebab menafsirkan ayat Alquran itu haram dan berdosa besar kalau hanya mengandalkan hasil karangan sendiri. Siapa yang memberi hak main tafsir-tafsirkan sendiri firman Allah yang suci.

Kalau setiap orang boleh main tafsir ayat seenak waduknya sendiri, kenapa nggak dibuang saja Alquran itu? Buat apa mengutip ayat tapi pengertiannya diplintir seenak udel?

***

Lalu siapakah orang yang berhak untuk menafsirkan ayat Alquran? Tentu saja Nabi Muhammad Saw. Beliaulah orang yang kepadanya diturunkan Alquran dan beliau pula yang diberi hak preogratif untuk menjelaskan isinya.

Maka pada dasarnya, tugas menjelaskan suatu ayat itu tugas seorang Nabi SAW. Sepanjang 23 tahun beliau tidak pernah berhenti menjelaskan dengan tekun, rajin dan sabar kepada para sahabatnya.

Memang beliau Saw tidak menulis buk, tapi beliau sudah mendidik para murid sebagai ahli tafsir. Sehingga ilmu dari Beliau Saw ada di tangan murid-muridnya.

Memang tidak semua shahabat itu ahli tafsir, tapi ada beberapa nama mereka yang amat familiar sebagai ahli tafsir.

Misalnya Ibnu Abbas radhiyallahuanhu. Sejak kecil sudah didoakan untuk jadi ahli tafsir dengan lafazh terkenal:

اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل

“Ya Allah, jadikan dia paham dalam agama dan ajarkan ilmu takwil.”

Selain Ibnu Abbas, ada juga Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Ubah bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit. Bahkan empat Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali serta para ummahatul mukminin seperti Aisyah, Ummu Salamah, dan lainnya.

***

Dari mulut mereka itulah kita tahu hal-hal apa saja yang terkait dengan suatu ayat. Sebab mereka memang murid langsung dari nabi Saw.

Lalu generasi para shahabat ini punya banyak murid, yang mana para murid ini tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Saw. Murid-murid itu disebut para tabi’in. Kepada mereka itulah kemudian ilmu tentang suatu ayat dititipkan.

Lalu murid di kalangan tabi’in itu pun punya murid lagi, yang tidak pernah ketemu nabi atau pun sahabat, mereka hanya ketemu dengan para tabi’in. Mereka disebut dengan tabi’ut-tabi’in. Setelah generasi tabi’ut-tabi’in inilah kemudian semua ilmu itu mulai dituksikan dalam bentuk kitab tafsir yang tebal.

Awalnya kitab tafsir itu masih bagian dari kitab hadits tematik yang isinya penjelasan terkait suatu ayat. Lama kelamaan, kitab tafsir sudah melepaskan diri dari gugusan kita hadits dan menjadi genre kitab tersendiri yang disebut kitab tafsir.

Lalu, ketika mau menjalankan perintah Nabi Saw di atas, yaitu menyampaikan penjelasan suatu ayat. Setidaknya harus sudah belajar apa yang sudah diajarkan para tabi’ut-tabi’in, dari tabi’in, dari shahabat dari Rasulullah Saw.

Biar tidak sembarangan dan cocokologi. Masalahnya, apakah kita mampu membaca kitab tafsir karya para ulama yang berisi penjelasan dari para ahli tafsir?

Ahmad Sarwat

Pendiri Rumah Fiqih Indonesia

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one + fifteen =