Inilah Bukti Kesederhanaan Hidup Ala Rasulullah

 Inilah Bukti Kesederhanaan Hidup Ala Rasulullah

Inilah Bukti Kesederhanaan Hidup Rasulullah

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Tolok ukur dari kebahagiaan hidup tidaklah selalu dengan harta. Selama ini sebagian besar orang berpandangan bahwa harta adalah segalanya yang mampu menjamin kebahagiaan di dunia ini.

Uang memanglah penting karena mampu mendukung kita untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, uang tidak selamanya mampu menciptakan sebuah ketenangan hidup atau kebahagiaan bagi pemiliknya.

Hal tersebut telah dibuktikan oleh Nabi kita Nabi Muhammad Saw. Siapa yang tidak kenal dengan beliau? Sosok manusia sempurna yang diciptakan Allah SWT dengan segala budi pekerti yang terbaik, pemimpin umat Islam, bahkan saking mulianya beliau, Allah SWT sudah menjaminkan surga untuk beliau.

Meskipun keberadaan beliau sangatlah dikenal, memiliki posisi yang tinggi, bahkan adalah seorang utusan Allah SWT sebagai pencipta alam semesta, hidup dalam kesederhanaan menjadi ciri khas tersendiri dari seorang Nabi Muhammad saw.

Beliau bukan seorang yang gila harta. Namun di balik kesederhanannya, beliau mampu membangun keluarga yang bahagia dan saling menyayangi.

Lalu, bukti apa sajakah yang bisa ditunjukkan tentang kesederhanaan Nabi saw?

Nabi Saw Menolak Tawaran Emas Sebanyak Butiran Pasir dari Allah SWT

Apa yang Anda lakukan jika suatu waktu ditawari dengan uang segepok? Tidak sulit di zaman sekarang ini untuk menemukan orang-orang yang silau dengan harta. Namun, ini tidaklah berlaku untuk beliau. Allah SWT pernah menawari beliau dengan emas sebanyak butiran pasir di gurun Kota Makkah.

Jika ingin segera kaya raya dan menikmati kekayaan tersebut, mudah saja untuk menyetujuinya. Namun, hal ini tidaklah berlaku pada Nabi saw. Nabi saw pun menjawab tawaran dari Allah SWT.

Tidak, Ya Tuhanku. Lebih baik aku lapar sehari dan kenyang sehari. Bila kenyang aku bersyukur memuji dan memuja-Mu, dan jika lapar aku akan tetap meratap berdoa kepada-Mu.”

Ini membuktikan bahwa Nabi saw bukanlah sosok yang selalu silau dengan harta, sehingga tidak mudah bagi beliau untuk menerima pemberian harta tersebut.

Nabi saw Tidur Beralaskan Tikar yang Kasar

Di zaman Nabi saw ada banyak orang yang memiliki posisi tinggi seperti raja-raja yang bergelimang harta dan pastinya untuk tempat tidur pun sudah terjamin kenyamanannya. Meskipun Rasulullah saw adalah seorang Nabi yang disegani oleh banyak umatnya, namun hal tersebut tidak lantas membuat hidup Nabi saw diliputi dengan harta yang melimpah dan kemewahan.

Hal ini dibuktikan dari Umar bin Khattab sendiri yang melihat Nabi saw tidur di atas sebuah tikar kasar dan hanya berselimutkan dengan kain sarung. Kemudian Umar bin Khattab melihat ada bekas guratan tikar yang ada di tubuh Nabi saw.

Kemudian Umar juga mengalihkan pandangannya ke sekitar rumah Nabi saw. Dilihatnya segenggam gandum, daun penyamak kulit, dan satu helai kulit binatang. Dari kesederhanaan hidup yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad saw inilah Umar bin Khattab tidak bisa menahan tangisnya. Nabi saw pun bertanya kepada Umar kenapa dirinya sampai menangis. Dan Umar bin Khattab menjawab:

Bagaimana aku tidak menangis, ya Rasul. Di pinggangmu tampak bekas guratan tikar, dan di kamar ini aku tidak melihat apa-apa, selain yang telah aku lihat. Sementara raja Romawi dan Persia bergelimang buah-buahan dan harta, sedang engkau utusan Allah SWT.”

Nabi saw Tidak Meninggalkan Harta Benda Saat Wafat

Bukti akan kesedehanaan Nabi saw selanjutnya adalah saat beliau wafat tidaklah meninggalkan harta benda untuk seluruh umatnya. Tetapi beliau meninggalkan Al-Quran dan sunnah. Beberapa kali beliau juga selalu mengingatkan kepada setiap umatnya agar tidak berpandangan bahwa kesenangan yang ada di dunia ini adalah tujuan hidup.

Dunia ini diibaratkan sebagai tempat untuk berhenti atau mampir sejenak dan setelah itu kita akan kembali ke kehidupan yang abadi yakni di alam akhirat. Sehingga harta yang berlimpah hanyalah akan digunakan di dunia saja, sedangkan ketika sudah kembali kepada-Nya maka harta tersebut tidak akan dibawa dan tidak berguna lagi.

Dengan begitu, melalui kesederhanaan yang diterapkan oleh Nabi saw tersebut bisa menjadi contoh bagi kita semua. Kita bisa mempergunakan harta di dunia ini secara bijak dan janganlah menjadi orang yang berlebihan. Kita harus bisa membedakan mana hal yang dibutuhkan dan yang diinginkan. Tentunya haruslah mendahulukan barang-barang yang dibutuhkan daripada yang diinginkan.

Sehingga kita pun tidak akan diperbudak oleh nafsu yang akan membawa kita kepada hidup yang konsumtif dan lebih mementingkan dunia ketimbang akhirat.

Widya Resti Oktaviana

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

10 − six =