Cancel Preloader

Ini Kata Gus Baha Tentang Hukum Hutang Bank

 Ini Kata Gus Baha Tentang Hukum Hutang Bank

Hukum Hutang

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Masalah hukum hutang ke bank jika dibahas terus menerus seolah tidak ada solusinya. Sebagaimana halnya dahulu saat muktamar NU dan Muhammadiyah.

Gus Baha dalam kajiannya membahas mengenai hukum hutang ke bank. Ia menuturkan bahwa hukum berhutang kepada bank ada tiga, yakni Haram, Halal dan Syubhat.

“Ada yang menyatakan dengan tegas itu haram. Kemudian ada lagi yang mengatakan secara ngawur, bahwa itu halal. Ada lagi yang ketiga dengan kehati-hatian, mengatakan bahwa itu syubhat,” ujar Gus Baha dalam kajiannya tahun 2010 yang hingga kini masih relevan di tahun 2020.

“Dari dulu begitu, mulai muktamar pertama 26 sampai sekarang, tetapi barokahnya dibahas malah menjadikan intelek karena kiai-kiayi yang lugu-lugu itu bertanya,” imbuh Gus Baha di hadapan santri.

“Akhirnya ada pakar bank yang menjelaskan, berarti beda dengan bank jaman dulu. Ini lumayan memberikan pemahaman kiai-kiai lugu itu,” lanjut kiai muda asal Rembang tersebut.

Mengapa Riba Dihujat?

Dulu, Gus Baha sempat beberapa kali ikut mempertanyakan mengapa riba begitu dihujat. Menurutnya, ternyata riba memiliki kaitan dengan keadaan orang fakir yang berhutang kepada orang kaya agar bisa makan.

“Misal saya hutang ke Anda 100ribu untuk makan, janjinya seminggu dibayar tapi ternyata tidak bisa bayar jadi ditambah bunganya menjadi 120ribu sampai 140ribu. Intinya riba itu kemudian dihujat Allah. Kenapa menghutangi orang miski kok berharap bunga, itu sama dengan pemerasan,” jelas Gus Baha.

Riba menjadi dihujat karena menzalimi kaum fakir. Mereka meminjam uang hanya untuk makan, maka tidak boleh dizalimi atau dikenakan bunga dalam pinjamannya.

Namun pihak bank akhirnya membalikkan hal tersebut sehingga orang miskin menjadi tidak bisa meminjam uang di bank karena, syarat utamanya harus memakai jaminan. Inilah yang akhirnya memberikan kesimpulan bahwa hanya orang kaya yang bisa meminjam di bank.

Pihak bank menjelaskan kepada kiai, bahwa uang bank adalah uang negara sehingga hanya orang-orang yang berpunya yang bisa meminjam di bank. Jika berhutang di bank diharamkan karena bunga, berarti mengembalikannya apa adanya sehingga negara tidak mendapatkan keuntungan.

Gus baha tidak memberikan fatwa hukum riba, tetapi ia menganjurkan agar menggunakan Muamalah Riba demi kebaikan Umat. Menurut Gus Baha, sebaik-baik kalian adalah yang apabila bayar hutang dilebihkan.

Pipit Enfiitri

Pipit Enfiitri

https://hidayatuna.com/

Suka menulis hal-hal random yang dekat dengan dirinya.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × 3 =