Ini Jawaban Allah atas Pertanyaan Nabi Musa

 Ini Jawaban Allah atas Pertanyaan Nabi Musa

Kisah Nabi Musa dan Laut Merah di Gunung Sinai, Mesir (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Alquran terdiri dari seperangkat kisah-kisah yang memudahkan setiap orang untuk memahami dan mengambil pelajaran darinya.

Kewahyuan Alquran tidak hanya berdasarkan nilai kesusatraan yang tinggi akan tetapi juga muatan nilai-nilainya dari kisah-kisah yang digambarkan didalamnya.

Salah satu kisah dalam Alquran tersebut adalah pencarian dan dialog yang dilakukan Nabi Musa dengan Allah.

Sebagai salah seorang Nabi pilihan yang menerima wahyu langsung dari Allah (Kalimullah). Kisah beliau begitu banyak diceritakan dalam Alquran. Setidaknya ada 136 kali penyebutan nama Nabi Musa dalam Alquran.

Dialog Nabi Musa dengan Allah SWT.

Nabi Musa memiliki sifat dan ketabahan yang sangat luar biasa dalam menyebarkan agama Allah. Dialog dengan Allah menjadi bagian tidak terpisahkan diantara salah satu keistimewaan Nabi Musa.

Imam Ghazali menceritakan dalam salah satu kitabnya Mukasyafatul Qulub perihal suatu hal yang teramat penting. Seandainya umat manusia dapat mengambil pelajaran dan mengamalkannya maka kedamaian akan tercipta di dunia ini.

Nabi Musa pernah bertanya kepada Allah “Wahai Allah, aku telah melaksanakan ibadah yang engkai perintahkan. Manakah diantara ibadahku yang paling engkau senangi?”

Allah menjawab “Shalat itu untuk keperluanmu sendiri. Karena salat membuatmu terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.” Nabi Musa melanjutkan tanyanya “Apakah dzikirku?”

Kemudian Allah menjawab “Dzikir membuat hatimu menjadi tenang, maka dzikir juga untuk dirimu sendiri.”

Berbuat Baik kepada Orang Lain

Belum puas dan justru penasaran Nabi Musa bertanya Kembali “Apakah puasaku atau kurbanku?” Allah menjawab “Puasamu itu hanya untukmu saja. Sebab puasa melatih diri dan mengekang hawa nafsumu. Kurbanmu berguna menjinakkan nafsumu.”

“Lantas ibadah apa yeng membuat engkau senangi ya Allah?” Tanya Musa dengan kesungguhan.
Allah menjawab “Sedekah. Membahagiakan orang yang sedang kesusahan dan hancur hatinya, sesungguhnya aku berada di sampingnya”.

Sedekah dalam konteks ini adalah memberikan harapan, kebahagiaan bahkan kelangsungan hidup orang lain. Ibadah sedekah tidak hanya berdampak bagi diri sendiri tetapi juga orang lain.

Dalam konteks ini Habib Husein Jafar menyampaikan bahwa ibadah paling mulia adalah meniupkan kebahagiaan dalam hati orang lain. Yaitu dengan memelihara hubungan baik dengan orang lain, lebih dari ibadah ritualistic semata.

Bukan berarti ibadah ritulistik tidak penting, tentu sangatlah penting. Maka dari itu kemudian ditingkatkan dan disempurnakan dengan berbuat baik kepada orang lain.

Dawamun Niam Alfatawi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

sixteen − 12 =