Imam Nawawi “Sang Muara Sanad Ulama Indonesia”

 Imam Nawawi “Sang Muara Sanad Ulama Indonesia”
Digiqole ad

            HIDAYATUNA.COM – Syekh Nawawi Atau dikenal dengan Imam Nawawi al Bantani, beliau adalah seorang Imam Masjidil Haram yang berasal dari Indonesia, tepatnya beliau lahir pada tahun 1813 M di kampung Tanara, Tirtayasa, Serang, Banten dan wafat pada tahun 1897, beliau dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi. Ayahnya adalah seorang pejabat penghulu di Banten bernama Kiai umar bin Arabi. Dari silsilahnya, beliau adalah keturunan kesultanan ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari Putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I). Nasabnya bersambung ke Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far Assidiq, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ali Zain Al-Abidin, Sayyidina Husain, Fatimah Al-Zahra.

            Ia mulai menuntut ilmu tiga tahun di Jawa Timur, lalu ke pondok di daerah Cikampek/Karawang untuk belajar lughat (bahasa). Ia berguru kepada Syeikh Baing Yusuf putra RA Jayanegara yang masih keturunan Prabu Siliwangi Raja Pajajaran. Pada usia 15 tahun tepatnya pada 1828, Syekh Nawawi Banten mendapat kesempatan untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji.  Disana ia memanfaatkan waktunya utnuk mempelajari berbagai cabang ilmu, diantaranya ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu Hadist, tafsif dan Fiqih. Pada tahun 1833 M, ia kembali ke daerahnya dan membantu ayahnya mengajar para santri. Namun beberapa tahun kemudian ia berangkat lagi ke Mekkah sesuai dengan impiannya utnuk mukim dan menetap di sana.

            Pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syekh Ahmad Khatib Sambas dan Syekh Abdul Gani Bima, Syekh Junaid al Batawi, Syekh Mahmud bin Kinan al-Falimbani dan lain-lain. Saat di Madinah ia belajar pada Syekh Muhammad Khatib Al-Hambali. Kemudian pada tahun 1860 ia mulai mengajar di lingkungan Masjidil Haram. Salah satu kolega Syekh Nawawi adalah Syekh Husain ibn ‘Umar al-Falambani, pengarang kitab Fath al-Majid ‘ala jauharah al-Tauhid yang syarhnya dalam bahasa jawa beraksara Arab (pegon).

            Imam Nawawi mengajar di salah satu pintu Masjidil Haram dan di perguruan tinggi Dar ‘al-‘Ulum, Mekkah, serta pernah memberikan pengajian di Masjid al-Azhar, Mesir atas undangan Syekh Ibrahim al-Bayjufri, mufti agung Mesir. Karena kemasyhurannya ia mendapat gelar Sayyid Ulama Al-Hijaz, Al-Imam Al-Muhaqqiq wa Al-fahhamah Al-Mudaqqiq, A’yan Ulama Al-Qarn Al-Ram Asyar li Al-Hijrah, Imam Ulama Al-Haramain. Nama Syekh Nawawi al-Bantani semakin mahsyur ketika dia ditujuk sebagai Imam Masjidil haram, menggatikan Syekh Achmad Khotib Al-Syambasi atau Syekh Ahmad Khatim al-Minangkabawi. Tidak hanya di kota Makkah dan Madinah saja ia dikenal, bahkan di negeri Suriah, Mesir, Turki hingga Hindustan namanya begitu masyhur.

            Imam Nawawi cukup sukses dalam mendidik sejumlah ulama pesantren, diantara muridnya adalah  Syekh Kholil bangkalan madura, Syekh Hasim Asy’ari Tebuireng Jombang, KH. Mas Abdurrahman menes, KH. Tubagus Muhammad Asnawi, KH. Tubagus Bakri, Syekh Abdul Karim Banten, KH Raden Asnawi Kudus, Jawa Tengah. Menantunya, Syekh Asy’ari al Bawean meneruskan mengajar di masjidil haram, khususnya bidang ilmu falak. Diantara muridnya adalah Kiai Ahmad Dahlan Yogyakarta, Kiai Dahlan Tremas dan Kiai Abdul Aziz bin Abdul Wahab dari Jawa Timur.

            Dalam peneguhan tradisi pesantren, Imam Nawawi memiliki kedudukan strategis dalam perkembangan intelektual dan mencetak ulama. Kitab-kitabnya sangat terkenal dan menjadi sumber bagi pembentukan diskursus Islam berbasis pesantren dan masih menjadi rujukan pengajaran pesantren saat ini. Beberapa karyanya antara lain Muraqah As-Su’ud At-Tashdiq, komentar dari kitab Sulam At-Taufiq, Nihayatuz Zain, komentar dari kitab Qurratul ‘Ain, Tausiyah ‘Ala Ibn Qasim, maulid Barzanji, Hidayatul Adzkiya, Riyadhul Badi’ah, Nashailul ‘Ibad, dsb.

            Imam Nawawi Banten memang tidak seaktif Syekh Abdul Karim yang menyerukan Jihad dalam menghadapi kekuatan asing di Nusantara. Dalam Pembicaraannya dengan Snouck Hurgronje, ia tidak menyetujui pendapat bahwa tanah jawa harus diperintah oleh orang Eropa. Meskipun demikian, ia telah berhasil membuka jalan untuk terkonsolidasinya jejaring ulama yang kuat di Nusantara, dengan terbangunnya otoritas keagamaan ulama.

Sumber:  Materpiece Islam Nusantara, Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

11 − 6 =