Imam Besar Masjid Istiqlal: Keimanan Muslim Sejati Tidak Fluktuatif

 Imam Besar Masjid Istiqlal: Keimanan Muslim Sejati Tidak Fluktuatif

Imam besar Istiqlal (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Mengenai keimanan, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof KH Nasaruddin Umar menegaskan bahwa iman seorang muslim sejati tidak pernah fluktuatif. Artinya keimanannya tidak naik-turun, sehingga berubah-ubah. Sebaliknya iman seorang muslim sejati selalu konstan.

Nasaruddin menjelaskan ciri muslim sejati yang memiliki keimanan kuat adalah apabila ditimpa musibah, ia akan bersabar. Begitupun ketika ia mendapat kemewahan, maka ia bakal penuh rasa syukur.

Nasaruddin mengingatkan bahwa jarak antara tantangan dan kenikmatan itu sangat tipis. Begitu pula jurang pemisah antara musibah dengan kelezatan hidup yang tidak terlalu terlihat secara signifikan.

Shiratal Mustaqim

Itulah kenapa keimanan seorang Muslim sejati tidak pernah fluktuatif. Hal ini karena ia senantiasa berada di shiratal mustaqim.

“Shiratal mustaqim itu adalah jembatan antara al-maghdlub dan ad-dhollin. Apa yang dimaksud al-maghdlub? Orang yang ketika ditimpa musibah dia menjerit ke bawah. Ad-dhollin sebaliknya, kalau dia diuji dengan kemewahan, akan mabuk dia di atas,” kata Prof Nasar dikutip dari NU Online, Kamis (15/4/2021).

Shiratal mustaqim itu, kata Prof Nasar, tidak menjerit dan tidak mabuk, karena dia menempuh shiratal mustaqim sebagai jalan tengah. “Jadi, tawasutiyah-nya itu adalah jika ditimpa musibah dilawan dengan sabar, jika diuji kemewahan dilawan dengan syukur,” jelasnya.

Ramadhan di Tengah Pandemi

Menurutnya, selama dua sayap kehidupan ini kokoh dan kuat dalam diri seorang Muslim sejati maka seluruh tantangan akan dengan mudah dilewati. Sebab jalan yang ditempuh adalah shiratal mustaqim.

“Shiratal mustaqim itu sebenarnya tidak lain adalah perjalanan antara ad-dhollin dan al-maghdlub itu. Maka kalau kita mendaki ke atas, kita harus syukur. Tapi kalau kita anjlok ke bawah maka harus sabar,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Ramadhan kali ini penuh dengan tantangan karena pandemi Covid-19 belum selesai. Ia berharap Ramadhan bukan saja dapat membakar segala dosa yang telah lalu tetapi juga mampu mengangkat virus yang membahayakan itu.

“Ramadhan artinya membakar atau menghanguskan. Karena membakar hangus dosa masa lampau, sehingga pada saat Idul Fitri nanti kita seperti bayi yang baru lahir. Kita menjadi manusia baru, spirit, energi, wawasan, dan kesuksesan baru. Itulah spirit Ramadhan,” katanya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twenty + five =