Ilmu Riyadhoh Cak Nun Agar Menjadi Pribadi yang Hebat dan Tangguh

 Ilmu Riyadhoh Cak Nun Agar Menjadi Pribadi yang Hebat dan Tangguh

Soal Hisab Allah, Cak Nun: Itu Bukan Risiko, Tapi Memang Kita yang Butuh (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Budayawan Indonesia, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mempunyai satu rahasia berupa amalan atau riyadhoh yang sering ia lakukan agar menjadi pribadi yang tangguh layaknya seorang pendekar.

Salah satu riyadhoh atau cara melatih diri agar menjadi pribadi yang tangguh, Cak Nun kerap memakai cara dengan melakukan sesuatu yang tidak disukai dalam rentang waktu tertentu. Atau bisa juga dengan tidak melakukan hal apapun yang disukai.

“Anda mau jadi pendekar, apa mau jadi orang yang biasa-biasa saja? Kalau Anda mau jadi pendekar; Anda lakukan yang Anda tidak sukai. Dan atau Anda tidak lakukan yang Anda sukai,” kata Cak Nun dalam unggahan video akun TikTok @maiyahkan, dikutip Jum’at (22/03/2024).

Dengan cara belajar menahan diri untuk tidak melakukan yang disukai atau sebaliknya melakukan sesuatu yang tidak disukai, maka menurut Cak Nun, hal tersebut merupakan satu bentuk riyadhoh.

“Itu satu jenis riyadhoh. (Misal) jika saya suka mabuk, (maka) mulai hari ini sampai tanggal sekian, saya tidak akan mabuk. (Dengan kata lain) Anda memaksa diri Anda secara radikal, sehingga Anda akan menjadi manusia yang lebih kuat, lebih tatag (tangguh), lebih hebat dari pada sebelumnya,” jelasnya.

“Nah sekarang, terserah Anda. Mau melakukan itu, apa tidak?” kata Cak Nun.

Ia menjelaskan bahwa dalam rumus dasar yang kerap diajarkan di Maiyah (forum pengajian khusus jamaahnya Cak Nun), ia senantiasa mengajarkan perihal riyadhoh tersebut. Yakni melakukan yang tidak disukai dan tidak melakukan hal apapun yang disukai.

“Dengan begitu, mudah-mudahan Allah SWT akan menciptakan proses keseimbangan dalam diri Anda dan membuat Anda teguh untuk memilih sesuatu yang kompatibel dengan Allah,” ujarnya.

Misalnya riyadhoh yang ringan-ringan. Jika kita menyukai lagu X, maka berkomitmenlah pada diri sendiri untuk tidak mendengarkan lagu tersebut dalam rentang waktu tertentu. Bisa sebulan, dua bulan atau seminggu.

“Itu kan riyadhoh namanya. Melatih psikologi kita, melatih batin kita. Dan saya sering melakukan itu. Makanya saya suka jamu sepahit apapun. Kenapa? Karena urusan saya bukan rasanya di mulut dan lidah, tapi urusan saya adalah, bahwa jamu ini akan menciptakan proses penyehatan tubuh saya,” tandasnya. []

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *