Ijtihad Abal-Abal: Boleh Lanjut Makan Sahur Saat Azan Subuh

 Ijtihad Abal-Abal: Boleh Lanjut Makan Sahur Saat Azan Subuh

Puasa di Bulan Muharram (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Dalam ilmu ushul fiqh, ijtihad langsung pada Alquran dan hadis adalah ranahnya para ulama yang sudah mumpuni dengan seperangkat ilmu kelas berat. Tak semua yang disebut ulama layak berijtihad, kebanyakan hanya layak ikut ijtihad ulama lain yang lebih ahli.

Apalagi bukan ulama, maka sama sekali bukan tempatnya berijtihad. Kalau dipaksa, maka akan jadi ijtihad abal-abal. Seolah-olah ijtihad padahal hanya ngawur yang ada.

Ada satu contoh ijtihad abal-abal yang biasanya muncul tiap Ramadhan, yakni soal kebolehan makan atau minum saat azan subuh sudah terdengar. Anda boleh tertawa, sudah subuh kok lanjut makan? Hahaha… Ya namanya juga abal-abal, wajarlah.

Fatwa abal-abal ini berdasar pada hadis berikut:

إذا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian mendengar azan sedangkan wadah makanan ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkannya hingga dia menyelesaikan hajatnya (makan).” (HR. Abu Daud)

“Nah kelihatan benar, bukan, bahwa boleh makan saat sudah azan? Tuh, Rasulullah sendiri yang bersabda. Dasar orang-orang bodoh semua selama ini malah membuat bid’ah melarang apa yang diperbolehan Rasulullah. Mau ikut ulama yang tak maksum apa ikut Rasulullah sih orang-orang itu? ” Kira-kira begini pikiran mujtahid abal-abal yang merasa menemukan hadis baru, yang dikiranya para ulama selama 14 abad tak ada yang tahu itu.

Salah Dalil

An-Nida’ atau azan di sana bukan azan subuh seperti dia sangka, melainkan azannya sahabat Bilal untuk membangunkan orang sebelum subuh. Di masa Nabi ada dua azan:

Azan pertama adalah azannya Bilal sebelum fajar, dan kedua adalah adzannya Ibnu Ummi Maktum yang dilakukan saat fajar subuh telah tiba. Instruksi Nabi Muhammad pada para sahabat tentang masing-masing adzan itu adalah sebagai berikut:

إِنَّ بِلاَلًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

“Sesungguhnya Bilal melakukan azan di malam hari, maka teruslah makan dan minun sampai Ibnu Ummi Maktum adzan.” (HR. Bukhari)

Jelas, bukan, Nabi Muhammad bukan menyuruh orang yang mau berpuasa agar terus menghabiskan makan minumnya saat mendengar suara azan subuh. Mustahil ini terjadi, sebab ayatnya sudah sedemikian jelas menyatakan batas kebolehan makan adalah sebagai berikut :

 حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar…” (QS Al-Baqarah: 187)

Jadi sudah jelas, bukan, salahnya fatwa boleh terus makan saat azan subuh itu di sebelah mana.

Itulah contoh ijtihad abal-abal yang dilakukan mujtahid abal-abal. Bila anda menemukannya berseliweran di WhatsApp, Facebook atau medsos lainnya, maka tersenyumlah sebab anda bisa menjadi saksi sejarah bahwa orang sok tahu soal agama itu ada.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

19 − 11 =