Idul Adha Meneguhkan Solidaritas

 Idul Adha Meneguhkan Solidaritas
Digiqole ad

Idul Adha mampu meneguhkan rasa solidaritas sosial. Hal itulah yang dapat kita petik dari perayaan Idul Adha ditandai penyembelihan kurban.

Khutbah Idul Adha
oleh: hidayatuna.com

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً ـ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَلاَنَعْبُدُ اَلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَعَبِدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ . اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ:

فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ. وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jamaah Shalat ‘Idul Adha yang Dimuliakan Allah

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat  Ilahi Rabbi yang telah memberi kenikmatan Iman dan Islam kepada kita, serta menganugrahkan kesehatan untuk melaksanakan Sholat ‘Idul Adha Berjamaah di Masjid Jami’ Nurul Jannah yang insyaallah Mubaraka ini.

Selanjutnya, Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahakan keharibahan junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim A.S yang telah berjuang mencerahkan manusia agar dapat hidup  dengan solidaritas sosial yang tinggi.

            Pagi ini saya mengajak kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian. Seraya ber-takbir mari tundukan kepala dan jiwa kita sebagai pengakuan atas kebesaran-Nya. Buang jauh-jauh sifat keangkuhan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat-Nya. Marilah kita pertajam ketakwaan kita agar menjadi insan yang bermartabat dihadapan Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُم

Karena itu, (Bertaqwalah kelian kepada Allah SWT). Karena Surga adalah warisan orang-orang yang bertaqwa. Allah SWT berfirman:

تِلكَ الجَنَّةُ الَّتي نورِثُ مِن عِبادِنا مَن كانَ تَقِيًّا

inilah Surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam:63)

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Hadirin fi ‘Aunillah,

Pada bulan ini umat Islam diseluruh dunia, selain melaksanakan sholat ‘Idul Adha dan ibadah haji, juga melaksanakan ibadah qurban, secara historis, ibadah qurban yang kita laksanakan ini tidak bias dilepaskan dari pengabdian total Nabi  Ibrahim A.S. dan Nabi Ismail A.S kepada Allah SWT. Untuk itu alangkah baiknya kita sedikit mengingat kembali peristiwa paling bersejarag tersebut, seraya mengambil hikmah yang bias diambil kita kontektualisasikan saat ini.

            Bermula dari keinginan Nabi Ibrahim yang mempunyai seorang anak. Beliau senantiasa berdo’a: رَبِّ هَبْ لى مِنَ الصَّالِحينَ “Ya Tuhanku, Anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. As-Shaffat: 100). Dalam riwayat lain, karena begitu inginnya beliau mempunyai anak, suatu hari beliau menyembelih kurban fisabilillah berupa 1000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang mengaguminya, termasuk malaikat. “kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah. Seandainya aku memiliki anak laki-laki, pasti akan aku sembelih kerena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya, “kata Nabi Ibrahim A.S sebagai ungkapan nadzar karena  Siti Sarah, isrti Nabi Ibrahim belum juga mengandung di usi pernikahannya yang cukup lama. Atas saran Siti Sarah, Nabi Ibrahim A.S menikah dengan Siti Hajar, budaknya yang berkulit hitam, Allah pun mengabulkan doa beliau dengan dikaruniainya seorang anak laki-laki dari Siti Hajar yang diberi nama Ismail. Ini artinya Allah Maha Mendengar, sebagai ungkapan kegembiraan beliau.

            Kemudian ketika usia Ismail kira-kira 7 tahun (riwayat lain mengatakan 13 tahun), pada malam tarwiyah atau tanggal 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim., penuhilah nadzarmu (janjimu)”. Pagi harinya, beliau berpikir dan merenungkan arti mimpinya. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan?. Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijjah disebut sebagai hari Tarwiyah (Artinya: berpikir/merenung)

            Pada malam ke-9 Dzulhijjah, beliau bermimpi serupa. Maka keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nadzarnya (janjinya) mengorbankan anaknya. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dulu, Siti Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata “ dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus , sebab akan kuajak bertemu kepada Allah” Siti Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian yang paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya. Kemudian Nabi Ibrahim mengajak Ismail ke Mina.

            Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim berterus terang pada putranya:

فَلَمّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعيَ قالَ يا بُنَيَّ إِنّي أَرىٰ فِي المَنامِ أَنّي أَذبَحُكَ فَانظُر ماذا تَرىٰ

 “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?.. (QS, Ash-Shaffar: 102)

Kemudian Ismail menjawab|:

قالَ يا أَبَتِ افعَل ما تُؤمَرُ ۖ سَتَجِدُني إِن شاءَ اللَّهُ مِنَ الصّابِرينَ

Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabra” (QS, Ash-Shaffar: 102)

Mendengar jawaban puteranya, legalah Nabi Ibrahim dan langsung ber-tahmid sebanyak-banyaknya. Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu, Ismeil berpesan kepada ayahnya. “ wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkanmu. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena cipratan darah sedikitpun sehingga bias mengurangi pahalaku. Dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka. Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada ibu agar menjadi kenangan baginya. Serta sampaikanlah salamku kepadanya dengan berkata, “ wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah. Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lainkerumah ibu sehingga semakin menambah belasungkawanya padauk, dan ketika ayah melihat anak-anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulkan rasa sedih di hati ayah” sambung Ismail.

            Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim As menjawab, “sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai puteraku tercinta! (kitab Durrotun Nasihihin, karangan Umar bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir al-Khaubawiy)

Kemudian Nabi Ibrahim mengoreskan pedangnyasekuat tenaga ke leher putranya. Namun beliau tidak mampu mengoresnya. Ismail berkata “wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar Malaikat mengetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT.

Nabi Ibrahim melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi langsung menggoreskan pedang ke leher putranya dengan sekuat tenaga, namun pedangnya selalu terpental. Tidak puas dengan kemampuannya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tidak dapat mampu menembus daging?. Gerutu beliau.

            Biidznillah, pedang tersebut menjawab, “hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman. “jangan disembelih”. Jika begitu kenapa aku menentang perintah Allah?”. Allah SWT berfirman:

إِنَّ هٰذا لَهُوَ البَلاءُ المُبينُ. وَفَدَيناهُ بِذِبحٍ عَظيمٍ

sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 106-107)

Menurut satu riwayat, Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan Habil dan selama itu domba hidup di surge. Malaikat Jibril dating membawa domba kibas itu saat Nabi Ibrahim menggoreskan pedang keleher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua Umat-Nya menjalankan perintah-Nya. Malaikat Jibril terkagum-kagum melihat itu lantas mengagungkan asma Allah dengan ber-takbir. اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ Nabi Ibrahim As menyahut: لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ  Ismail mengikutinya, اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ “    kemudian bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya qurban.

            Menilik kisah Nabi Ibrahim A.S dan Nabi Ismail A.S  yang benar-benar total dalam menjalankan perintah Allah SWT tadi, seharusnya kita tahu bahwa ibadah qurban merupakan ibadah yang tidak hanya bermakna sebagai ibadah mahdhoh semata, namun juga bias bermakna sosial.

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jamaah Shalat ‘Idul Adha yang Dimuliakan Allah

            Secara etimologis, kata “qurban” artinya “dekat”. Secara metodologis ibadah qurban berarti proses pendekatan diri kepada Allah SWT dengan motivasi semata-mata mendapatkan ridha-Nya, dilandasi jiwa takwa yang kuat, sebagaimana yang di contohkan Nabi Ismail A.s yang rela dikorbankan dijalan Allah. Sebab itu, ketakwaan tetap menjadi basis amal ibadah qurban, bukan nilai hewan kurbannya atau sosok yang berkurban. Sebagaimana firman AllahSWT dalam surat Al-Hajj: 37;

لَن يَنالَ اللَّهَ لُحومُها وَلا دِماؤُها وَلٰكِن يَنالُهُ التَّقوىٰ مِنكُم ۚ كَذٰلِكَ سَخَّرَها لَكُم لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلىٰ ما هَداكُم ۗ وَبَشِّرِ المُحسِنينَ

daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik

            Lantas bagaimana cara mencapai amal ibadah qurban yang sebenarnya itu? Pasti tidak mudah dilakukan. Untuk mencapainya diperlukan sebuah perjuangan tingkat tinggi. Perjuangan di jalan Allah yang didalam istilah Islam sering disebut dengan kata jihad. Dalam Islam, jihad dilakukan dalam rangka melawan hawa nafsu yang dapat menghalangi keikhlasan kita menuju keridhaan-Nya dalam berkurban. Dan, mujahid (orang yang berjihad) adalah;

orang yang memerangi hawa nafsunya di jalan Allah SWT” (HR. Imam Thabari)

            Sebagai contoh ada banyak orang yang kondisi ekonominya pas-pasan, namun memiliki cita-cita untuk berkurban yang kuat. Ingatkan kita ketika ada seseorang pemulung bernama Yati di daerah Jakarta Selatan mampu berkurban di Hari Raya ‘Idul Adha’ dari hasil memulung sampah selama tiga tahun. Bayangkan! Pemulung saja yang hidupnya serba kekurangan bisa berkurban, apalagi kita. Pasti malu kalau sampai kita kalah dengan pemulung.

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jamaah Shalat ‘Idul Adha yang Dimuliakan Allah.

            Dalam konteks hablumminannas, maka atau filosofi dasar ibadah qurban adalah untuk meneguhkan solidaritas social. Bagi umat Islam mampu yang tidak melaksanakan ibadah haji dituntut untuk meningkatkan kebersamaan dengan cara menyembelih hewan qurban, lalu membagikannya kepada para tetangga dan faqir miskin.

            Kenapa Allah mengganti Nabi Ismail A.s diganti dengan seekor kambing? Ini merupakan perintah dari Allah SWT bahwa seluruh umat Islam harus mendapatkan asupan protein (gizi) yang cukup dan memadai. Tugas untuk memberikan protein yang baik bukan hanya tugas kepala keluarga. Melainkan juga tugas seluruh umat Islam.

            Dalam konteks keindonesiaan, terkait asupan protein penduduk Indonesia, secara nasional asupan protein penduduk Indonesia masih dibawa standar (57 gram sehari). Berdasarkan data BPS per September 2014, rata-rata konsumsi protein penduduk Indonesia 54,16 gram sehari. Jauh dibawah Singapura (626 gram), Filipina (133 gram), dan Thailand (117 gram). Bahkan asupan protein penduduk Indonesia ini banyak diperoleh dari protein nabati. Penduduk Indonesia mendapatkan asupanj protein hewani hanya 13,69 gram atau 25,28% dari total 54,16 gram. Yaitu dari ikan (7,82 gram), telur dan susu (3,17 gram), dan daging (2,70 gram). Hal itulah yang barangkali mempengaruhi tingkat IQ dan postur tubuh penduduk Indonesia.

            Jika ditelaah lebih lanjut, tidak tercukupinya asupan gizi (protein) penduduk Indonesia terkorelasi dengan kompleksitas permasalahan social di Indonesia, diantaranya adalah tingkat kemiskinan yang masih tinggi, berdasarkan data BPS per Maret 2015, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 28,59 juta jiwa atau 11,22% dari total penduduk Indonesia. Naik 310 ribu jiwa dari maret 2014 yang mencapai 28,28 juta jiwa. Atau naik 1 %. sebab itu perlu ada kebijakan yang tepat untuk menekan laju pertumbuhan kemiskinan di Indonesia.

            Masalah social selanjutnya adalah bertambahnya jumlah pengangguran secara nasional. BPS melaporkan, angka pengangguran terbuka per Februari 2015 di Indonesia mencapai 7,45 juta atau 5,81 %. Meningkat 1 % disbanding Februari tahun lalu sebesar 5,7 %. Inilah fakta sosial pengangguran yang harus dihadapi bangsa Indonesia.

            Terkait pendapatan penduduk. BPS merilis grafik pendapat rata-rata penduduk Indonesia mengalami kenaikan. Tahun 2012 Rp 35,11 juta per tahun, naik menjadi 38,28 juta pada tahun 2013, dan tahun 2014 mencapai Rp 41,8 juta per tahun. Namun jika dikonvensikan dengan dollar AS, pendapatan perkapita masyarakat justru menurun. Pada 2012, tercatat sebesar US 3.751,38 per tahun. Turun menjadi US 3.669,75 pada 2013, dan turun lagi menjadi US 3.531,45 pada 2014. Kita bisa sedikit gembira karena dalam rupiah pendapatan kita menanjak. Dengan catatan, dihitung dari pendapatan seluruh Indonesia (kaya dan miskin) dibagi seluruh penduduk Indonesia. Kalua kita lebih kritis sejak Indonesia merdeka kesenjangan sosial antara yang miskin dan kaya semakin menganga. Pendapatan rakyat miskin sebenarnya jauh dibawah rata-rata. Pada rilis survey lembagai Vox Populi per September 2015 dikatakan ada 6,87 % penduduk Indonesia berpenghasilan dibawah 400.000 sebulan, berpenghasilan 400.000-1.250.000 sebulan sebanyak 47 %, dan berpenghasilan lebih dari 1.250.000sebanyak 46,1 % itulah sekilas gambaran pendapatan masyarakat Indonesia.

            Seluruh permasalahan sosial yang menimpa bangsa Indonesia ini disebabkan tingkat Pendidikan di Indonesia yang rendah. Berdasarkan data BPS tahun 2012, penduduk yang tamat SD sebesar 28,08 %, yang tamat SMP sebesar 21,00 % tamat SMA sebesar 23,97 %, tamat perguruan tinggi sebesar 7,16 %. Itu artinya taraf kesadaran berpendidikan masyarakat Indonesia masih tahap berkembang. Hal itu bisa dilihat Dari rendahnya tingkat Pendidikan pasca SMA.

            Indikator kemiskinan lainnya bisa dilihat dari jumlah kepemilikan rumah tiap rumah tangga (kepada keluarga). Menurut data BPS terakhir tahun 2013, sebagaimana pernyataan Menteri PUPR, ada sekitar 13,5 juta rumah tangga yang belum  memiliki rumah.

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jamaah Shalat ‘Idul Adha yang Dimuliakan Allah

            Indikator-indikator kemiskinan tersebut baru dilihat dari faktor internal. Adapula faktor eksternal yang juga turut mempengaruhi melonjaknya tingkat kemiskinan di Indonesia, yaitu akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional, bencana alam, dan perang yang membuat banyak penduduk korban peperangan mengungsi ke Indonesia.

            Dari kejadian bencana alam selama 2014 saja menurut BNPB terdapat 1.525 kejadian bencana yang menyebabkan 566 orang tewas, 2,66 juta jiwa mengungsi dan menderita, lebih dari 51 ribu rumah rusak, dan ratusan bangunan rusak.

            Sementara dari dara jumlah pengungsi masuk ke Indonesia akibat pelanggaran HAM di negara asal mereka menurut data UNHCR per Juni 2015 tercatat ada 13.188 orang yang mengungsi ke Indonesia. 5.277 merupakan pengungsi dan 7.911 pencari suaka. Kebanyakan dari mereka melarikan diri dari konflik pelangaran HAM di negara asal mereka, seperti Afghanistan, Myanmar, Somalia, Iran dan Iraq.

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jamaah Shalat ‘Idul Adha yang Dimuliakan Allah

            Melihat fenomena kemiskinan yang terkolaborasi dengan pengganguran, bencana dan seterusnya tadi, menunjukan bahwa masalah sosial bangsa Indonesia masih sangat komplek. Untuk itu melalui momentum ‘Idul Adha ini, kita perlu melakukan internalisasi makna sosialabadah qurban ke dalam diri kita masing-masing. Jika makna sosial ibadah qurban telah terinternalisasi dengan baik maka jiwa solidaritas terhadap sesame, otomatis akan tumbuh dengan sendirinya.

            Allah SWT telah menegaskan dalam al-Quran bahwa orang-orang yang tidak mau memberi makan fakir dan miskin adalah pendusta agama atau penghianat agama. Allah SWT berfirman:

أَرَأَيتَ الَّذي يُكَذِّبُ بِالدّينِ. فَذٰلِكَ الَّذي يَدُعُّ اليَتيمَ. وَلا يَحُضُّ عَلىٰ طَعامِ المِسكينِ. فَوَيلٌ لِلمُصَلّينَ. الَّذينَ هُم عَن صَلاتِهِم ساهونَ. الَّذينَ هُم يُراءونَ. وَيَمنَعونَ الماعونَ

tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama. Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak terlibat dalam pemberian makan kepada orang miskin. Celakalah orang-orang yang sholat, yaitu orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan menolong orang dengan pertolongan yang berguna (QS. Al-Ma’un. 1-7)

            Sedangkan melalui sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa setiap orang mempunyai tangung jawab untuk membantu tetangganya yang sedang kelaparan atau sedang kekurangan gizi. Nabi Muhammad SAW bersabda.

لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

bukanlah seorang Mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan” (HR.Ath-Thabrani)

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Hadirin dan hadirat yang di muliakan oleh Allah

            Setelah semangat ibadah qurban terinternalisasi ke dalam jiwa kita, maka selanjutnya adalah eksternalisasi makna inadah qurban dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang muslim kita harus berkurban, yaitu menyumbangkan secara ikhlas sebagaian harta, tenaga dan pikiran kita kepada orang-orang yang membutuhkan tanpa memandang ras, suku, status sosial dan golongan.

            Dalam keluarga, untuk memberikan gizi terbaik kepada seluruh keluarga, seorang ayah harus berkurban, antara lain menghemat rokok, agar dapat membeli susu untuk anak-anaknya. Seorang ibu harus berkurban mengurangi belanja alat-alat kecantikan agara anak-anaknya mendapatkan gizi yang lebih baik. Untuk mendapatkan masa depan yang lebih cerah, seorang anak harus mengorbankan waktunya untuk belajar, bukan mengisi waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna.

            Dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat, tentangga yang baik adalah yang tidak menjadi ancaman bagi tetangga lainnya, mampu menghadirkan rasa aman, kesejahteraan dan kehormatan bagi tetangga di sekitarnya.

            Dalam hidup berbangsa dan bernegara, ketika menjadi pejabat ia berguna bagi rakyatnya, tidak melakukan perbuatan yang merugikan, memberatkan, apalagi mendzalimi.

            Ringkasnya, untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat, kita harus berkurban. Kita harus mencari nafkah halal sebanyak mungkin seakan-akan kita akan hidup selamanya, lalu pada saat bersamaan kita harus beribadah se-khusyu mungkin seakan-akan kita akan mati esok. Sabda Nabi Muhammad SAW:

اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا

bekerjalah untuk duniamu selah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi.” (HR. al-Baihaqi)

Dengan demikian berkurban disetiap kesempatan, saat ini juga. Berzuhudlah, sebagaimana yang dicontohkan para pemimpin-pemimpin Islam seperti Rasuluyllah dan Khulafa’urrosyiddin. Mereka adalah bangsawan yang mempunyai harta yang banyak. Namun mereka menginfakkan sebagian besar hartanya untuk kepentingan dakwah, dan menolong orang-orang beriman dalam rangka mewujudkan kesejahteraan Bersama sebagai bentuk solidaritas sesame muslim. Mereka adalah tokoh pemimpin yang mampu mengengam dunia tanpa tertipu oleh dunia. Dalam genggaman mereka Islam mencapai kejayaannya. Dalam hal ini Abu Bakar R.a dalam doanya memohon: “ya Allah, jadikanlah dunia ini di tangan kami, bukan di hati kami”

            Maka dari itu janganlah menjadi orang yang meletakkan dunia ini dalam hati. Karena akan membuat kita merasa kehilangan ketika harta berkurang walau sedikit. Kita akan segan berbagi pada sesame. Kita juga akan merasakan sakit, pikiran, tenaga, dan tak akan merasa tenang dalam segala keberlimpahan. Karena itu, dunia hanya patut di genggam agar kita bisa mengendalikan dunia, bukan malah kita yang dikendalikan dunia. Akhiratlah yang seharusnya kita tanamkan dalam hati supaya kita selalu sadar dan ingat bahwa Allah SWT senantiasa menyaksikan dan mengawasi kita.

Pada taraf yang lebih tinggi, menanamkan akhirat dalam hati akan menuntun seseorang cinta kepada Allah SWT, dan cinta kepada Allah-lah cinta yang sebenarnya. Jalaluddin al-Rumi, seorang sufi besar Islam mengatakan “kekasih yang sebenarnya adalah kekasih yang bisa merasakan kehadiran  orang yang mencintainya” jadi hanya Allah yang tahu ketika kita sedang sedih dan gembira karena-Nya. Allah pasti tahu  ketika kita melakukan segala sesuatu karena-Nya. Oleh karena itu, jamaah ‘Idul Adha rahimakumullah, sekali lagi saya serukan “LETAKKANLAH DUNIA DALAM GENGAMANMU, AKHIRAT DI HATIMU

            Mudah-mudahan pada perayaan ‘Idul Adha dan ibadah qurban kali ini mampu meneguhkan solidaritas sosial kita, demi kesejahteraan bangsa dan negara. Amin 3X ya Robbal Alamin.

 بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ. إِنّا أَعطَيناكَ الكَوثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانحَر. إِنَّ شانِئَكَ هُوَ الأَبتَرُ

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three + eight =