Idul Adha: Mencari Tafsir Baru di Era Pandemi

 Idul Adha: Mencari Tafsir Baru di Era Pandemi

Salat Tarawih (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Idul Adha merupakan salah satu ajaran yang selalu beriringan dengan pelaksanaan ibadah haji. Sudah lumrah dalam masyarakat kita, bahwa Idul Adha akan ramai dengan tradisi kurban.

Bagi masyarakat yang belum mampu menunaikan ibadah haji akan melakukan tradisi kurban sebagai bentuk dari kepatuhan beragama. Tidak heran, ketika khatib yang ada di mimbar sering menceritakan kisah Nabi Ibrahim as. dengan anaknya yang bernama Ismail.

Cerita-cerita semacam inilah yang membentuk pola pikir dalam benak masyarakat untuk mengikuti jejak Sang Khalilullah, Nabi Ibrahim as. Allah SWT. dalam Alquran surah As-Saffat ayat 102, berfirman kepada Ibrahim melalui mimpi:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya. (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (Q.S. As-Saffat Ayat: 102).

Nabi Ibrahim harus mengorbankan anak yang sayangi kepada Allah SWT. Sebagaimana yang pernah Ibrahim katakan disela-sela memelihara ribuan kambing: Jika Ibrahim mempunyai anak, niscaya akan dikorbankan kepada Allah SWT.

Singkat cerita, setelah Ismail dan Ibrahim sama-sama sepakat untuk mematuhi perintah Allah SWT. kemudian Allah SWT. menggantikan seekor domba yang bagus, gemuk dan terbaik di antara domba-domba yang lain.

Inilah awal mula dari ibadah kurban yang masyarakat Muslim di seluruh dunia lakukan. Lantas bagaimana kita memaknai Idul Adha atau ibadah kurban di tengah situasi pandemi hari ini?

Idul Adha di Masa PPKM Darurat

Seperti yang disampaikan oleh Kementerian Agama melalui Surat Edaran Nomor 17 Tahun 2021 berkenaan dengan adanya PPKM Darurat. Pemerintah memutuskan untuk meniadakan sementara segala pelaksanaan ibadah Idul Adha, terhitung sejak tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah 1442 H.

Pelaksanaan salat Idul Adha bisa dilaksanakan dari rumah masing-masing, khusus yang masih berada di wilayah zona merah atau PPKM Darurat. Sedangkan untuk yang zona hijau dan kuning, bisa salat di masjid dengan memenuhi protokol kesehatan dan jumlah jemaah hanya 50% yang hadir.

Tentu himbauan ini bukan semata-mata ingin menjauhkan umat Islam dari ritual keagamaannya. Lebih-lebih seperti anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa semua ini hanya bentuk penjajahan baru pada umat Islam.

Di titik inilah makna Idul Adha harus dicari kembali, disegarkan lagi. Tentu dengan melihat sejauh mana ibadah yang sudah ratusan tahun kokoh dan dijalankan oleh umat Islam mampu membawa pesan-pesan kemanusiaan.

Sepatutnya, ibadah kurban, menumbuhkan rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Apalagi di tengah pandemi yang menimpa bangsa Indonesia hari ini, di mana ratusan jiwa manusia yang melayang setiap hari. Kabar kematian sudah menjadi komsumsi publik yang mengerikan.

Melalui ibadah kurban ini, kita ketuk pintu hati kemanusiaan dan rasa kepedulian sosial. Minimal tidak berkerumunan, mematuhi protokol kesehatan dan jika bisa membantu mereka yang terdampak pandemi.

Pengorbanan di Idul Adha 1442 H

Hikmah yang dapat kita ambil dari Idul Adha 2021 adalah sebuah perjuangan. Sebagaimana kita tahu, di Indonesia sendiri, pelaksanaan ibadah haji di masa pandemi ini harus ditunda.

Salat Idul Adha pun dibatasi, bahkan sebagian ormas ada yang menganjurkan umatnya untuk mengalihkan uang kurban untuk Covid-19. Misalnya pada bantuan peralatan kesehatan ataupun bantuan lain pada masyarakat yang terdampak Covid-19.

Inilah perjuangan yang dihadapi umat Islam era ini. Sejauh mana kepekaan dan nilai-nilai kebersamaan ini tumbuh dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya mengedepankan simbolik untuk menampilkan pola keagamaan, khususnya dalam ibadah kurban.

Terakhir, selain hikmah perjuangan, ada tiga hal yang patut untuk kita renungi bersama hari ini, di antaranya adalah:

1. Bentuk Ketakwaan

Makna dari Idul Adha sebagai bentuk ketakwaan pada Allah SWT. Ketakwaan ini erat hubungannya dengan Allah SWT.

Di antara bentuk ketakwaan ialah menjaga diri dari pola hidup sehat, melaksanakan ibadah di rumah, dan memperbanyak dzikir kepada Allah.

2. Pengingat kepada Orang Berkecukupan

Dalam Idul Adha ada nilai-nilai kemanusiaan yang perlu dirawat, seperti ibadah kurban. Semacam ketukan humanisme bagi orang kaya untuk membagikan sebagian hartanya kepada yang miskin.

Namun perlu diingat bahwa untuk saat ini, kurban bisa dilakukan dengan membantu masyarakat yang terdampak Covid-19.

3. Semua Hanya Titipan-Nya

Idul Adha sebagai pelajaran bahwa di dunia ini tidak ada yang berharga selain perintah Allah SWT. Semuanya harus dikorbankan hanya semata-mata kepada-Nya.

Itulah nilai-nilai yang dapat kita ambil dan terapkan dalam ibadah kurban Idul Adha 2021 ini. Semoga pandemi segera berakhir dan rakyat Indonesia bisa hidup normal kembali sehingga bisa menjalankan ibadah dengan tenang.

Muhammad Syaiful Bahri

Belajar menulis esai dan resensi di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY)

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

7 − 4 =