Ibu Kartini: Alquran Harus Dimaknai ‘yang Dibacanya’

 Ibu Kartini: Alquran Harus Dimaknai ‘yang Dibacanya’

Ibu Kartini (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Kala itu, sekitar tahun 1899, Ibu Kartini mengalami kegelisahan. Kegelisahan ini kemudian olehnya dituliskan dalam sebuah surat yang ia kirimkan pada sahabatnya, Stella, pada 6 November 1899.

Ibu Kartini menulis, “Di sini orang diajar membaca Alquran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya.”

Sebagai seorang perempuan yang kritis, Ibu Kartini selalu menanyakan maksud dari lafaz-lafaz dalam Alquran yang belum dipahaminya. Namun, seringkali tak mendapat jawaban yang tuntas dan mengobati rasa penasarannya. Bisa dimaklumi kalau itu membuatnya gelisah.

Kegelisahan itu memuncak sampai pada penolakannya untuk belajar Alquran. Katanya dalam surat, “Aku tidak mau lagi membaca Alquran. Belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya.”

Coba lihat sekarang di sekitar kita, begitu banyak orang yang bercita-cita dan bangga kalau anaknya menjadi seorang hafiz atau hafizah. Padahal, itu baru langkah kecil untuk memahami Alquran sebagai “pedoman hidup”.

Ada banyak perangkat yang harus ada. Kita perlu nahwu, shorof, balaghoh, tafsir, dan lain-lain. Mana mungkin cukup kalau hanya sekadar dihafal saja? Kegelisahan Ibu Kartini seharusnya menjadi kegelisahan kita pula.

Sejarah Peringatan Hari Kartini

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai tanggal kelahiran Ibu Kartini, atau yang bernama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adiningrat. Hari Kartini juga dilegalkan sebagai hari bersejarah bagi seluruh perempuan di Indonesia.

Pertanyaannya, kenapa harus Ibu Kartini? Bukankah banyak perempuan-perempuan lain yang namanya disebut sebagai pahlawan wanita masa perjuangan kemerdekaan RI?

Ibu Kartini adalah seorang perempuan yang gigih memperjuangkan hak-hak dan jati diri perempuan di Indonesia. Salah satu cara yang ditempuhnya adalah dengan pena, ya, tentu saja menulis.

Ia berkirim surat dengan teman korespondensinya dari Belanda. Lewat surat-surat itulah Ibu Kartini menyampaikan semua gagasan-gagasannya hingga lahirlah buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang terkenal itu.

Penyebutan tanggal 21 April dengan istilah “Hari Kartini” salah satunya adalah karena hal tersebut. Malahan, mungkin inilah yang terpenting.

Ibu Kartini pernah berkata, Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu. Meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia karena jalannya sudah terbuka. Dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”

Semangat Kartini ‘Lahir’ di Tubuh Perempuan Masa Kini

Ibu Kartini “membuka jalan” untuk penerus-penerusnya. Ia telah “membuka jalan pikiran” yang sudah sejak lama terkekang dan terbatasi oleh stigma masyarakat umum. Kartini tidak turut menempuh perjalanan “pikiran” itu lebih jauh, tapi ia telah mempersilakan semua perempuan setelahnya untuk melakukan “perjalanan pikiran” yang lebih maju.

Begitu teguhnya Kartini dengan pendiriannya, sampai ia rela kehilangan semua harta bendanya, kecuali penanya. “Rampaslah semua harta benda saya, asalkan jangan pena saya.”

Ia bahkan rela menjadi miskin asal tetap bisa menuliskan segala hal tentang perempuan yang masih harus terus didukung dan diperjuangkan.

Hingga sekarang, perjuangan Ibu Kartini masih terus digelorakan. Seorang putri ulama tafsir kita, Quraish Shihab, turut mengambil peran ini. Najwa Shihab namanya.

Setiap hari dengan berbagai cara, generasi penerus Kartini itu berjuang membela kaum perempuan, sebagaimana yang dilakukan oleh Kartini. Hari ini, di akun instagram-nya, Najwa Shihab menyinggung Ibu Kartini pula.

Ia menyinggung perkara “Pembalut Perempuan” yang belum termiliki merata oleh perempuan Indonesia, berserta langkah yang diambilnya untuk mengatasi persoalan tersebut. Katanya di penghujung caption, “Kelebihan Kartini adalah kelebihan perempuan Indonesia. Mereka yang perkasa didera lara, dan tak pernah pupus dalam sifat tulus.”

Muhammad Fajar Riyadi

Freelance Layouter

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

14 + 1 =