Ibn Sina dan Kitab Al-Qanun Fi Al-Thibb yang Fenomenal

 Ibn Sina dan Kitab Al-Qanun Fi Al-Thibb yang Fenomenal

Ibn Sina dan Kitab Al-Qanun Fi Al-Thibb yang Fenomenal (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Ibn Sina, salah satu nama yang tentu saja tak bisa dilupakan di antara cendekiawan muslim yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lahir di Afshana, dekat Bukhara, Persia (sekarang masuk wilayah Uzbekistan) pada tahun 980 M.

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husain ibn Abdullah ibn Sina, di dunia Barat ia dipanggil Avicenna. Lima tahun setelah kelahiran adiknya, Abdullah (ayahnya) mengajak keluarganya pindah ke Bukhara. Saat itu, Bukhara menjadi ibukota pemerintahan Dinasti Samaniyah.

Karya al-Juzjani yang berjudul Sarguzhist-i-Ibn Sina (Kehidupannya) merekam bahwa Ibn Sina pernah berkata, “Saya belajar kepada guru-guru al-Qur’an dan sastra. Ketika berumur 10 tahun, saya telah menguasai al-Qur’an dan sejumlah besar karya sastra”.

Dalam bidang fiqh, ia belajar pada seorang ulama bermazhab Hanafi yang bernama Ismail al-Zahid. Sang ayah, Abdullah, begitu peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Pernah suatu ketika ia mengundang orang India untuk mengajarkan sistem desimal dan konsep nol padanya.

Tak hanya itu, seorang filsuf dan saintis yang bernama Abu Abdullah al-Natali juga pernah didatangkan untuk mengajari Ibn Sina. Awal mula belajar dengan al-Natali, Ibn Sina disuguhi terjemahan Eisagoge karya Porfyrios (234-305 M) dan pengantar Organon karya Aristoteles. Setelah rampung, al-Natali mengajarkan matematika padanya melalui karya Euklides dan Ptolomeus.

Perjalanan Karir

Saat usianya 15 tahun, Ibn Sina telah berpraktik sebagai dokter. Ibn Sina bahkan mengobati orang tanpa bayaran ketika keadaan dirinya sedang memungkinkan. Namun, ketika ia tengah mengalami kesukaran ekonomi, ia akan membuka klinik.

Ibn Sina pernah berucap, “Cara-cara pengobatan yang berasal dari pengalaman praktis muncul sendiri di hadapan saya dengan cara-cara yang…..tak bisa dijelaskan dengan kata-kata”. Pada tahun 998 M, sultan Samaniyah Bukhara yang bernama Nuh ibn Manshur mengidap sakit keras. Sayangnya, tak satu pun dokter istana yang berhasil mengobatinya.

Hingga kemudian Ibn Sina yang saat itu masih remaja dipanggil ke istana untuk meawat dan mengobati sultan. Dalam waktu yang terbilang singkat, sultan akhirnya sembuh dari sakitnya. Oleh karena peristiwa tersebut, Ibn Sina lantas diangkat sebagai dokter kerajaan oleh sultan.

Ibn Sina kemudian juga diberi akses ke perpustakaan kerajaan, saat itu ia merasa bahwa dirinya seolah diberi kunci untuk memahami dunia. Pemikirannya ternyata banyak berpengaruh pada karya para filsuf Kristen sesudahnya seperti St. Thomas Aquinas (1225-1274 M).

Kendati demikian, nyatanya Ibn Sina lebih banyak dikenal sebab sumbangsih besarnya dalam bidang kedokteran, khususnya melalui karyanya yang diberi judul al-Qanun fi al-Thibb.

Proses Kreatif Penulisan Kitab al-Qanun fi al-Thibb

Kitab al-Qanun fi al-Thibb ditulis oleh Ibn Sina ketika ia berada di Jurjan. Salah satu orang yang memiliki kontribusi besar dalam awal mula penulisan kitab tersebut adalah al-Juzjani, sahabat sekaligus muridnya.

Saat itu, al-Juzjani tak henti-hentinya mendorongnya untuk menulis karya besar di bidang kedokteran. Dinobatkan sebagai ensiklopedia kedokteran, kitab al-Qanun fi al-Thibb berjaya mengabadikan kemasyhuran penulisnya sebagai ‘pangeran para dokter’.

Lengkap dan sistematis, begitulah dua kata yang merepresentasikan isi dari kitab al-Qanun fi al-Thibb. Hal tersebut membuatnya dijadikan sebagai buku wajib di berbagai universitas pada abad pertengahan.

Salah satu orang yang pernah menerjemahkan kitab al-Qanun fi al-Thibb ke dalam bahasa Latin adalah Gerard of Cremona. Hasilnya kemudian diterbitkan pada tahun 1593 M di Roma, Italia.

Tak hanya berpengaruh di Eropa, di Asia kitab al-Qanun fi al-Thibb dijadikan standar karya-karya medis Cina oleh Dinasti Han. Kitab ini memiliki 5 jilid.

  • Jilid pertama

Jilid ini mengulas prinsip-prinsip dasar kedokteran. Dalam jilid ini juga dibahas bahwa manusia memiliki 4 unsur (air, api, tanah, dan udara) dan 4 cairan tubuh (empedu kuning, empedu hitam, darah, dan lendir).

Tak hanya itu, anatomi manusia dan penyebab, gejala, serta penanganan penyakit juga diulas pada jilid pertama.

  • Jilid kedua

Berisi daftar nama-nama tanaman obat dan bahan obat lain sejumlah 700 lebih. Selama berabad-abad, jilid kedua dari kitab al-Qanun fi al-Thibb ini menjadi referensi terlengkap bahan obat.

  • Jilid ketiga

Memaparkan penyakit-penyakit yang mempengaruhi bagai-bagian tubuh tertentu secara detail.

  • Jilid keempat

Mengulas beragam gejala dan penyakit yang mempengaruhi tubuh secara keseluruhan, seperti demam, keracunan, gatal-gatal, luka, juga patah tulang.

  • Jilid kelima

Membahas dosis obat dan cara mencampur bahan untuk meracik obat. Dalam menulis kitab al-Qanun fi al-Thibb ini, Ibn Sina memadukan pengalaman klinisnya dengan pembelajaran dari berbagai kitab (buku).

 

 

Sumber Rujukan

Alwizar. “Pemikiran Pendidikan Ibnu Sina”, An-Nida’: Jurnal Pemikiran Islam, vol. 40, no. 1. Januari-Juni 2015.

Darwis, Maidar. “Konsep Pendidikan Islam dalam Perspektif Ibnu Sina”, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, vol. 13, no. 2. Februari 2013.

Khan, Aisa. 2013. Seri Tokoh Islam: Avicenna, terj. D. Anshar. Jakarta: Muara

Sudewi, Sri & Nugraha, Sri Mardikani. “Sejarah Farmasi Islam dan Hasil Karya Tokoh-Tokohnya”, JURNAL AQLAM: Journal of Islam and Plurality, vol. 2, no. 1. Juni 2017.

Mohammad Azharudin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fourteen + one =