Ibadah Tanpa Dalil?

 Ibadah Tanpa Dalil?

Istighfar Bisa Mendatangkan Rezeki (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Poster seperti di bawah ini hendak menggiring wacana kepada kita soal amalan-amalan ibadah kita yang mereka anggap tanpa dalil. Opini mereka yang selalu didengungkan bahwa ibadah harus ada dalilnya, sampai di sini betul. 

Facebook/Maruf Amin
Facebook/Maruf Amin

Namun ketika membawa-bawa nama ulama besar yang bergelar Amirul Mukminin di bidang hadis. Seperti, Al-Hafidz Ibnu Hajar, yang bermazhab Syafi’i menunjukkan pembuat poster ini tidak menguasai kitab Fathul Bari secara menyeluruh.

Hanya bisa mengetik pada poin yang sesuai dengan pemikirannya, lalu Imam Ibnu Hajar digiring seolah sama seperti mereka dan menghantam pengikut Mazhab Syafi’i. Agar meninggalkan amalan-amalan yang tidak ada dalilnya.

Letak Kesalahan

Di mana letak kesalahan pembuat poster ini? Pertama, betul ibadah itu harus ada dalilnya. Hanya saja bagi Al-Hafidz Ibnu Hajar dalil itu tidak harus dalil khash (khusus), dalil umum juga boleh.

Hal ini ditegaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar: 

ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻭﻻ ﺩﻟﻴﻞ ﻟﻪ ﻣﻦ اﻟﺸﺮﻉ ﺑﻄﺮﻳﻖ ﺧﺎﺹ ﻭﻻ ﻋﺎﻡ 

Maksud hadis Nabi tiap-tiap bidah adalah sesat, yaitu hal-hal baru yang tidak memiliki dalil dalam agama. Baik dengan cara dalil khusus atau dalil umum. (Fathul Bari 17/254) 

Misalnya lagi ketika Al-Hafidz Ibnu Hajar membolehkan Maulid Nabi juga memakai dalil umum tentang syukur, dalil umum tentang sedekah. Dalil umum tentang menyampaikan sejarah Nabi dan sebagainya. (Husnul Maqshid fi Amalil Maulid)

Kedua, Al-Hafidz Ibnu Hajar menggunakan metode ijtihad berupa Qiyas atau analogi dalam ibadah. Menurut kelompok Salafi hal ini tidak diperbolehkan menggunakan Qiyas dalam ibadah. 

Mana buktinya? Jawab saja mau minta berapa? Saya buktikan bahwa Al-Hafidz Ibnu Hajar termasuk ulama yang membolehkan untuk baca Quran dan zikir di kuburan (di Indonesia namanya Tahlilan).

Dalil Hadis al-Bukhari

Dengan dalil hadis al-Bukhari bahwa Nabi melihat ada 2 kuburan yang sedang disiksa. Kemudian Nabi mengambil pelepah kurma dan membelahnya jadi dua, kemudian masing-masing kuburan ditancapkan pelepah kurma tersebut.

Setelah ditanya mengapa Nabi melakukan hal itu? Rasulullah Saw bersabda: 

« لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أَوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا »  

“Semoga diringankan siksanya selama pohon kurma tidak kering.” (HR al-Bukhari) 

Di hadis inilah Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: 

إِنَّ الْمَعْنَى فِيهِ أَنَّهُ يُسَبِّح مَا دَامَ رَطْبًا فَيَحْصُل التَّخْفِيف بِبَرَكَةِ التَّسْبِيح … وَكَذَلِكَ فِيمَا فِيهِ بَرَكَة الذِّكْر وَتِلَاوَة الْقُرْآن مِنْ بَاب الْأَوْلَى (فتح الباري لابن حجر – ج 1 / ص 341) 

“Makna dalam hadis ini bahwa pepohonan yang masih basah selalu bertasbih kepada Allah. Maka akan diperoleh keringanan siksa kubur karena keberkahan tasbih. Terlebih lagi berkah dzikir dan bacaan Alquran.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bari 1/341) 

Jadi Al-Hafidz Ibnu Hajar dengan metode Qiyas Awlawi berpendapat bahwa bacaan Quran dan zikir dapat sampai kepada mayit serta bermanfaat. Sebab tasbihnya pohon saja dapat meringankan siksa kubur.

Ma'ruf Khozin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

7 + seventeen =