Humor Sufi: Catatan Nasruddin Hoja dalam Sepotong Roti

 Humor Sufi: Catatan Nasruddin Hoja dalam Sepotong Roti

Humor Sufi: Catatan Nasruddin Hoja dalam Sepotong Roti (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Suatu ketika pada masa kekuasaan Timur Lenk, infrastruktur negara rusak sehingga hasil yang berasal dari pertanian dan pekerjaan lain sangat menurun.

Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka kemudian ia mengumpulkan para pejabat pemungut pajak di Istananya.

Lalu mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. “Apa yang kalian lakukan? Kalian semua tidak becus bekerja!” bentak Timur Lenk dengan emosi.

“Kami menyusun pekerjaan kami dalam laporan ini, Tuanku,” kata salah satu pejabat.

“Buku ini katamu?!” kata Timur Leng yang selanjutnya merobek-robek buku-buku itu satu per satu.

“Sekarang kalian makan robekan buku-buku ini!” perintah Timur Lenk dengan nada emosi yang semakin memuncak.

Mereka sangat ketakutan dan memakan sobekan-sobekan buku laporan perpajakan yang telah mereka susun. Setelah itu, Timur Lenk berkata kepada mereka lagi dengan penuh kemarahan.

“Dasar kalian tidak berguna!” kata Timur Lenk.

Seketika para pejabat tersebut dibebas tugaskan dan diusir dari istana Timur Lenk “Mulai detik ini, kalian aku pecat! Keluar dari istanaku sekarang juga!”

Para pejabat pemungut pajak satu per satu pergi meninggalkan ruang pertemuan. Mereka ketakutan karena hasil kerja mereka buruk. Setelah pemecatan dan pengusiran itu, Timur Lenk kebingungan tentang siapa yang akan memungut pajak.

Kemudian terbersit olehnya bahwa ada seseorang yang mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik, yaitu Nasruddin Hoja. Timur Lenk memanggil Nasruddin Hoja untuk menghadap. Nasruddin Hoja segera menghadap kepada sang pemimpin.

“Ya Nasruddin, Aku percayakan padamu sebuah tugas untuk menggantikan para pemungut pajak yang bodoh-bodoh itu!” kata Timur Lenk kepada Nasruddin Hoja.

“Wahai tuanku, aku merasa tersanjung dengan amanah ini, akan tetapi, saya tidak memiliki kemampuan akuntansi, Tuan.” kata Nasruddin Hoja.

“Aku tidak butuh akuntan!” bentak Timur Lenk. “Yang aku butuhkan adalah pemungut pajak yang bisa menghitungkan pajak yang lebih besar! Apakah engkau bersedia?”

“Nah, ini juga sulit bagiku untuk melakukannya, wahai tuanku, Aku tidak bisa menghitung jumlah,” jawab Nasruddin Hoja yang mencoba mengelak.

“Kalau begitu apakah engkau memilih aku gantung atau memungut pajak?” tanya Timur  Lenk seraya mengancam.

“Baiklah tuanku kalau itu memang maumu.” Kata Nasruddin Hoja dengan secara terpaksa harus menggantikan tugas para pemungut pajak yang baru saja diberhentikan.

Namun seiring berjalannya waktu, kinerja Nasruddin Hoja sama buruknya dengan pejabat pemungut pajak sebelumnya. Pajak yang diambil Nasruddin tetap kecil dan tidak membuat  Timur Lenk puas. Maka Nasruddin pun dipanggil. Ia pun datang menghadap Timur Lenk.

Nasruddin Hoja datang dengan membawa sepotong roti hangat. “Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, wahai Nasruddin?” bentak Timur Lenk.

“Laporan keuangan saya catat pada sepotong roti ini. Tuanku,” jawab Nasruddin Hoja dengan memperagakan gaya seorang pejabat.

“Apa yang kau katakana, kau mau berpura-pura gila lagi?!” bentak Timur Lenk lebih marah lagi.

“Wahai tuanku, usiaku sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu. Jadi semuanya aku pindahkan pada roti hangat ini agar aku bisa memakannya.” kata Nasruddin Hoja dengan santainya kepada Timur Lenk.

Timur Lenk tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya duduk termangu mendengar ucapan Nasruddin Hoja yang cerdik itu. Beberapa menit kemudian, Timur Lenk yang hanya bisa terdiam mengusir Nasruddin pergi dari istananya.

“Pergilah wahai Nasruddin! Kau juga sama tidak berguna dengan para pemungut pajak yang lainnya!” kata Timur Lenk.

Sebenarnya, Nasruddin Hoja adalah seseorang sangat mahir berhitung. Ia bahkan mampu menghitung pencatatan akuntasi dengan keakuratan yang tinggi. Namun, Nasruddin tidak rela rakyat negerinya dicekik pajak yang tinggi oleh seorang pemimpin yang kejam seperti Timur Lenk ketika itu.

Begitulah cara cerdik dari seorang Nasruddin Hoja dalam menghadapi seorang penguasa yang kejam tanpa harus melakukan perlawanan yang keras. []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *