Hukum Mengadiri Undangan Pernikahan Berdasarkan 4 Mazhab

 Hukum Mengadiri Undangan Pernikahan Berdasarkan 4 Mazhab

Undangan pernikahan (ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Islam mengatur segala bentuk kehidupan manusia, termasuk dalam hal pernikahan. Lalu bagaimana hukumnya menghadiri undangan pernikahan? Menghadiri undangan pernikahan menjadi salah satu cara ikut berbahagia terhadap saudara yang sedang memperoleh kebahagiaan.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menghadiri undangan resepsi pernikahan.

Hukumnya Sunnah

Ulama madzhab Hanafi, madzhab Maliki, dan sebagian ulama Syafi‟i serta sebagian ulama Hambali berpendapat bahwa menghadiri undangan hukumnya sunnah mu’akkad seperti undangan resepsi lainya. Bahkan sebagian ulama Hambali mengatakan hukum menghadiri resepsi mendekati wajib.

Dalam hal ini ulama madzhab Hambali mempunyai dua riwayat, pertama adalah sunnah Mu’akkad. Kedua adalah sunnah Mu’akkad yang mendekati wajib dalam resepsi pernikahan. Hal ini diriwayatkan dari Imam Syafi’i, anjuran untuk menghadiri undangan resepsi pernikahan hukumnya sunnah.

Hukumnya Wajib

Mayoritas besar madzhab Syafi’i dan ulama madzhab Hambali dan Imam Malik mengatakan bahwa menghadiri undangan tersebut adalah wajib. Diriwayatkan dari ibnu Umar Bahsana Rasulullah bersabda :

Dari ibnu Umar Jika masing-masing kalian diundang ke suatu resepsi hendaklah menghadiri (Muttafaqun ‘Alaih) dan dalam riwayat Abu Dawud mengatakan : jika tidak berpuasa hendaklah ia makan dan jika sedang berpuasa hendaklah ia mendoakan. Dalam riwayat lain dari umar RA, nabi Muhammad bersabda : Penuhilah undangan jika kalian di undang, undangan pernikahan maupun bukan, ia menghadirinya meski sedang berpuasa.

Diriwayatkan dari abu Ayyub RA, Nabi Muhammad bersabda : jika masing masing kalian diundang hendaklah ia menghadirinya meskipun sedang berpuasa (HR. Ibnu Mani’). Dalam hadis-hadis ini mengindikasikan bahwa penekanan untuk menghadiri resepsi tanpa ada keterangan yang mengatakan bahwa udzur adalah wajib

Orang Islam yang sedang tidak dalam pesakitan (dikucilkan berkenaan maksiat) diwajibkan menghadiri resepsi. Berbeda halnya dengan orang Islam dalam keadaan dikucilkan karena bermaksiat atau kebanyakan dari hartanya diperoleh dengan jalan maksiat. Maka baginya makruh untuk mendatangi resepsi tersebut, demi menghindari hal-hal yang subhat maupun yang haram.

Syarat Wajib Menghadiri Undangan Pernikahan

Adapun menghadiri undangan pada hari pertama adalah wajib selama tidak ada Udzur maupun halangan. Apabila shohibul hajat mengundang pada hari kedua, maka disini ulama berbeda pendapat. Adapun pendapat yang pertama adalah tetap wajib karena dalil yang mewajibkan tersebut bersifat umum. Sementara ulama lain diantaranya An-Nawawi berpendapat sama sekali tidak wajib, dianjurkan menghadiri undangan tersebut tidak seperti anjuran pada undangan hari pertama.

Menghadiri undangan pernikahan tidak lain sebagai ajang silatuurahim dengan teman lama yang sudah lama jarang bertemu, bertemu dengan teman-teman yang lain ika seandainya tempat hal itu berkumpul dengan berbagai kolega. Hal ini sesuai dengan anjuran Islam untuk terus menyambung silaturaahim. Meski demikian, menghadiri undangan pernikahan, memberikan ucapan selamat kepada orang yang sedang berbahagia, berarti juga kita turut mendoakan yang terbaik untuk kedua pasangan.

Muallifah

Mahasiswa S2 Universitas Gajah Mada, Penulis lepas

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

14 + 9 =