Hukum Memakai Pakain Ketat dan Transparan

 Hukum Memakai Pakain Ketat dan Transparan

Hukum memakai pakaian ketat dan transparan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Trend mode pakain orang di jaman milenial seperti sekarang ini, khususnya kaum Hawa semakin modif. Hampir setiap bulan selalu ada model baru dari produsen busana dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar. Namun tak jarang mode atau busana yang diproduksi dan dikonsumsi bertentangan dengan syari’at.

Sebut saja misalnya pakaian ketat (termasuk fenomena jilboobs), transparan (tembus pandang) atau rok mini yang jelas-jelas memperlihatkan aurat perempuan. Baik yang demikian itu karena tuntutan pekerjaan ataupun karena trend. Lalu bagaimana hukum berpakain seperti itu dalam perspektif fikih? Berikut penjelasannya:

Sebenarnya, fikih telah mengatur batasan-batasan dalam berpakain baik untuk laki-laki maupun perempuan dalam rangka menutup aurat. Dalam salat misalnya, aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan mulai dari ujung jari-jari sampai pergelangan tangan, baik bagian dalam maupun bagian luarnya.

Oleh karena itu, menggunakan pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh – asal tidak tembus pandang – hukum salatnya tetap sah karena dianggap telah menutup aurat. Tentang masalah ini imam al-Nawawi mengatakan:

فَلَوْ سَتَرَ اللَّوْنَ وَوَصَفَ حَجْمَ الْبَشَرَةِ كَالرُّكْبَةِ وَالْأَلْيَةِ وَنَحْوِهِمَا صَحَّتْ الَصَّلَاةُ فِيْهِ لِوُجُوْدِ السَّتْرِ، وَحَكىَ اَلدَّارِمِي وَصَاحِبُ الْبَيَانِ وَجْهًا أَنَّهُ لَا يَصِحُّ إِذَا وَصَفَ الْحَجْمَ، وَهُوَ غَلَطٌ ظَاهِرٌ

Artinya :

Jika seseorang telah menutupi tubuhnya sehingga tidak terlihat warna kulitnya, namun bentuk tubuhnya seperti lutut, bokong dan lainnya masih nampak, maka salatnya tetap sah karena telah dianggap menutup aurat. Namun menurut imam al-Darimi dalam salah satu pendapatnya mengatakan bahwa memakai pakaian yang masih menampakkan lekuk tubuh adalah tiadak sah. Namun pendapat ini – kata al-Nawawi – jelas-jelas salah. (Al-Nawawi, al-Majmu’, juz 3, hlm. 176)

Ibnu Quddamah juga menyampaikan pendapatnya sebagai berikut:

وَإِنْ كَانَ يَسْتُرُ لَوْنَهَا، وَيَصِفُ الْخِلْقَةَ، جَازَتْ الصَّلَاةُ؛ لِأَنَّ هَذَا لَا يُمْكِنُ التَّحَرُّزُ مِنْهُ، وَإِنْ كَانَ السَّاتِرُ صَفِيقًا

Jika pakain yang digunakan telah menutup kulit (aurat), namun lekuk tubuhnya masih nampak, maka salatnya sah karena kondisi yang demikian sulit untuk dihindari meskipun pakaian yang digunakan sempit (ketat). (Ibnu Quddamah, al-Mughni, juz 1, hlm. 617)

Meski sah, namun hukumnya menjadi makruh bagi perempuan dan banci (khunsa), dan khilaf al-aula bagi laki-laki. Karena itu, berpakain ketat ketika salat sebaiknya dihindari. Karena dianggap su’u al-adab (tidak sopan karena dalam kondisi salat).

Memakai Pakain Ketat di Luar Salat

Sedangkan di luar salat, aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Imam Muzani dan Abu Yusuf memberi kelonggaran kepada para perempuan bahwa kaki, tangan dan ujung betis tidak termasuk aurat karena ia butuh dibuka dan sulit untuk ditutupi. (Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini, Kifayat al-Akhyar Juz 1, hlm. 99-100)

Dalam kondisi yang kedua ini, terjadi perbedaan pendapat ulama’. Pendapat pertama mengatakan bahwa berpakain ketat bagi perempuan khususnya adalah terlarang (haram). Apalagi menyebabkan rangsangan atau libido bagi lawan jenis yang melihatnya atau sampai terlihat warna kulitnya. Imam Ibnu Hajar al-Haitamai mengatakan:

وَشَرْطُ السَّاتِرِ فِى الصَّلَاةِ وَخَارِجِهَا أَنْ يَشْمَلَ الْمَسْتُوْرُ لُبْسًا وَنَحْوَهُ مَعَ سَتْرِ اللَّوْنِ فَيَكْفِى مَايَمْنَعُ اِدْرَاكَ لَوْنِ الْبَشَرَةِ وَلَوْ مَاءً كَدِرًا لاَ خِيْمَةٌ ضِيْقَةٌ وَظْلْمَةٌ

Syarat pakaian yang digunakan untuk menutup aurat di dalam maupun di luar salat adalah pakaian yang dapat menutup aurat dan menutup warna kulit. Karena itu dianggap cukup berpakaian yang dapat menutup warna kulit meskipun dengan air keruh. Namun tidak cukup (dianggap menutup aurat) jika seseorang telanjang di dalam kemah yang sempit atau di tempat yang gelap. (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim, hlm. 115)

***

Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan bahwa memakai pakain ketat bagi perempuan adalah makruh. Di antara yang berpendapat demikian adalah imam al-Syurbini dalam al-Iqna’ dari mazhab Syafi’i dan imam al-Muhammad ‘Allasy dari mazhab Maliki dalam kitabnya Minah al-Jalil. Berikut pernyataan al-Syurbini dalam al-Iqna’ sebagaimana dikutip Muhammad bin Ahmad al-Safarini:

وَيُكْرُهُ لِلنِّسَاءِ لُبْسُ مَا يَصِفُ اللِّيْنَ وَالْخُشُوْنَةَ وَالْحَجْمَ     

Dimakruhkan bagi perempuan memakai pakaian yang dapat menampakkan kulitnya yang mulus, yang kasar dan yang terlihat lekuk tubuhnya. (Muhammad bin Ahmad al-Safarini, Gada’ al-Albab Syarh Manzhumah al-Adab, juz 2, hlm. 127)

 Dari kedua pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa berpakaian ketat bagi perempuan harus dipahami sebagai bentuk aturan dari syari’ untuk menjaga kehormatan dan mencegah terjadinya hal-hal negatif yang akan menimpa mereka. Karena itu, wajar jika para ulama’ mengharamkannya.

Meski ada yang berpendapat makruh, namun para perempuan perlu mempertimbangkan maslahat dan madharat-nya. Karena bagaimanapun juga berpakaian ketat yang menampakkan lekuk tubuh seksi mereka akan menjadi sarang fitnah, menyebabkan rangsangan lawan jenis yang melihatnya, sehingga akan mengancam kehormatan mereka. Karena itu, berpakaian ketat lebih baik dihindari. Wallahu a’lam

Memakai Pakaian Transaparan

Tentang pakaian jenis ini, dapat terjadi dalam dua kondisi. Pertama, di dalam salat dan yang kedua di luar salat. Imam al-Nawawi mengatakan:

لَوْ سَتَرَ بَعْضَ عَوْرَتِهِ بِشَيْءٍ مِنْ زُجَّاجٍ بِحَيْثُ تُرَى الْبَشَرَةُ مِنْهُ لَمْ تَصِحَّ صَلاَتُهُ بِلَا خِلَافٍ  

Jika seseorang telah menutup sebagian auratnya dengan sesuatu dari bahan kaca, sehingga warna kulitnya masih terlihat, maka salatnya tidak sah. Hukum ini telah disepakati oleh semua ulama’. (Al-Nawawi, al-Majmu’, juz 3, hlm. 176)

Sementara dalam al-Mughni, Ibnu Quddamah al-Maqdisi berkomentar:

 وَالْوَاجِبُ اَلسَّتْرُ بِمَا يَسْتُرُ لَوْنَ الْبَشَرَةِ فَإْنْ كَانَ خَفِيْفًا يُبَيِّنُ لَوْنَ الْجِلْدِ مِنْ وَرَائِهِ فَيُعْلَمُ بَيَاضُهُ أَوْ حُمْرَتُهُ لَمْ تَجُزْ الصَّلَاةُ فِيْهِ لِأَنَّ السَّتْرَ لاَ يَحْصُلُ بِذلِكَ

Wajib menutup aurat sehingga warna kulit tertutup semua. Jika penutup yang digunakan bahannya tipis sehingga warna kulit yang putih dan merah nampak dari belakang, maka salatnya tidak sah. Karena dalam kondisi demikian, seseorang belum dikatakan menutup aurat. (Ibnu Quddamah, al-Mughni, juz 2, hlm. 18-19)

Hukum ini berlaku bagi siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, ataupun yang lain (semisal banci). Sementara dalam kondisi di luar salat, hukum memakai pakaian transparan atau tembus pandang hukumnya adalah haram, meski pakaiannya longgar karena dianggap belum menutup aurat.

Berkerudung dengan Memperlihatkan Ujung Rambut

Dalam literatur-litertur fikih mazhab Syafi’i disebutkan bahwa rambut termasuk bagian dari aurat perempuan baik di dalam maupun di luar salat, sehingga wajib ditutup.

Di masyarakat kita, cara perempuan berjilbab sangat beragam. Ada yang benar-benar berusaha menutup seluruh rambutnya dengan memakaikan inner jilbab atau underscarf, misalnya ketika bahan jilbab yang digunakan cenderung tipis atau bertujuan agar terlihat rapi dan rambut tidak ada yang keluar dari jilbab. Ada juga yang berjilbab asal-asalan, sehingga terkadang ada ujung rambut yang tidak tertutupi atau terlihat.

Lalu bagaimana hukum perempuan yang berjilbab namun masih terlihat rambutnya?. Berikut fatwa Habib Abdullah bin Mahfudz al-Haddad dalam Fatawa Tahummu al-Mar’ah:

إِنَّهَا مَأْمُوْرَةٌ بِسَتْرِ شَعْرِ رَأْسِهَا وَعُنُقِهَا وَصَدْرِهَا، فَإِنْ كَانَتْ هذِهِ الشَّعِيْرَاتُ تُرِکَتْ قَصْدًا فَهُوَ حَرَامٌ. وَإِنْ تُرِكَتْ مِنْ غَيْرِ قَصْدِ مَا عَلَيْهَا مِنْهُ بَأْسٌ إِلاَّ فيِ الصَّلاَةِ، فَلْتَتَحَرَّ. والله أعلم      

Perempuan diperintahkan untuk menutup rambut kepala, leher dan dadanya. Jika ada rambut yang tidak ditutup dengan sengaja, maka hukumnya haram. Namun jika rambut tersebut telihat dengan tanpa disengaja, maka hal itu tidak apa-apa, kecuali saat mengerjakan salat, maka ia harus berhati-hati. Wallau a’lam.

Abdul Wadud Kasful Humam

Dosen di STAI Al-Anwar Sarang-Rembang

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 + fourteen =