Hukum Ibadah Tertentu yang disertai Niat Duniawi

 Hukum Ibadah Tertentu yang disertai Niat Duniawi

Inilah Manfaat Puasa Menurut Kajian Ilmiah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Melaksanakan ibadah adalah cara manusia menyembah Tuhannya, Allah SWT. Disamping itu, bolehkan melakukan ibadah tertentu dengan niat duniawi?

Dairatul Ifta Yordania memberikan jawaban atas persoalan ini.

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله

من نوى مع العبادة أمراً يحصل بها دون قصد ولا يفتقر لنية في أصله، كنية التبرد مع الوضوء أو تخفيف الوزن مع الصيام، أجزأته هذه النية على المعتمد؛ لأنّ هذا الأمر واقع سواء قصده المكلف أم لا، وذهب آخرون من الأئمة كالغزالي إلى أن المعتبر في إجزاء النية التي داخلها أمر دنيوي هو غلبة الباعث الأخروي في العبادة؛ فإن غلب الباعث الأخروي على الدنيوي أجزأت النية وصحّت العبادة، وذهب آخرون إلى عدم إجزاء نية العبادة إن داخلها أمر دنيوي، سواء غلب الباعث الأخروي أم لا.

“Sesiapa yang berniat beribadah disertai suatu perkara yang dapat tercapai tanpa qasd (kesengajaan hati) dan tidak memerlukan niat pada asalnya. Seperti niat mendinginkan badan saat berwudhu, dan menurunkan berat badan saat berpuasa. Niat seperti ini diperbolehkan (dianggap mencukupi) berdasar pendapat yang mu’tamad (dipedomani).”

Hal ini karena hal-hal seperti itu  dapat terjadi, baik ada maupun tiadanya qashd orang tersebut. Sementara itu, Imam yang lain seperti al-Ghazali berpendapat bahwa yang mu’tabar (yang dianggap) dalam kecukupan niat yang terdapat unsur duniawi adalah dominasi motif ukhrawi dalam ibadah.

***

Oleh karena itu jika motif ukhrawinya lebih mendominasi daripada motif duniawinya, maka niat itu dianggap cukup dan ibadah tersebut dianggap sah. Sedangkan Imam yang lain berpendapat bahwa niat itu tidak dianggap cukup jika di dalam niat tersebut ada unsur duniawi. Baik itu motif ukhrawinya lebih mendominasi maupun tidak.

جاء في [مغني المحتاج] من كتب السادة الشافعية: “ومن نوى بوضوئه تبرّداً أو شيئاً يحصل بدون قصد، كتنظيف ولو في أثناء وضوئه مع نية معتبرة، أي مستحضراً عند نية التبرد أو نحوه نية الوضوء جاز، أي أجزأه ذلك على الصحيح لحصول ذلك من غير نية، كمصلٍّ نوى الصلاة ودفع الغريم فإنها تجزئه؛ لأن اشتغاله عن الغريم لا يفتقر إلى نية. والثاني: يضرّ لما في ذلك من التشريك بين قربة وغيرها، فإن فقد النية المعتبرة، كأن نوى التبرد أو نحوه وقد غفل عنها لم يصحّ غسل ما غسله بنية التبرد ونحوه ويلزمه إعادته دون استئناف الطهارة. قال الزركشي: وهذا الخلاف في الصحة، أما الثواب فالظاهر عدم حصوله، وقد اختار الغزالي – فيما إذا شرك في العبادة غيرها من أمر دنيوي – اعتبار الباعث على العمل، فإن كان القصد الدنيوي هو الأغلب لم يكن فيه أجر، وإن كان القصد الديني أغلب فله بقدره وإن تساويا تساقطا، واختار ابن عبد السلام أنه لا أجر فيه مطلقاً، سواء أتساوى القصدان أم اختلفا”.

Tersebut dalam kitab Mughnil Muhtaj, salah satu kitab Sâdah Syâfi’iyyah:

“Sesiapa yang berniat pada saat wudhunya mendinginkan badan atau yang lain yang didapat tanpa qasd. Seperti membersihkan diri  meskipun di saat wudhunya dengan niat mu’tabarah.

Maksudnya menghadirkan niat berwudhu ketika niat mendinginkan badan atau pun yang lain, maka diperbolehkan.”

Dalam arti dianggap cukup berdasar pendapat yang shahih karena hal itu dapat tercapai tanpa niat, seperti seorang yang salat. Ia berniat salat sekaligus menolak kreditur, maka niat seperti ini mencukupi karena kesibukannya dari kreditur tak memerlukan niat.

***

Pendapat yang kedua: (hal seperti itu) rusak/membatalkan. Hal ini karena terdapat unsur penggabungan antara qurbah dan yang lain.

Oleh karena itu, jika niat mu’tabarah itu tidak ada, seperti ia berniat mendinginkan badan atau yang lain. Dan ia benar-benar lupa dari niat mu’tabarah itu.

Tentu saja tidak sah basuhan yang ia basuh dengan niat mendinginkan badan tersebut atau niat yang lain. Dan konsekuensinya ia harus mengulanginya (membasuhnya) tanpa memulai lagi wudhunya.

Az-Zarkasyi berkata: perbedaan yang terjadi ini tentang keabsahannya. Adapun pahala, maka secara dhahirnya, tidak dapat pahala.

***

Sedangkan al-Ghazali memilih dalam hal tentang jika dalam ibadah digabung  unsur duniawi. Maka dipertimbangkan motifnya terhadap amal tersebut.

Jika qashd (niat) duniawinya lebih dominan, maka ibadah tersebut tak berpahala, namun jika qashd ketaatannnya lebih dominan. Maka ia mendapat pahala sesuai kadarnya.

Jika keduanya sama, maka saling menggugurkan. Sementara itu, Ibnu Abdis Salam memilih bahwa dalam ibadah tersebut tak ada pahala secara mutlak, baik kedua niat itu sama maupun berbeda.

وعليه؛ فلا حرج أن ينوي الصائم تخفيف وزنه؛ لأنّ تخفيف الوزن حاصل بالصيام دون افتقار لقصد أو نية، وننصح السائل بأن ينوي بصيامه العبادة وحدها خروجاً من الخلاف، وحتى لا يفقد الثواب. والله تعالى أعلم

Berdasarkan keterangan di atas, maka tidak masalah jika orang yang berpuasa tersebut berniat menurunkan berat badannya. Karena menurunkan berat badan dapat tercapai dengan cara berpuasa tanpa memerlukan qashd/niat.

Dan kami menasehati penanya agar ia berniat dengan puasanya itu ibadah saja demi keluar dari perbedaan pendapat ulama dan sehingga ia tidak kehilangan pahala. Wallahu Ta’ala a’lam.

Nur Hasim

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *