Hukum Ibadah Haji bagi Perempuan yang sedang Haid

 Hukum Ibadah Haji bagi Perempuan yang sedang Haid
Digiqole ad

Berhaji merupakan ibadah pamungkas dalam urutan rukun Islam dan pasti setiap umat Islam baik laki-laki maupun perempuan memiliki keinginan untuk melaksanakannya. Berbeda dengan laki-laki yang bisa bebas melaksanakan haji, perempuan biasanya akan was-was jikalau sampai haid saat menjalankan ibadah haji. Sebenarnya bagaimana hukumnya? silahkan simak penjelasan dibawah ini?


Diceritakan dalam sebauah riwayat bahwa Sayyidah Aisyah RA saat melakukan ibadah haji dan sampai di Makkah, namun tiba-tiba haid. Perihal yang demikian Sayyidah Aisyah RA mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah SAW sebagiamana berikut:


عَنْ عَائِشَةَ ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهَا قَالَتْ : قَدِمْتُ مَكَّةَ وَأَنَا حَائِضٌ لَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ ، وَلا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ، فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : افْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي هَذَا حَدِيثٌ مُتَفَّقٌ عَلَى صِحَّتِهِ،

Artinya: “Dari Aisyah RA, istri Nabi SAW, ia berkata, ‘Saya telah sampai di Mekkah, sedangkan saya dalam keadaan haid sehingga saya tidak melaksanakan thawaf di Baitullah, tidak juga mengerjakan sai antara bukit Shafa dan Marwa. Lantas, saya pun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Beliau pun merespon dengan menyatakan, ‘Lakukan apa yang dilakukan orang yang berhaji, hanya saja jangan melaksanakan thawaf di Baitullah sebelum suci’. Ini adalah hadits yang disepakati kesahihannya.”


Hadits ini jelas menunjukkan bahwa perempuan yang sedang mengalami haid diperbolehkan atau sah untuk melaksanakan amalan-amalan haji kecuali thawaf di Baitullah.
Lebih lanjut mengenai hal ini berdasarkan pandangan Madzhab Syafii dalam Kitab al-Majmu juz 8 disebutkan, “Wanita haid yang belum melakukan tawaf ifadah harus bertahan di Makkah hingga suci. Kalau ada bahaya yang mengancam atau hendak pulang bersama rombongan sebelum tawaf ifadhah, ia harus tetap dalam keadaan ihram hingga kembali ke Makkah untuk bertawaf walau beberapa tahun kemudian.”
Sementara menurut kalangan Hanafi, suci dalam tawaf hukumnya wajib. Karena itu, orang yang bertawaf dalam kondisi tidak suci seperti wanita yang sedang haid dan nifas, tawafnya sah, tetapi harus membayar dam. Mereka berdalil dengan firman Allah:


وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Hendaknya mereka melakukan tawaf di sekitar Ka’bah Baitullah itu.” (QS al-Hajj: 29).

Menurut mereka ayat ini memerintahkan tawaf secara mutlak, tanpa dikaitkan dengan syarat kesucian.

Obat Penunda Haid
Melihat persoalan ini makannya kemudian perempuan yang melakukan ibadah haji umumnya meminum obat untuk menunda waktu haid. Mengingat lamanya waktu haid, dan Ibadah Haji di batasi oleh waktu, dengan begitu perempuan dapat menahan waktu haid dan dapat melaksanakan ibadah secara maksimal. Dalam pandangan Islam hal tersebut diperbolehkan asalkan tidak menimbulkan bahaya pada dirinya sendiri. Dalam kitab Ghayatut Talkhis di jelaskan :

وَفِيْ فَتَاوَى الْقَمَّاطِ مَا حَاصِلُهُ جَوَازُ اسْتِعْمَالِ الدَّوَاءِ لِمَنْعِ الْحَيْضِ

Artinya: “Dalam Fatawa Al Qammaath (Syeikh Muhammd ibn al Husein al Qammaath) di simpulkan diperbolehkannya menggunakan obat untuk mencegah datangnya haid.” (Ghayatut Talkhis: 196).

وَيَجُوزُ شُرْبُ دَوَاءٍ مُبَاحٍ لِقَطْعِ الْحَيْضِ مَعَ أَمْنِ الضَّرَرِ نَصًّا ) كَالْعَزْلِ وَ ( قَالَ الْقَاضِي لَا يُبَاحُ إلَّا بِإِذْنِ الزَّوْجِ ) أَيْ : لِأَنَّ لَهُ حَقًّا فِي الْوَلَدِ ( وَفِعْلُ الرَّجُلِ ذَلِكَ بِهَا ) أَيْ : إسْقَاؤُهُ إيَّاهَا دَوَاءً مُبَاحًا يَقْطَعُ الْحَيْضَ ( مِنْ غَيْرِ عِلْمِهَا يَتَوَجَّهُ تَحْرِيمُهُ ) قَالَهُ فِي الْفُرُوعِ ، وَقُطِعَ بِهِ فِي الْمُنْتَهَى لِإِسْقَاطِ حَقِّهَا مِنْ النَّسْلِ الْمَقْصُودِ . ( ومثله ) أي مثل شربها دواء مباحا لقطع الحيض ( شربه كافورا ) قال في المنتهى ولرجل شرب دواء مباح يمنع الجماع

Artinya : Diperbolehkan meminum obat yang diperbolehkan syara’ untuk memutus datangnya haid bila aman dari bahaya atas dasar nash. Hal ini disamakan sebagaimana masalah ‘azl. Qadhi Ibnu Muflih berkata: tidak diperbolehkan kecuali dengan seizin suami sebab suami memiliki hak atas mendapatkan keturunan. Serta perbuatan suami akan hal itu, yakni meminumkan obat yang diperbolehkan syara’ pada istri untuk memutus haid tanpa sepengetahuan istrinya pantas dinilai haram diungkapkan dalam kitab Furu’, ditegaskan pula dalam kitab al-Muntaha sebab perbuatan itu melanggar hak istrinya untuk mendapatkan keturunan yang dikehendakinya.


Demikian sekiranya beberapa pendapat terkait persoalan haid saat menjalankan ibadah haji. Setidaknya bisa menjadi acuan dan bahan renungan kita bersama menyikapi persolan yang berkaitan dengan ibadah.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 × one =