Hormat Bendera Apakah Perbuatan Syirik?

 Hormat Bendera Apakah Perbuatan Syirik?

Hormat Bendera Apakah Perbuatan Syirik?

HIDAYATUNA.COM – Setiap hari senin dan hari besar kenegaraan biasanya diadakan upacara bendera, khususnya bagi lembaga dan instansi negara. Dalam pelaksanaan upaca tersebut ada namanya prosesi pengibaran dan hormat bendera sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulu yang telah berjuang memerdekakan bangsa Indonesia.

Bagaimana hukum melakukan penghormatan bendera menurut Islam?. Secara mendasar hormat bendera bukanlah wujud penyembahan pada zat atau materi dari bendera. Hormat bendera tidak lain adalah sebagai wujud rasa cinta tanah air.

Bendera sebagai simbol negara dan kejayaan sudah ada sejak dahulu kala, bahkan di zaman Rasulullah dalam peperangan selalu mengibarkan panji-panji berupa bendera. Diterangkan oleh Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari sebagai berikut:

وكان النبي صلى الله عليه و سلم في مغازيه يدفع إلى رأس كل قبيلة لواء يقاتلون تحته

Artinya:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sejumlah peperangannya memberikan panji-panji kepada setiap pemimpin kabilah. Di bawah panji itu mereka berperang membela keadilan dan kedaulatan.”

Demikian dapat diketahui bahwa bendera dalam sejarah penyebaran Islam sudah digunakan dan merupakan sebuah hal yang umum. Berikut ini adalah ringkasan Anas bin Malik RA mengenai penggunaan bendera;

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم أخذ الراية زيد فأصيب ثم أخذها جعفر فأصيب ثم أخذها عبد الله بن رواحة فأصيب وإن عيني رسول الله صلى الله عليه وسلم لتذرفان ثم أخذها خالد بن الوليد من غير إمرة ففتح له

Artinya: “Dari Anas RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW menjelaskan bagian dari perang Mu’tah, “Panji perang dipegang oleh Zaid, lalu ia menentang. Panji perang kemudian diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib, ia pun kemudian jatuh. Panji diraih oleh Abdullah bin Rawahah, ia pun gugur [sampai di sini kedua mata Rasulullah SAW berlinang air mata, kata Anas]. Panji perang yang lalu diambil Khalid bin Walid dengan diluncurkannya. Ia maju menghantam pasukan musuh hingga mereka takluk di pasukan, ”(HR Al-Bukhari).

Kecintaan pada tanah air diajarkan oleh Rasulullah sebagaimana beliau mencintai kota Mekah dan mendoakannya. Penghormatan terhadap bendera sebagai wujud cinta tanah air tidaklah mengapa. Pendapat ini sejurus dengan Lembaga Fatwa Mesir yang menyatakan bahwa hormat bendera diperbolehkan. Hormat bendera merupakan sebuah tradisi yang dilakukan dengan tangan ataupun isyarat lainnya, selama tidak ada dalil yang secara jelas melarangnya berarti diperbolehkan.

Mengutip pendapat Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menjawab persoalan ini dengan cara menjabarkan bahwa agama menyangkut berbagai aspek dari akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Masing-masing mempunyai dimensi peran tersendiri, meskipun secara subtansial merupakan satu kesatuan.

Warga negara yang baik adalah berperilaku dan bertindak secara baik (muamalah) dalam berbangsa. Dalam hal ini hormat bendera menjadi salah satu bentuk perilaku baik tersebut. Bendera merah putih, secara aturan nasional bendera nasional adalah alat pemersatu bangsa. Maka dari itu tidak ada unsur sedikitpun dalam penghormatan bendera yang dimaksudkan sebagai bentuk penyembahan.

“Hormat-menghormati” dalam konteks ini tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan syirik. Penghormatan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara menundukkan badan atau kepala, mengangkat tangan, berdiri, melambaikan tangan, mencium seperti mencium Hajar Aswad di dalam tawaf, dan lain-lain.

Hormat bendera tidak ada masalah dari segi agama, oleh karenanya sebaiknya tidak dipermasalahkan. Lebih baik menyibukkan diri terhadap hal-hal yang lebih substansial yaitu beribadah kepada Allah. Wallahu A’lam

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × 3 =