Hikmah Kepemimpinan Jenghis Khan, Kakek dari Kubilai Khan

 Hikmah Kepemimpinan Jenghis Khan, Kakek dari Kubilai Khan

Kepemimpinan Muslim dalam Sejarah Islam Mongol (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM Jenghis Khan dikenal sebagai penguasa bangsa Mongol yang kejam dan tidak segan membasmi orang-orang yang melawannya. Dibalik kekejamannya tersebut, banyak nilai-nilai positif yang diterapkan selama kepemimpinannya. Selain sifat-sifat anti kemanusiaannya, Jenghis Khan memiliki sikap yang relevan untuk dilakukan umat Islam di masa sekarang.

Nilai teladan ini tertanam dalam diri Jenghis Khan karena perjalanan hidupnya yang pahit sejak kecil. Bahkan sejak usia 9 tahun ia sudah ditinggal tewas ayahnya yang merupakan kepala salah satu suku Mongol.

Nama asli Jenghis Khan adalah Temudjin. Ia lahir pada 1443 H dan hidup di wilayah hamparan padang rumput yang luas. Sementara gelar Jenghis Khan ia peroleh setelah berhasil menyatukan suku-suku di Mongolia yang sebelumnya saling berperang. Namun di tangannya, suku-suku itu berhasil ditaklukkan.

Sejak kecil, Temudjin mengalami banyak kepahitan hidup. Ia adalah anak dari kepala suku di Mongol. Suatu ketika ayahnya tewas dan keluarganya diusir dari suku mereka. Bahkan ia sempat diculik dan disiksa hingga dijadikan budak oleh musuhnya. Namun akhirnya ia tetap berhasil lolos dari kejamnya hidup yang hampir merenggut nyawanya.

Menyatukan Suku-suku Mongol

Penaklukan suku-suku mongol dimulai dari niat membebaskan istrinya yang diculik oleh salah satu suku Mongol. Setelah berhasil membebaskan istrinya dan menaklukkan suku tersebut, kemudian ia mulai mengumpulkan kekuatan untuk menaklukkan suku-suku lain di Mongol.

Begitu berhasil menaklukkan suku-suku Mongol, kemudian ia mulai melirik kerajaan-kerajaan di sekelilingnya, termasuk menaklukkan kekuasaan Al Khawarizmi pada masa Dinasti Abbasiyah. Hingga akhirnya pusat Dinasti Abbasiyah di Baghdad berhasil ditaklukkan oleh cucu Jenghis Khan bernama Hulagu Khan, yaitu putra dari anak Jenghis Khan, Tulai Khan.

Setelah Al Khawarizmi jatuh di tangan Jenghis Khan, kemudian ia geser ke Eropa dan menaklukkan Polandia, Hungaria, wilayah-wilayah sepanjang Samudra Pasifik sampai ke Laut Kaspia.

Penaklukannya berhenti sekitar tahun 1227 saat ia sakit dan akhirnya meninggal dunia. Namun kekaisaran Mongol tetap diteruskan oleh putranya Ukidei, kemudian cucunya Kubilai Khan, dan berkembanglah kekaisaran yang luar biasa yaitu Kekaisaran Mongolia.

Peristiwa penaklukkan pasti diiringi dengan penghancuran dan banjir darah. Sejarawan mencatat sepanjang penaklukkan Mongol sekitar 40 juta orang tewas.

Menghargai Kebebasan Beragama

Meskipun kepemimpinan Jenghis Khan dikenal kejam dan anti kemanusiaan, namun tetap ada banyak hikmah yang bisa diambil darinya. Bahkan masih relevan untuk kehidupan umat Islam sekarang. Sesuai dengan kaidah ushul fiqh yang menyatakan “mengambil yang baik dan menyingkirkan yang buruk.”

Hikmah yang bisa diambil dari sosok Jenghis Khan adalah sikap toleransi dan menghargai kebebasan beragama. Meskipun menyatukan banyak suku-suku, namun ia mengijinkan setiap orang memeluk agama apapun pada daerah yang ditaklukkannya.

Ia juga mengijinkan masyarakat untuk menghidupkan budayanya dan agamanya masing-masing. Ia hanya bertujuan menyatukan dunia dalam satu kekaisaran, tapi tetap menjaga keragaman budaya dan agama.

Selain itu Jenghis Khan adalah tokoh yang membenci aristokrasi, budaya kebangsawanan, perilaku mentang-mentang yang menganggap dirinya kelompok unggul. Ia adalah sosok yang berpihak kepada rakyat miskin.

Hal ini karena dirinya sejak kecil hidup sebagai rakyat biasa. Kemungkinan hal inilah yang membuatnya trauma dan benci dengan orang-orang aristocrat yang merenggut nyawanya.

Sikap Meristokratis dan Nasionalis

Hikmah lain yang masih relevan hingga sekarang adalah bahwa kakek dari Kubilai Khan itu dikenal menjalankan kepemimpinannya secara meritokratis. Ini adalah sistem yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk tampil, memimpin, dan berkarya sesuai kemampuan dan prestasinya. Bukan karena kekayaan dan senioritas.

Sikap ini sangat bagus untuk kita teladani bahkan diterapkan dalam pemerintahan Indonesia. Seseorang diberi wewenang sesuai bidang dan kemampuannya, bukan karena harta atau bahkan kekuatan orang dalam.

Kemudian, ia juga sosok yang sangat nasionalis. Aspek cinta tanah air ini dibuktikan dengan peperangan yang ia lakukan semata-mata demi bangsanya. Ia bertekad menjaga kehormatan bangsa Mongol. Sebab bagi bangsa mongol kehormatan terletak pada kemenangan saat berperang. Demi kehormatan itu, ia harus berperang kemana-mana dan harus menang.

Memiliki Visi Jelas dan Konsisten

Saat memimpin bangsa Mongol, Jenghis Khan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang juga masih relevan untuk saat ini. Salah satunya adalah karena ia memiliki visi yang jelas dan kuat selama hidupnya. Orang yang visinya jelas biasanya perjuangannya lebih mantap lantaran targetnya jelas.

Sikap ini bisa teladan, karena hidup memerlukan target-target pasti. Seperti ungkapan Jenghis Khan yang sangat terkenal yaitu “tanpa visi atau tujuan, seseorang tidak akan bisa mengatur hidupnya, apalagi hidup orang lain.”

Selama menjadi pemimpin, Jenghis Khan adalah sosok yang pandai menempatkan bawahannya untuk mengemban tugas sesuai keahlian. Bahkan ia berani menyingkirkan bawahan yang tidak cakap melaksanakan tugas. Hal ini penting untuk diteladani kepemimpinan saat ini. Memberikan amanah kepada orang yang tidak mampu justru akan mengacaukan sebuah Lembaga.

Tak hanya itu, ia juga konsisten mengejar tujuan. Namun untuk mencapai tujuan tersebut ia tidak kaku alias fleksibel sesuai keadaannya. Ia mengikuti arus namun tidak tenggelam lantaran prinsipnya yang jelas.

Arini Sa’adah

Freelance Writer

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *