Warning: sprintf(): Too few arguments in /home/u7096914/public_html/wp-content/plugins/wp-user-avatar/includes/class-wp-user-avatar-functions.php on line 668
Cancel Preloader

Hijrah dari ‘Nyinyir’ di Media Sosial dan Dunia Nyata

 Hijrah dari ‘Nyinyir’ di Media Sosial dan Dunia Nyata

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Apakah yang Anda ingat ketika mendengar kata ‘lisan’? Barangkali sebagian besar akan teringat dengan pepatah “Mulutmu adalah harimaumu”.

Kalimat itu pastilah saya jamin tak asing lagi bagi kita. Kalimat yang sering terdengar sebagai pengingat, agar selalu waspada terhadap apa yang harus kita keluarkan dari lisan kita.

Kiasan harimau menunjukkan bahwa hewan tersebut terkenal buas dan terkamannya membahayakan nyawa. Bisa Anda bayangkan bagaimana ngerinya terkena terkaman harimau.

Akan jadi apa Anda? Barangkali tak lagi berbentuk. Naudzubillah. Sebab itulah kita selalu diingatkan agar tetap waspada dan selalu ingat untuk menjaga lisan dari setiap ucapan.

Media Sosialmu adalah Lisanmu

Konteks berbicara/berlisan kini sangat berkembang, apalagi di zaman media sosial ini. Kini sebuah tindakan berbicara tidak hanya dimaknai secara langsung, melainkan tanpa bertatap muka pun bisa dimaknai berbicara.

Misalnya berbicara melalui media sosial, dan asal Anda tahu bahkan dampaknya itu lebih besar dibanding dengan bertatap muka langsung. Tetapi, kini yang selalu menjadi persoalan adalah bahwa kurangnya kesadaran atas itu.

Terbukti, bisa kita lihat bersama di berbagai berita. Sudah berapa banyak orang yang terjerat oleh lisannya melalui media sosial. Sudah banyak sekali, bukan.

Mereka bisa pastikan dengan mudahnya, ringan berkomentar dan tak jarang seenaknya berbicara di media sosial. Hingga melakukan ujaran kebencian misalnya. Kasus-kasus demikian itu kini justru bisa dikatakan semakin parah, hampir-hampir membanjiri dunia media sosial sendiri.

Itu artinya, generasi yang katanya melek teknologi itu masih belum siap dengan arus keterbukaan informasi. Pendek kata, belum mampu mengucapkan yang baik-baik saja (mengontrol ucapannya). Kita masih sering menggunakan media sosial dengan sembarangan, misalnya di FB, Twitter, IG, dan media lainya.

Pertanyaannya, apakah memang benar kita tidak sadar, bahwa sebenarnya media sosial itu juga merupakan lisanmu sendiri? Sebab jika kita tidak berhati-hati maka akan menjadi harimau yang kapan saja akan menerkam kita sendiri. Atau kita hanya berpura-pura?

Menjalankan Ajaran Agama dalam Berkata

Bertutur kata yang baik adalah salah satu dari ajaran semua agama termasuk itu ajaran Islam. Agama apa pun pastilah mengajarkan cara beretika sosial, membentuk karakter yang baik, berakhlak luhur dan mulia atau menyebarkan kebaikan lainya.

Di dalam Islam misalnya, menjadi pribadi dan sosok yang mulia itu adalah orang yang pandai menjaga orang lain dari ucapan-ucapan yang keji. Menghindari dari mencaci atau yang dapat menyakiti orang lain.

Pengendalian lisan itu begitu ditekankan oleh agama Islam. Sebagaimana Rasulullah Saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari.

Rasulullah Saw bersabda bahwa, keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya: Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari Muslim)

Jika kita bisa menjaga lisan di dunia nyata atau pun di dunia maya, itu menjadi gambaran atas kehati-hatian kita. Orang lain pun akan merasa nyaman bersama kita.

Sekali pun jika itu diterapkan pada dunia media sosial, maka akan terasa aman dan damai. Percekcokan pun tidak akan tercipta.

Meneladani Sikap Rasulullah Saw.

Harusnya, kita selalu ingat sekaligus mencontoh Rasulullah Saw. dalam menjaga lisan. Beliau senantiasa mengeluarkan kata-kata yang baik serta mengandung kebenaran.

Hal itu terbukti dari gelar “al-Amin” yang diberikan Allah SWT. dan para sahabat, keluarga serta masyarakat kala itu. Itulah sebabnya beliau sangat dapat dipercaya, bahkan dari sebelum diangkat menjadi nabi atau rasul.

Hal ini dapat kita simpulkan, bahwa tidak ada gunanya bagi kita atau siapa pun itu untuk ‘nyinyir’. Baik di dunia nyata atau lebih-lebih di media sosial dengan melontarkan kata-kata kotor, mencaci, menghina. Lebih baik diam dari pada berbicara yang buruk.

Oleh sebab itu, hendaknya marilah kita senantiasa menjadikan semua itu sebagai pelajaran. Untuk tetap mengendalikan diri terutama apa yang akan keluar dari mulut kita.

Sekali lagi, meskipun kita berbicara di media sosial, itu artinya kita sama-sama berbicara. Sama-sama dapat diterima oleh indra manusia karena media sosialmu itu adalah lisanmu.

Sebagai pungkasan, mari kita tetap ingat dan selalu sadar, juga merenungkan atas ajaran agama Islam untuk kita selalu menjaga lisan. Termasuk berkata-kata di media sosial, meski media sosial kini sangat menggoda.

Tabik.

Rojif Mualim

https://hidayatuna.com

Alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pengajar dan Peneliti, Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

20 + one =