Tasawuf

Hati-Hatilah Bila Kebaikan Allah Terus Kamu Dapatkan Bersama Dengan Maksiat Yang Kamu Lakukan

HIDAYATUNA.COM – Ibn Atha’illah al-Iskandari mengingatkan kita semua dengan pesannya yang sangat keras, tetapi bijak dalam maknanya. Dia berkata: “Berhati-hatilah bila kebaikan Allah selalu kaudapatkan bersamaan dengan maksiat yang terus kau lakukan. Berhati-hatilah. Karena boleh jadi, itu adalah awal dari kehancuranmu yang berangsur-angsur.”  Alangkah indah kalimat hikmah yang disampaikan oleh Ibnu Atha’illah, dalam pesan hikmahnya yang ke-67 itu, yang saya kutip di dalam bukunya, Terjemah al-Hikam, hal. 98.

Seringkali manusia kurang berhati-hati dalam menyikapi kebaikan yang telah Allah berikan kepada-Nya. Bahkan banyak kali kebaikan-kebaikan yang diberikan Allah membuat manusia selalu lupa akan kebaikan-kebaikan itu. Kalau manusia sudah tenggelam dalam kebaikan, maka dia larut dalam kesenangan. Kalau sudah larut dalam kesenangan, maka dia lupa penderitaan yang akan dialaminya. Kalau manusia sudah lupa dengan kebaikan Allah, maka dia lupa pula membalas kebaikan Allah.

Kebaikan yang berlimpah dari Allah kadang-kadang membuat manusia lupa, berpaling, dan maksiat kepadanya. Banyaknya kebaikan Allah pada dirinya membuat dia lupa larangan Allah. Ketika dia lupa larangan Allah, maka pada saat itulah matanya menjadi buta terhadap larangan-larangan Allah. Kalau dia sudah tidak tahu lagi larangan Allah, maka pada saat itulah dia maksiat kepada Allah. Kalau maksiatnya sudah menjadi-jadi di tengah kebaikan-kebaikan yang banyak diberikan Allah kepada-nya, maka itu menjadi awal dari kehancuran manusia itu.

Ingatlah, kata Ibn Atha’illah, bahwa di tengah-tengah kebaikan yang banyak yang diberikan Allah kepadamu bisa menjadi sesuatu yang awal bagi kehancuranmu secara berangsur-angsur, jika kamu gandengkan kebaikan-kebaikan Allah dengan maksiat-maksiatmu kepada-Nya. Allah membiarkanmu bertambah lupa akan kebaikannya dan engkau bertmabah lupa akan maksiatmu kepada-Nya. Karena ketika kamu maksiat dengan kesenanganmu itu akan membuatmu bertambah lupa akan kesulitanmu.

Baca Juga :  Menyelami Keawaman dan Introspeksi Diri Ala Imam Ghazali

Ibaratnya seseorang yang mengendarai mobilnya yang mewah lagi bagus di atas jalan yang lurus dan mulus. Bertambah tinggi gas mobilnya dia injak, maka bertambah kencang pula mobilnya berjalan. Jika dia tidak hati-hati, enaknya perjalanannya menyebabkan dia lupa akan bahaya yang mengancamnya secara tiba-tiba di hadapannya. Kalau saja ada hewan dan binatang yang memotong jalannya, maka dia tidak mengendalikan kendaraannya secara tiba-tiba. Maka pada saat itulah dia akan hancur dalam kecelakan itu. Mobilnya hancur dia pun ikut hancur. Setiap yang menyenangkan gampang membuat orang lupakan diri. Setiap kesulitan gampang membuat orang sadarkan diri. Demikianlah contoh dan perumpamaan yang diberikan oleh Atha’illah dalam kalimat hikmatnya di atas.


*Dikutip dan dikomentari oleh Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya. MA (Guru Besar UIN Jakarta)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close