Cancel Preloader

Hati-Hati dengan Ucapan ‘Jangan Sampai Kalah’, Ini Maknanya

 Hati-Hati dengan Ucapan ‘Jangan Sampai Kalah’, Ini Maknanya

HATI HATI

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Hati-hati dalam berbicara mungkin sudah lumrah kita dengar agar tidak menyakiti hati orang lain. Namun pernahkah Anda berhati-hati dengan ucapan Anda sendiri? Seperti ucapan ‘Jangan Sampai Kalah’ sama si A.

Lazimnya ucapan ini diucapkan dalam hati atau dalam keadaan sendiri sehingga tidak berpotensi menyakiti orang lain. Tidak pula membuat yang ditujukan merasa tersaingi hebat. Namun ucapan ‘Jangan Sampai Kalah’ sama si A ini ternyata punya makna yang dalam.

Ucapan ‘Jangan Sampai Kalah’ sama si A, misalnya. Kalimat ini menjadi sebuah tanda bahwa kita sedang bertarung melawan diri sendiri, lebih tepatnya melawan hawa nafsu sendiri.

Bagaimana tidak, ucapan ini secara tak langsung menegaskan sisi egoisme diri yang lebih mengedepankan hasrat atau keinginan terbesar.

Sebelum selesai mengucapkan kalimat tersebut, bahkan bisa dikatakan Anda sudah kalah lebih dulu. Mengapa? Sebab Anda belum berhasil mengalahkan nafsu yang menguasai diri Anda.

Mengedepankan Nafsu dalam Berkompetisi

Hasrat untuk menandingi orang lain dalam suatu kesempatan, misalnya dalam hal belajar atau bekerja secara tak langsung kerap muncul. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya tuntutan kantor yang mengedepankan prestasi kerja.

Pun, saat sedang belajar di sekolah atau perguruan tinggi dalam ujian atau mengikuti sebuah kompetisi. Persaingan satu sama lain adalah keniscayaan. Sejak sebelum lahir bahkan kita sudah berkompetisi, bukan. Tepatnya saat kita masih dalam proses pembuahan, ketika sel sperma menembus dinding rahim.

Sah-sah saja Anda berkompetisi, namun hati-hati dan jangan sampai mengucapkan ‘Jangan Sampai Kalah’ sama si A, misalnya.

Mengalahkan orang lain sebagai saingan kita bukanlah hal yang sulit. Namun mengalahkan nafsu yang ada pada diri sendiri tentu tidak semudah itu.’

Maka keluarlah perintah agar kita berjihad dengan hawa nafsu yang berangkat dari hadis di bawah ini.

رَجَعْتُمْ مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الجِهَادِ الأَكْبَرِ فَقِيْلَ وَمَا جِهَادُ الأَكْبَر يَا رَسُوْلَ الله؟ فَقَالَ جِهَادُ النَّفْسِ

“Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lantas sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”

Jihad Hawa Nafsu

Hadis di atas memang secara sanad dihukumi lemah (dhaif). Hadis ini diriwayatkan al-Baihaqi dalam az-Zuhd, al-Khathib dalam Tarikh Baghdad, an-Nasa’i dalam al-Kuna. Al-Baihaqi mengatakan, hadza isnadun fihi dhu’fun (sanad ini mengandung kelemahan).

Meskipun dikatakan lemah oleh al-Baihaqi, namun sejatinya tidak ada masalah dalam kontennya. Secara substansi, makna hadis tersebut shahih. Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam Asbabut Takhallush minal Hawa, mengatakan,

الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه

“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya.”

Ibn Qayyim menjelaskan bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga eksistensi hidupnya. Pertanyaannya, mengapa nafsu selalu “dikambinghitamkan”? Tidak ada yang salah dengan nafsu, yang patut direnungkan adalah seberapa bijak manusia menempatkan nafsunya dengan adil.

Kebanyakan manusia tak mampu mengendalikan hawa nafsu secara proporsional, cenderung melampaui batas (israf). Manusia sering “hanyut” dan hanya membudak pada hawa nafsu sehingga terperosok dalam jurang kehinaan dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Itulah sebabnya, hati-hati terhadap hawa nafsu, terutama saat berkompetisi.

Terdorong Hawa Nafsu

Ucapan ‘Jangan Sampai Kalah’ dengan si A hanya satu dari sekian banyak ucapan yang harus kita jaga. Manusia cenderung gigih dalam mengupayakan hasratnya.

Inilah yang dikhawatirkan dari ucapan ‘Jangan Sampai Kalah’ dengan si A tersebut. Untuk mencapai tujuan atau hasratnya, bisa saja Anda gelap mata. Melakukan hal-hal yang fatal dan curang dalam perjalanan berkompetisi dengan teman kerja atau belajar.

Maka, hati-hati dengan ucapan ‘Jangan Sampai Kalah’ dengan si A karena bisa jadi itu nafsu Anda yang berbicara. Bukan akal Anda. Akal tentu akan berbicara tentang cara terbaik untuk memenuhi hasrat yang ditujukan.

Misalnya dengan memperbaiki kinerja atau pola belajar. Bisa juga justru dengan menjalin kerjasama yang baik dengan rekan yang menjadi pesaing Anda sehingga bisa lahir ide-ide baru dan segar. Mampu menghasilkan kolaborasi yang baik untuk kelangsungan pekerjaan Anda maupun prestasi Anda, dan juga bagi instansi tempat Anda bekerja atau belajar.

Begitulah kiranya kita dalam berucap. Hati-hati dengan ucapan ‘Jangan Sampai Kalah’ karena itu berarti sudah menunjukkan bahwa kita kalah oleh hawa nafsu kita sendiri.

Pipit Enfiitri

Pipit Enfiitri

https://hidayatuna.com/

Suka menulis hal-hal random yang dekat dengan dirinya.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × 3 =