Harun ar-Rasyid adalah khalifah ke-5 Dinasti Abbasiyah. Lahir pada 17 Maret 763 di Teheran, Iran. Ia termasuk Salah seorang khalifah Dinasti Abbasiyah yang terkemuka, di samping al-Manshur dan al-Makmun. Ia naik tahta menggantikan Khalifah Musa al-Hadi pada umur 23 tahun pada tahun 170 H (786 M). 

Ia putra al-Mahdi bin Abu Ja’far al-Mansur, khalifah ketiga Dinasti Abbasiyah. Adapun ibunya bernama Khaizuran, seorang sahaya asal Yaman yang dimerdekakan oleh al-Mahdi dan dinikahinya. Selama masa opemerintahan Harun ar-Rasyid, Khaizuran banyak terlibah dalam urusan pemerintahan dan memiliki pengaruh besar.

Harun ar-Rasyid terkenal sangat dermawan dan menyukai sastra. Dia menjadi tokoh utama dalam kisah Alf Lailah wa Lailah. Selain itu, ia cerdas dan fasih dalam berbicara, dan berkepribadian kuat. Sejak kecil, ia telah memperoleh pendidikan yang baik di lingkungan istana. Ia mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan agama dan ilmu pemerintahan. Salah seorang gurunya yang terkemuka adalah Yahya bin Khalid.

Sejak masih muda, Harun ar-Rasyid telah menjalin hubungan yang akrab dengan para ulama, ahli hukum, hakim, qari, penulis, dan seniman. Maka tidak heran jika setelah menjabat sebagai khalifah, Harun ar-Rasyid sering mengundang mereka ke istana untuk mendiskusikan berbagai masalah. Ar-Rasyid sangat menghargai setiap orang yang berhadapan dengannya dan menempatkan mereka pada kedudukan yang sejajar. Oleh sebab itu, hampir semua orang mengagumi kepribadiannya, baik masyarakat jelata maupun kaum bangsawan.

Harun ar-rasyid telah terlibat dalam urusan pemerintahan sejak usia sangat muda. Pada masa pemerintahan al-Mahdi, Harun ar-Rasyid di percaya untuk memimpin ekspedisi militer ke Bizantium sebanyak dua kali, yaitu pada 779-780 M dan 781-782 M. Bersama pasukannya ia merangsek hingga pantai Borporus. Dalam ekspedisi ini dia didampingi oleh para pejabat tinggi negara dan jenderal-jenderal senior. Harun ar-Rasyid pun pernah memangku jabatan sebagai gubernur as-Saifah pada tahun 779 M dan Maghribi ada tahun 780 M.

Baca Juga :  SAIFUDDIN ZUHRI : MAKNA PERJUANGAN DAN PENGORBANAN UNTUK BANGSA

Pada tahun 782 M, khalifah al-Mahdi mengukuhkannya sebagai putra mahkota untuk menjadi khalifah sesudah al-Mahdi. Maka, setelah al-Hadi meninggal pada tahun 786 M, Harun ar-Rasyid dilantik menjadi khalifah pada 14 september 786 M menggantikan saudaranya itu.

Setelah diangkat menjadi khafilah, Harun ar-Rasyid mengangkat Yahya bin Khalid, gurunya sebagai wazir. Dia memberikan kekuasaan yang tidak terbatas kepada Yahya untuk menjalankan roda pemerintahan. Dia berpesan, “Sungguh aku serahkan kepadamu urusan rakyat. Putuskanlah segala sesuatu menurut pendapatmu, pecat orang yang patut dipecat, dan pekerjakanlah orang yang pantas menurut kamu, dan segala urusan menurut pendapatmu”

Keluarga Barmaki menguasai pemerintahan Dinasti Abbasiyah sejak tahun 786  hingga 803 M. Kebijakan keuangan negara berada di tangan keluarga yang berasal dari Persia ini. Demikian pula pengangkatan gubernur dan pejabat-pejabat lainnya. Khalifah menetapkannya atas usulan keluarga barmaki. Selain itu, mereka juga ikut memutuskan urusan rumah tangga istana.

Yahya bin Khalid adalah keluarga Barmaki yang cukup lama dipercaya oleh Harun ar-Rasyid menjadi perdana menteri Dinasti Abbasiyah. Dia digantikan oleh anaknya, Ja’far. Keluarga ini akhirnya disingkirkan oleh harun ar-Rasyid pada tahun 803 M setelah keluarga barmaki menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikah oleh Harun. Mereka memperkaya diri sendiri dan merugikan keuangan negara, mereka hidup bermewah-mewahan. Sebagai hukumannya, Ja’far bin Yahya dihukum mati, sedangkan Yahya bin Khalid dan Fadl bin Yahya dipenjara. Seluruh harta keluarga mereka Barmaki pun disita.

Selama masa kekuasaanya, Harun ar Rasyid menghadapi beberapa pemberontakan, seperti perlawanan kaum Khawarij pimpinan Walid bin Tahrif tahun 794 M, Musa al-Kazim tahun 799 M, dan Yahya bin Abdullah bin Abi Taghlib tahun 729 M.  Seluruh pemberontakan pun dapat dipadamkan oleh Harun ar-Rasyid, kecuali pemberontakan Rafi’ al-Laits, yang baru dapat dipadamkan Khalifah al-Ma’mun pada tahun 800 M.

Dalam menjaga stabilitas politik dalam negeri Dinasti Abbasiyah, Harun ar-Rasyid menjalin hubungan yang baik dengan negara-negara non-Islam. Menurut beberpa sumber, dia pernah melakukan pertukaran duta besar dengan Karel Agung dan mengirim utusan ke Cina. Harun ar-Rasyid berkuasa selama 23 tahun, yang luas kekuasaannya membentang dari Laut Tengah di sebelah barat hingga di sebelah timur.

Baca Juga :  KH. Noer Ali, Sang Pendekar Ulama Betawi

Sebagai penguasa, sosok Harun ar-Rasyid adalah sosok yang sangat sederhana dan saleh. Dia rajin menjalankan ibadah, melakukan sholat dunnah dua rakat setiap hari, dan melaksanakan ibadah umrah setahun dua kali dengan berjalan kaki dari Baghdad hingga Makkah. Ketika melaksanakan ibadah haji, Harun ar-Rasyid selalu mengajak anak-anaknya dan para ulama. Dia menempatkan para ulama di posisi yang mulia sebagai pewaris nabi.

Khalifah Harun ar-Rasyid senantiasa memerhatikan keamanan dan kesejahteraan rakyatnya. Kekuasaannya yang demikian luas tidak menghalanginya untuk memberikan keamanan dan kenyamanan kepada rakyatnya. Dia menumpas pemberontakan yang timbul di beberapa daerah, memperhatikan rakyat yang sedang kesulitan, mempercepat sistem pembayaran upah, dan memberi kepada yang membutuhkan. Kedermawanan Harun ar-rasyid sungguh luar biasa. Setiap tahun jika ia tidak berangkat haji, maka ia akan memberangkatkan 300 rakyatnya.

Dinasti Abbasiyah mencapai masa keemasannya di bawah pemerintahan Harun ar-rasyid. Banyak kemajuan di berbagai bidang, daintaranya ekonomi, perdagangan, perluasan wilayah, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, hingga peradaban. Kemajuan ini menjadikan kota Baghdad, ibu kota pemerintahan Abbasiyah sebagai pusat perdagangan terbesar dan teramai di dunia. Di kota inilah terjadi berbagai pertukaran barang-barang valuta asing dari berbagai penjuru dunia.

Pemasukan terbesar Dinasti ini berasal dari akivitas perekonomian yang terjadi di wilayah kekuasaannya. Ditambah dengan perolehan pajak, negara ini memiliki dana yang cukup untuk melakukan pembangunan. Kota ini dilengkapi dengan gedung-gedung yang megah, sarana-sarana peribadatan yang cukup, lembaga pendidikan hingga pusat-pusat kesehatan.

Sektor yang paling diperhatikan Harun saat itu adalah ilmu pengetahuan. Dia membiayai penerjemahan dan penelitian terhadap buku-buku Yunani. Pemerintah memberikan gaji yang besar kepada para ulama dan ilmuan. Di samping memperoleh gaji bulanan, setiap karya, tulisan dan penemuan mereka dihargai sangat mahal oleh negara. Khalifah pun menempatkan meeka dalam status soasial yang tinggi.

Baca Juga :  Abah Anom, Macan Suryalaya

Baitul Hikmah, adalah kontribusi terbesarnya terhadap perkembangan peradaban Islam. Kontribusi Harun ar-rasyid di bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran masih dapat kita rasakan hingga sekarang. Karya-karya sarjana pada masanya masih menjadi sumber rujukan di berbagai perguruan tinggi hingga saat ini. Seluruh karya tersebut tidak akan lahir tanpa dorongan dan dukungan Harun ar-rasyid, seorang pemimpin besar Islam yang sulit di cari tandingannya.

Baitul Hikmah merupakan lembaga penerjemah pertama dalam sejarah Islam. Melalui lembaga ini lahirlah ribuan buku rujukan bagi sarjana-sarjana Muslim. Pada masa pemerintahan anaknya, al-Ma’mun, fungsi Baitul Hikmah diperluas. Baitul Hikmah dikembangkan menjadi lembaga pendidikan tinggi, perpustakaan, sekaligus pusat penelitian. Perubahan ini kemudian mendorong gairah umat Islam untuk mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Salah satu disiplin keilmuan yang sangat maju ketika itu adalah kedokteran. Pendidikan kedokteran dan farmasi digalakkan di rumah-rumah sakit sehingga kota Baghdad ketika itu memiliki 800 dokter, angka yang fantastis untuk zaman itu.

Zaman pemerintahan Harun ar-Rasyid dan anaknya Khalifah al-Ma’mun merupakan The Golden Age of Islam. Ketika itu Baghdad menjadi kota metropolitan dan kota utama di Dunia. Pendudukanya melebihi 1 juta jiwa, suatu jumlah yang sangat besar untuk ukuran kota pada masa itu. Kota Baghdad kala itu menjadi pusat pendiidkan, ilmu pengetahuan, pemikiran dan perdaban Islam, perdagangan, ekonomi dan politik.