Gus Ulil Ungkap Tiga Kaidah Halal-Haram

 Gus Ulil Ungkap Tiga Kaidah Halal-Haram

Gus Ulil (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Cendekiawan Muslim Indonesia, Ulil Abshar Abadalla (Gus Ulil) mengaku mendapat pertanyaan dari seorang teman tentang bagaimana cara mengetahui halal atau haram sesuatu hal dalam Islam. Menurut temannya amat sangat penting mengetahui apa yang dikerjakannya dibolehkan dalam Islam atau tidak.

Pasalnya bagi seorang Muslim, status halal-haram merupakan hal yang amat penting. Dalam kehidupan sehari-hari yang dialami masing-masing orang, tentu tidak mungkin seseorang bertanya terus-menerus kepada forum bahtsul masa’il NU, Majlis Tarjih Muhammadiyah, atau Komisi Fatwa MUI.

Oleh karena itu, si teman tersebut mengajukan pertanyaan ada tidak dalam Islam, kaidah halal-haram yang bisa dipakai sebagai pegangan atau panduan dalam menjalani kehidupan sehari-hari?

“Tentu saja kaidah semacam ini ada. Saya mencoba meringkaskannya kedalam tiga kaidah dasar. Kaidah ini tidak bisa menjawab dengan pasti, definitif tentang hukum segala hal, tetapi bisa menjadi semacam “ancar-ancar” yang memandu memahami perkara halal-haram segala sesuatu,” ungkap Gus Ulil melalui akun Facebook pribadinya, Jumat (15/10/2021).

Kaidah ini lanjut Gus Ulil hanya untuk pegangan pribadi, tetapi tidak bisa menjadikan seseorang kemudian menjadi “mufti” yang berhak memberikan fatwa. Untuk merumuskan fatwa, seseorang harus belajar metode tertentu yang membutuhkan waktu lama.

***

Gus Ulil menjelaskan ada tiga kaidah halal-haram dalam Islam secara umum yang bisa digunakan sebagai pegangan pribadi. Pertama, segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah, semuanya haram dilakukan, kecuali hal-hal yang dengan eksplisit dihalalkan oleh agama (baca: Islam). Dalam hal menyembah Allah, aturan agama Islam sangat ketat sekali. Kita tidak dibolehkan menyembah Allah (terutama salat, puasa, dan haji) kecuali dengan mengikuti tata-cara yang diajarkan agama.

Kedua, semua hal yang terkait dengan kehidupan duniawi dibolehkan, alias halal, kecuali yang jelas2 diharamkan oleh agama. Bagaimana prinsip dasar agama dalam menghalalkan atau mengharamkan hal-hal yang bersifat duniawi ini? Inilah prinsip ketiga.

Ketiga, segala hal yang mengandung madarrat (kecelakaan/mencelakai) dan kerugian bagi siapapun, maka hukumnya haram. Sebaliknya segala hal yang mengandung maslahat, kebaikan, ia halal, boleh dilakukan. Mem-“bully” orang lain jelas haram, karena ia mencelakai dan melukai secara psikologis. anda tidak perlu menunggu fatwa ulama sekedar untuk mengetahui keharaman “bullying” atau perundungan.

Lantas bagaimana jika sesuatu mengandung manfaat dan madarrat sekaligus? Dalam situasi riil, banyak hal yang “abu-abu” ada manfaat dan maslahat di dalamnya, tetapi juga ada mafsadah dan madarrat-nya?

Gus Ulil menjelaskan dalam Situasi abu-abu semacam ni, “Ya harus ditimbang: mana yang lebih banyak, maslahat atau madarrat. Jika maslahatnya lebih banyak, mengungguli madarrat, ia hukumnya halal. Begitu juga sebaliknya,” jelasnya.

“Inilah kaidah umum yang bisa kita pakai. Tetapi ini tidak menjamin adanya kesatuan pendapat. Dalam praktiknya, para ulama dan sarjana bisa berbeda pendapat dalam menentukan hukum segala sesuatu. Dan perbedaan semacam ini wajar saja, tidak usah dijadikan alasan untuk bertikai,” tandasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

four × 1 =