Kolom

Gus Ulil: Maksiat Bisa Dimaknai Juga Pembangkangan Terhadap Hukum Alam

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Salah satu cendikiawan muslim Indonesia, Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil memandang kata maksiat sebagai bentuk pembangkangan hukum alam.

Istilah maksiat tidak hanya sekadar melanggar larangan agama dan perintah-Nya saja.

Melainkan juga bisa dimaknai sebagai bentuk pembangkangan terhadap hukum alam dan hukum masyarakat.

Hal itu disampaikan Gus Ulil dalam bukunya berjudul “Menjadi Manusia Rohani” sebagaimana dikutip Hidayatuna.com, Kamis, 17 September 2020.

Gus Ulil meyebutkan bahwa maksiat bisa juga diartikan menentang hukum alam dan hukum masyarakat.

Sebagai informasi, secara bahasa, istilah ‘maksiat’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online dapat diartikan sebagai perbuatan yang melanggar perintah Allah; perbuatan.

Dalam bahasa Arab, ada sejumlah kata yang secara makna mendekati dengan kata maksiat. Yaitu adalah sayyi’ah, khathi’ah, dzanbun, dan itsmun.

Maksiat bisa disebut sayyi’ah, bisa disebut khathi’ah, bisa disebut itsmun, bisa juga disebut dzanbun. Semua sinonimnya, memiliki makna yang berdekatan.

Yang wajib dilakukan adalah mewaspadainya. Maksiat seperti ghibah, bisa disebut dzanbun, bisa disebut maksiat, bisa juga disebut khathi’ah.

Dengan demikian, setiap mukmin wajib menjauhi segala yang Allah haramkan baginya.

Baik dia sebut dosa, itsmun, khati’ah, atau maksiat. Menghindari semua perbuatan buruk yang Allah haramkan.

Baik dinamakan khathi’ah, sayyi’ah, maksiat, atau itsmun.

Semua harus diwaspadai atau dijauhi, karena semua itu adalah nama untuk segala yang Allah larang. (Hidayatuna/MK)

Baca Juga :  Bermain Petak Umpet
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close