Gus Dur, Sealim-Alimnya Manusia Alim Zaman Ini

 Gus Dur, Sealim-Alimnya Manusia Alim Zaman Ini

Gus Dur (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Sejak masih remaja, nama Gus Dur mulai akrab dikenal. Namun, hanya sebatas bahwa beliau adalah cucu Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy’arie seorang pendiri Nahdlatul Ulama.

Saat itu bapak pluralisme ini juga dikenal sebagai orang yang kritis, berani melawan pemerintahan Orde Baru yang dikenal otoriter. Akibatnya, banyak berita miring tentang figur Gus Dur. 

Sering sekali penulis dibuat kebingungan bagaimana bisa perilaku seorang Gus, keturunan darah biru “premium edition” pesantren bisa aneh dan nyeleneh. Tidak pernah ada contoh seperti itu sebelumnya.

Penulis hanya diam saja hingga akhirnya beliau, KH Abdurrahman Wahid menjadi Presiden Indonesia. Sebagai Presiden, tentu saja menjadi sorotan publik.

Segala perilaku, gerak, apalagi pernyataan beliau selalu saja bisa kita ikuti di mana-mana. Melihat hal ini, lama-lama penulis merasa tidak nyaman. Akhirnya, bertanya kepada guru penulis, Kiai Iskandar Jogja almarhum. Beliau merupakan Santri Hadlrotusy Syaikh Mbah Hasyim Asy’arie.

“Mbah, Gus Dur itu, kan, Kyai. Tapi kok perilakunya seperti itu ya, aneh tur nganeh-anehi,” tanya penulis kepada Mbah Yai Is.

***

Mbah Yai Is tersenyum. Beliau menjawab, “Aslinya, Gus Dur itu tidak aneh. Kita saja yang tidak nuntut ilmunya sehingga memandang beliau aneh. Seandainya orang seperti simbah ini ada seribu, diikat, dikumpulkan jadi satu, ilmunya tidak ada sekuku hitamnya Gus Dur. Gus Dur iku alim-alime wong paling alim jaman iki.” 

Penulis kaget setengah mati mendengar jawaban ini. Rasa malu dan kagum bercampur jadi satu. Penasaran juga, dan entah kenapa, menjadi sebuah kerinduan untuk bisa langsung bermuwajahah dengan bapak pluralis ini.

Saat itu juga, penulis mohon doa dan restu dari Mbah Yai supaya bisa bertemu dengan Gus Dur dan belajar dari beliau. Doa Mbah Yai Is dikabulkan Gusti Allah.

Tahun 2001 beberapa bulan setelah beliau tidak menjadi Presiden, pada suatu acara di Jogja, penulis berhasil ketemu beliau. Subhanallah. Tidak ada kata yang bisa melukiskan kebahagiaan waktu itu, bertemu dengan sealim-alimnya manusia paling alim di jaman ini. 

Pertemuan dengan sosok yang terkenal dengan jargon ‘gitu aja kok repot’ ini menjadi lebih instensif setelah penulis hijrah ke Jakarta pada bulan Mei 2005 hingga berangkatnya beliau ke rofiqul a’la pada 30 Desember 2009.  Walau sekejap pertemuan itu, namun tali rasa yang dijalin, sebagai guru, orangtua, kekasih, pecinta pemikiran beliau tidak akan pudar dan cerita ini akan penulis turunkan kepada anak cucu. 

Berangkatnya Gus Dur ke rofiqul a’la menjadi ayat dan hikmah yang luar biasa. Yakni, terjalinnya silaturahim dengan keluarga, murid dan pecinta beliau di seantero dunia.

Shuniyya Ruhama

Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri-Kendal

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

five × 1 =