Gus Dur dan Spirit Kebudayaan

 Gus Dur dan Spirit Kebudayaan

Analogi Gus Dur Soal Negara dan Agama (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Berbicara mengenai Gus Dur tidak hanya berhenti pada sikap toleransi, kemanusiaan, dan pluralisme. Gus Dur telah menjelma sosok yang mempunyai perhatian lebih pada kebudayaan.

Di mana ide untuk melirik kesejarahan dalam menghadirkan agama (Islam) dalam sendi-sendi kehidupan di Indonesia mendapat respon baik dari berbagai kalangan. Bagi Gus Dur agama harus hadir untuk memahami dan berkolaborasi dengan kebudayaan masyarakat.

Lalu bagaimana dengan keberagamaan kita hari ini? Sudahkah menjadikan agama (Islam) sebagai wadah untuk menampung kebudayaan atau malah sebaliknya, menjadi penghancur?

Aksi teror yang terjadi di Desa Lembantongoa, Sigi, Sulawesi Tengah menjadi berita duka bagi warga Indonesia. Kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso menewaskan empat orang setelah dianiaya.

Kasus ini mendapat respon dari orang nomor satu di Indonesia, seperti dilansir koran TEMPO.CO. “Tindakan yang biadab itu jelas bertujuan untuk menciptakan provokasi dan teror. Di tengah-tengah masyarakat yang ingin merusak persatuan dan kerukunan di antara warga bangsa,” kata Jokowi, dalam keteranganya, Senin (30/11/2020).

Bahkan yang tidak kalah menghebohkan, kasus penjemputan Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab di saat Indonesia masih diambang keterpurukan karena pandemi Covid-19. Organisasi yang mengatasnamakan pembela Islam ini justru berkerumun pada situasi pandemi.

Inilah yang dalam kacamata Gus Dur kegagalan dalam memahami kecintaan pada tokoh dan agama yang sangat fatal. Masyarakat justru terjebak pada jubah yang dibungkus dengan agama, bukan pada nilai agama itu sendiri.

***

Gus Dur menawarkan cara memahami agama dalam kacamata yang luas, bukan terjebak pada formalitas kelembagaan. Sebab, ketika agama hadir dan dipahami hanya suatu institusi belaka, maka ia akan tercerabut dari akar nilai-nilai kesejarahannya.

Di mana dulu pada masa Nabi Muhammad, Islam mampu merespon laju peradaban dan terbuka bagi komunitas agama lain. Dengan demikian sehingga kehidupan pun harmonis, damai dan sejahtera bisa digapai bersama.

Dalam buku Islam Kosmopolitan; Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan Gus Dur menulis mengenai persoalan kebudayaan. Salah satunya bagi Gus Dur sudah ada kecendrungan formalisasi ajaran Islam ke dalam seluruh aspek kebudayaan Indonesia.

Contoh sederhananya adalah menggantikan pakaian batik, songkok, dan sarung dengan jubah, surban dan gamis, kemudian kerudung diganti dengan cadar dan juga seterusnya. Jika hal ini terus berkembang, maka kebudayaan Indonesia lama-lama akan musnah.

Mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU, Sastro Al Ngatawi mengatakan, bahwa kebudayaan bagi Gus Dur tidak hanya sekadar karya. Akan tetapi harus menjadi bagian dari laku dan praktik hidup manusia dalam rangka mengembangkan potensi diri untuk menegakkan harkat dan nilai-nilai kemanusiaan.

Artinya, dengan kebudayaan, agama (Islam) akan menemukan pijakan dalam kehidupan masyarakat Nusantara.

***

Cara beragama dengan melirik kebudayaan justru diajarkan oleh para Wali Songo untuk menyebarkan ajaran Islam di Nusantara. Para wali yang membawa visi Islam tidak langsung merombak dan menghancurkan nilai-nilai kebudayaan lokal.

Pelan-pelan mereka memasukkan nilai keislaman pada tradisi masyarakat Nusantara yang notabene kuat secara kepercayaan. Salah satu contohnya, para wali menggunakan dakwah tembang dan wayang dalam menyebarkan ajaran Islam.

Di sinilah apa yang dikatakan oleh Gus Dur menemukan sinyal baik, bahwa esensi Islam tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, melainkan pada akhlak yang dilaksanakan. Demikian juga Gus Dur menilai bahwa masyarakat Muslim Indonesia sedang terpapar virus Arabisasi yang berkembang menjadi Islamisasi.

Kelompok tersebut cendrung ingin mewujudkan berbagai keagamaan dalam bentuk dan nama yang diambil dari Bahasa Arab. Gus Dur menilai hal ini hanya sikap ketidak percayaan diri umat Muslim membendung arus globalisasi dan kemajuan Barat. Oleh sebab itu mereka menampilkan label Arab diyakini sebagai obat tembok ampuh melawan ancama tersebut.

Untuk menjawab fenomena keagamaan hari ini, kita harus kembali melihat sejarah masa lalu. Sejarah yang lebih mengedepankan nilai-nilai kebudayaan untuk mempertahankan ajaran agama.

Kebudayaan yang dimaksud adalah tradisi leluhur kita yang lebih mengutamakan nilai kekeluargaan, kerjasama, toleransi, dan kasih sayang yang tidak terjebak pada formalitas agama. Maka, cara terbaik bagi umat Islam hari ini adalah mengakui pluralitas yang dibawakan oleh agama Islam dan juga Kebudayaan bangsa.

Muhammad Syaiful Bahri

Belajar menulis esai dan resensi di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY)

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *