Gus Baha Jelaskan Sikap Orang Beriman dalam Surat At-Taubah

 Gus Baha Jelaskan Sikap Orang Beriman dalam Surat At-Taubah

Gus Baha (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan bagaimana sikap orang beriman Ketika menghadapi udzur. Orang beriman berbeda dengan orang kebanyakan meskipun diperbolehkan meninggalkan suatu ibadah atau kewajiban.

Begini Penjelasan Gus Baha:

Ijtihadnya para Nabi itu bisa salah tapi salah dari ikhtimal, salah meninggalkan afdhol. Salah salah standart bukan salah yang jatuh ke haram atau maksiat.

Misalnya begini, ada si A ini munafik bertanya kepada Nabi “apa engkau besok engkau mau perang?” Nabi menjawab “ya besok aku perang”. Lalu A berkata “Istri saya lagi hamil tua, anak saya masih kecil. keluarga saya juga sedang pada sakit. Jadi saya izin besok tidak ikut berperang.”

Karena alasannya rasional secara fikih Nabi harus membenarkan atau membolehkan. Banyak orang-orang munafik menggunakan alasan harta dan keluarga tersebut sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Fath Ayat 11:

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا ۚ يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا ۚ بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Artinya: “Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ini di ingat-ingat biar teman-teman disini tidak menjadi orang yang munafik, saya juga takut. Ayat ini sejak kecil saya faham dan itu saya pegang sampai sekarang. Meskipun secara fikih benar. Pokoknya kalau ada kyai sakit, santri sakit udzur bahkan boleh tidak jumatan karena udzur.

Tapi Allah tidak menerima alasan tersebut, Nabi memberi izin menurut Allah salah. Karena Allah memiliki kaidah dan kaidahnya Allah tentu lebih benar. Kemudian Allah berfirman dalam Surat At-Taubah Ayat 44:

لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ

Artinya: “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.”

Tidak mungkin orang yang mentalnya memiliki iman demi Allah demi Rasul meminta izin tidak perang, kalau izin berarti pasti orang munafik. Jadi jika orang sunguh-sunguh beriman meskipun istrinya sakit bahkan mau meninggal atau anaknya sakit kalau Allah ngutus pasti berangkat, karena anak dan istrinya adalah milik Allah. Jadi tidak mungkin membandingkan perintah Allah dengan keadaan keluarga.

Kemudian Allah membuat kaidah kedua dalam Surat At-Taubah Ayat 45

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ

Artinya: “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.”

Kalau setiap diajak jihad pamit dan senang memiliki alasan pasti hatinya sudah tidak iman. Itu paling berbahaya. Makanya surat ini disebut Surat Taubat atau Surat Baroah sampai tidak boleh membaca bismillah karena itu surat anti fikih.

Apakah orang bisa menjalani? contohnya saja begini, tidak usah tersingung. “Kamu kalau jadi kyai sedang sakit sah apa tidak kalau tidak mengajar? atau istri marah? sah kalau libur. Bingung sekali menghadapi istri marah.”

Masalahnya adalah kita selalu tidak adil ketika ditanya Tuhan. Kalau mengaji libur karena sakit, tetapi kalau diberi salam tempel tetap diterima meskipun sakit. Masak mau bilang “saya sedang sakit jadi tidak mau menerima” kan tidak bisa hehe.

Ini tidak fair, kewajiban dibatalkan karena sakit, tapi kalau fasilitas tetap diterima padahal sedang sakit. Makannya kedudukan orang-orang afdhol itu anti alasan karena takut dengan perbandingan tadi.

Misalnya kamu tidak shalat jumat karena sakit, apa saat itu kalau anda difasisilitasi Tuhan disalami tempel orang yang lagi menjenguk apa mau nolak?. “Mohon maaf saya sedang sakit, tidak bisa menerima rahmat”. Jadi kewajiban dan rahmat sama-sama tidak mau, itu baru adil. Tapi kan tidak itu yang dilakukan.

Sakit itu selalu dijadikan alasan untuk membatalkan kewajiban tetapi tetap menerima rahmat. Makanya saya sakitpun mengaji, habis tabrakan ya mengaji. Ibu saya mu operasi, istri saya mau melahirkan saya tetap mengajar.

Jadi begitu, makanya nanti kalau anda hidup menghadapi kyai, menghadapi santri, menghadapi teman kalau banyak alasan sudah pasti pecundang. Orang beriman pasti sami’na waato’na. Walaupun alasan dimaklumi Allah tapi kelasmu kelas fikih. Kelas fikih itu ya tadi mirip atau menyerempet apa? “munafik”. Kamu yang bilang lho hehehe.

Kalau Allah sudah membandingkan begitu kita tetap kalah. Makannya jaman sahabat sepakat kalau ada udzur itu tidak usah jamaah, bebas. Tapi orang tahu semua, sahabat dipangku dipapah jamaah. Lho yang menyampaikan itu Nabi, Nabi kan sebaik-baiknya manusia “kalau kamu udzur tidak usah jamah shalat di rumah saja.”

Tapi Nabi sendiri sakit keras dipapah fadhol dan rojul. Orang tahu semua ketika Nabi sakit tetap jamaah dengan dipapah, padahal dosanya Nabi diampuni. Orang kalau sudah kena Allah tidak ada alasan.

Sumber Link Audio-Visual:
Gus Baha Apa Hukumnya Shalat Jumat?”

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seventeen − 15 =