Gus Baha: Beramalnya Orang Miskin Itu Dramatis

 Gus Baha: Beramalnya Orang Miskin Itu Dramatis

Gus Baha Beramalnya Orang Miskin Itu Dramatis

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Ulama muda ‘alim asal Rembang, Jawa Tengah Gus Baha atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim menilai beramalnya orang miskin itu lebih keren dibanding dengan beramalnya orang kaya.

Dirinya menyebut beramalnya orang miskin itu dramatis. Karena yang dipertaruhkan adalah kelangsungan hidup karena keterbatasan yang dimilikinya. Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad SAW sangat menyukai orang-orang miskin.

“Hebatnya orang miskin itu, kalau ngamal (beramal) itu dramatis. Betul itu. Jadi kenapa, makanya Kanjeng Nabi suka sama orang miskin itu,” ujar Gus Baha dalam sebuah potongan video pengajiannya yang diunggah akun Facebook Ayo Ngaji dikutip Hidayatuna.com, Rabu (8/7/2020).

“Jadi saya pernah ditanya. Saya punya temen yang kaya raya. Dia biasa ngamal (beramal) 1 milyar, 2 milyar. Dia gak terima sama fatwa saya.”

“Gus, kenapa Anda masih memuji orang miskin? Beramalnya itu banyak saya. Saya sekali beramal bisa 1 milyar, setengah milyar,” cerita Gus Baha.

“Tapi kata saya,” lanjut Gus Baha, “Ngamal (beramal) kamu itu gak dramatis. Gak seru,” kata Gus Baha..

Lalu dia tanya, “Kok bisa Gus?”

“Dia orang kaya, paling beramal 1 milyar untuk bangun masjid atau setengah milyar bangun pondok. Tapi kalau orang miskin, misalnya tukang becak. Orang miskin kan pasti kawannya orang miskin. Kan gak mungkin orang miskin utang Aburizal Bakrie, utang Jusuf Kalla, kan gak mungkin. Kenal saja gak!” ujarnya.

Gus Baha menjelaskan, “Orang miskin kan utangnya sesama orang miskin. Itu pasti itu, itu kan hukum sosial,” jelasnya.

Misalnya orang yang mau diutangi sesama orang miskin, “Hari itu anaknya gak makan, hari itu istrinya mau melahirkan. Utang sesama orang miskin, dihutangi 50 ribu. Tapi, uang ini dramatis. Kalau hari itu gak makan, mati,” ujarnya.

Artinya apa? Gus menjelaskan jika ada orang beramal 1 milyar untuk sebuah bangunan atau kadang untuk aksesoris. Sementara kalau orang miskin ia memberikan hutangan semisal Rp. 50 ribu, taruhannya mereka nyawa.

“La sekarang menyelamatkan nyawa sama bangunan, keren mana?” Tanya Gus Baha.

“Maka berbahagialah orang miskin, karena komunitas mereka ini hutang piutang urusan nyawa. Jadi lebih dramatis kira-kira (begitu), lebih dramatis, lebih keren. Makanya utang piutang orang miskin itu diabadikan Qur’an. Karena lebih keren. Karena nyawa taruhannya,” jelasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twelve − 4 =