Cancel Preloader

Gus Baha

Gus Baha Anti dengan Adat Makan Saat Mengaji

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Gus Baha dalam ceramahnya sempat mengaku anti dengan tradisi NU yakni makan saat mengaji atau pengajian. Di mana pun ia mengisi kajian, begitu datang Gus Baha langsung menyampaikan materi.

Gus Baha tidak mengikuti tradisi kiai lainnya yang ketika diundang ceramah, hal yang pertama dilakukan saat tiba ialah makan.

Kemudian di sela acara ada lagi acara makan-amakan atau sekadar minum teh sehingga saling bertumpuk. Satu mengaji, satunya menikmati makan. Belum lagi setelah selesai mengaji masih diiringi dengan makan.

Hal itu dilakukan oleh Gus Baha sebab menurutnya, saat menyampaikan kajian berarti sedang membaca Alquran. Dalam menyampaikan firman Allah sebaiknya diam dan didengarkan.

Sebagaimana Ibadah Qiyamul Lail, Begitulah Mengaji

Rasulullah Saw pernah diutus untuk melaksanakan salat malam. Namun salat malam itu ekstrem, yakni dilakukan hampir setengah malam. Itu pun jika mampu harus ditambah.

Mengapa demikian? Menurut penuturan Gus Baha, saat siang hari, orang melakukan banyak kegiatan seperti berdagang, bertani, mengajar. Benar bahwa kerja itu merupakan ibadah, namun bagaimana pun bekerja itu ibadah keduniawian.

Oleh sebab itu, melakukan ibadah kerja tidak bisa menandingi ibadah di keheningan malam karena itu menyangkut ketenangan dalam mengingat Allah SWT. Ibadah bekerja ini sarat akan hal-hal yang bersifat kelalaian manusia.

Misalnya, Gus Baha menjelaskan, dalam berdagang ketika mengalami kerugian bisa saja manusia akan mengeluh. Inilah kelalaian pertama manusia dalam menjalankan ibadah. Berbeda dengan ketika beribadah di malam hari, ketenangan mudah didapat sehingga meminimalisir kelalaian tersebut.

Mencari keuntungan besar bagi pedagang pun menimbulkan kegelisahan. Transaksi yang dilakukan juga merupakan transaksi panas. Intinya sesuatu itu tidak murni. Saat melakukan ibadah qiyamul lail, kita beristighfar mengingat Allah SWT.

Mengaji Adalah Ibadah Murni

Berzikir juga mengingat Allah secara penuh. Suasananya ingat dosa. Bagaimana pun, saat malam hari itu adalah saat yang tepat untuk mengingat Allah SWT. Cara murni dan cara tulus.

Begitu pun ketika kita mengaji. Mengaji adalah cara mengingat Allah, hal itu merupakan ibadah murni dan tulus yang dilakukan secara khusus. Untuk itu Gus Baha lebih memilih tidak menjalankan tradisi NU yang telah turun-temurun itu.

Gus Baha anti dengan adat makan saat sedang mengaji karena baginya mengaji adalah ibadah murni. Mengaji sama halnya dengan mengingat Allah di sepertiga malam sehingga tidak ingin diiringi oleh ibadah keduniawian seperti halnya makan.

Namun bagaimana pun, makan saat mengaji tidak ada larangannya secara hukum Islam. Itu kembali kepada pribadi masing-masing, dan Gus Baha merupakan pribadi yang khusyuk. Semoga kita bisa mengikuti pribadi khusyuk yang diamalkan oleh Gus Baha dalam mengaji.

 

Pipit Enfiitri

Pipit Enfiitri

https://hidayatuna.com/

Suka menulis hal-hal random yang dekat dengan dirinya.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 + 4 =