Cancel Preloader

Guru Syaikhona Kholil Bangkalan dari Tatar Sunda

 Guru Syaikhona Kholil Bangkalan dari Tatar Sunda

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Sebagai ulama besar di Nusantara, Syaikhona Kholil Bangkalan memiliki pengaruh besar terhadap keberlanjutan keilmuan ulama-ulama Nusantara lainnya. Di mana jejaring keilmuan Syaikhona Kholil Bangkalan terhubung dengan Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan tang merupakan seorang ulama dari Tatar Sunda.

Lantas bagaimana Syaikhona Kholil Bangkalan (w. 1925) bisa terhubung jaringan keilmuannya dengan Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan (w. 1941)?

Pakar Filologi Islam, A Ginanjar Sya’ban menjelaskan bahwa di antara guru Syaikhona Kholil Bangkalan di kota suci Makkah adalah Sayyid Ahmad b. Zaini Dahlan (w. 1885).
“Beliau adalah mufti madzhab Syafi’i di Makkah yang juga menjadi mahaguru ulama Nusantara di Makkah generasi akhir abad 19 M,” ungkap Ginanjar dilansir dari unggahan akun facebook pribadinya dikutip Ahad (3/1/2021).

Di antara murid beliau, selain Syaikhona Kholil Bangkalan, lanjut Ginanjar terdapat nama lain seperti Syaikh Nawawi Banten (w. 1897), Sayyid Usman b. Yahya (w. 1913), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916), Syaikh Mahfuzh Tremas (w. 1920) dan lain-lain.

Sayyid Ahmad b. Zaini Dahlan sendiri memiliki sejumlah karya kitab yang masih populer saat ini. Salah satunya kitab karanganya yang masih dipelajari dan tersebar di instansi pendidikan tradisional di Nusantara adalah “Syarh Mukhtashar Jiddan ‘alâ al-Âjurûmiyyah”.

Kitab ini mempelajari dalam bidang kajian gramatika bahasa Arab. “Kitab ini kemudian di-hâsyiah (diberi komentar panjang) oleh Syaikh Ma’shum b. Salim Semarang (w.?). Hâsyiah tersebut berjudul “Tasywîq al-Khallân ‘alâ Syarh Mukhtashar Jiddan” yang ditulis pada tahun 1884-an,” ujar Ginanjar.

Perjumpaan Keduanya

Ginanjar menjelaskan perjumpaan antara Syaikhona Kholil Bangkalan dengan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan terekam dalam manuskrip biografi Syaikhona Kholil Bangkalan yang ditulis oleh Syaikh Yasin Padang (w. 1991).

Adapun bunyi manuskrip tersebut menuliskan bahwa, “Di Makkah, Syaikhona Kholil Bangkalan mengaji kepada Mufti [Madzhab Syafi’i] Sayyid Ahmad b. Zaini Dahlan al-Makki.
Syaikhona Kholil belajar dan mulazamah kepada Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam beberapa tahun lamanya,” tulisa penggalan manuskrip tersebut.

Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan pula Syaikhona Kholil lulus. Dari beliau, Syaikhona Kholil belajar dalam bahasa Arab, nahwu, ilmu qira’at, tafsir, hadits, ushul fikih dan fikih madzhab Syafi’i.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan juga memberikan Syaikhona Kholil kredensi (ijazah) umum atas jalur transmisi keilmuan (riwayah), juga memberikannya izin untuk mengajar.

Sayyid Ahmad b. Zaini Dahlan memiliki keponakan yang diasuhnya sejak kecil, yaitu Sayyid Abdullah b. Shadaqah b. Zaini Dahlan. Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan juga yang di kemudian hari menggantikan posisi dan kedudukannya sebagai imam dan pengajar madzhab Syafi’i di Masjidil Haram di Makkah.

Sejak tahun 1356 H/ 1937 M, Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan memilih menetap di Garut, tepatnya di kampung Karang Pawitan, Ciparay, hingga akhir hayatnya pada tahun 1360 H/ 1941 M.

Sebelum menetap di Garut, Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan telah beberapa kali datang ke Nusantara (Singapura, Malaya, Sumatra, Jawa, dam Sulawesi), tercatat sejak tahun 1318 H (1900 M).

“Beliau banyak membantu beberapa ulama Nusantara yang menjadi kawannya dalam upaya mendirikan institusi pendidikan Islam, di antaranya adalah Madrasah Nurul Islam di Jambi, juga Madrasah As’adiyah di Sengkang (Sulawesi Selatan),” tandasnya.

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one × 5 =