Guru Mansur: Ulama Betawi yang Menguasai Ilmu Falak

 Guru Mansur: Ulama Betawi yang Menguasai Ilmu Falak
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Kyai Muhammad Mansur atau Guru Mansur merupakan kakek buyut dari ulama kondang Ust. Yusuf Mansur, beliau adalah ulama dan seorang pejuang kemerdekaan dari Betawi. Beliau lahir pada 1878 di Kampung Sawah Jembatan Lima, Jakarta Pusat. Ia putera Imam Abdul Hamid bin Imam Muhammad Damiri bin Imam Habib bin Abdul Mukhit. Ia diyakini seorang keturunan Kerajaan mataram karena kakek buyutnya, Abdul Mukhit atau Pangeran Tjokrodjojo adalah tumenggung dari Kerajaan Mataram.

Saat usianya menginjak 16 tahun, beliau pergi ke Mekkah bersama ibunya untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut agama selama empat tahun. Ia berguru pada sejumlah ulama di antaranya Syaikh Sa’id Al-Yamani, Syaikh Umar Bajunaid Al-Hadrami, Syaikh Muhammad Ali Maliki, Syaikh Muhammad Mukhtar Athorid Al-Bogori dan Syaikh Said Tamani. Dalam belajar ilmu falak, ia berguru pada Abdurrahman Misri, ulama dari Mesir dan Ulugh Bek, ulama asal Samarkand.

Setelah empat tahun belajar agama, ia kembali ke Tanah Air namun terlebih dahulu singgah di Aden, Benggala, Kalkuta, Burma, India, Malaya dan Singapura. Setiba di kampung halaman, ia sering membantu ayahnya dalam mengajar di rumahnya, yang menjadi tempat para pemuda pemudi Betawi menuntut ilmu agama. Menurut informasi dari K.H. Fatahillah (cucu Guru Mansur), tidak ada ulama lain pada masanya yang menguasai ilmu falak selain guru Mansur. Ketertarikan beliau terhadap ilmu karena dipicu oleh sering terjadinya perbedaan penetapan awal ramadhan dan Idul Fitri, ia kemudian mendalami ilmu falak berdasarkan perhitungan ilmu hisab.

Semasa hidupnya beliau pernah mengajar di madrasah Jami’atul Kheir. Saat mengajar di sinilah ia mengenal banyak tokoh islam, seperti Syaikh Ahmad Syurkati dan K.H. Ahmad Dahlan. Ia juga pernah diangkat sebagai penghulu di daerah Penjaringan, dan diangkat sebagai Rois Nahdatul Ulama cabang Betawi pada era K.H. Hasyim Asy’ari. Beberapa kitabnya adalah : Sullam An-Nayrain, Khulashah al-jadawil, Kaifiyah Al-Amal Ijtima, Mizan al-Itidal dan Washilah Ath-Thulab.

Guru Mansur wafat pada 12 Mei 1967, Jenazahnya dimakamkan di halaman Masjid Al-Mansuriah kampung Sawah, Jembatan Lima. Orang Betawi senantiasa mengenangnya dengan pesan bijaknya “Rempuk (musyawarah)! Kalau jahil belajar, kalau alim mengajar, kalau sakit berobat, Kalau jahat lekas Tobat”

Sumber : Ensiklopedi Pemuka Agama Nusantara, Badan Litbang dan Dilat Kementrian Agama

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

18 − nine =