Filsafat, Sunnah Nabi dalam Berpikir

 Filsafat, Sunnah Nabi dalam Berpikir

Filsafat

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Ketika mendengar kata filsafat mungkin yang tergambar di pikiran kita sejelimet pemikiran yang begitu susahnya. Sederet term yang demikian sulit dicerna.

Sederet pernyataan sikap terhadap filsafat mungkin akan ditemukan seperti ini, “filsafat  produk orang kafir kok dipelajari. Filsafat itu haram, awas ikut kafir! Awas atheis, dan bahkan (mungkin) akan timbul keawas-awasan lain yang sama sinisnya”.

Sebenarnya filsafat sama halnya dengan bidang ilmu lain, yang terkadang menuai kesulitan dan terkadang juga mudah dipahami. Andai saja filsafat juga dikenalkan sejak dini, minimal pernah dipelajari laiknya ilmu lain mungkin juga ada yang mengatakan susah, dan beberapa yang lain mengatakan mudah.

Namun sayang, yang menjadi problem adalah belum juga menyelidiki dan membaca teks-teks filsafat telah menyatakan kesulitannya. Atau langsung membaca pemikiran-pemikiran tokoh secara langsung misalnya bertemu dengan pernyataan filsuf soliter si Nietzsche “TUHAN TELAH MATI”. Tentu saja secara spontan akan mengalami shock.

Coba saja ditata sebelumnya dengan pondasi yang kuat tatanan dasar-dasar filsafatnya tentu tidak akan terjadi kekagetan yang menimpanya, mengikuti alur kecamuk pemikiran dari sejak awal hingga saat ini. Masa iya untuk menaiki anak tangga harus langsung menapak ke tangga yang paling tinggi, tentu akan susah bukan? Tidak hanya filsafat, hal ini pun berlaku untuk semua cabang ilmu pengetahuan.

Filsafat

Pendiskreditan terhadap penggiat filsafat ternyata juga dialami filosof muslim awal. Justifikasi kafir dan bid’ah juga dialami Al-Kindi yang dikenal sebagai bapak filosof Muslim.

Ia mencoba mengenalkan filsafat dengan cara yang sistematis hingga berusaha untuk ketersaling-gandengan antara filsafat dan Islam. Ia pun juga terlibat dalam transliterasi buku-buku filsafat ke dalam bahasa Arab. Banyak lika-liku yang dialaminya, berbagai macam hinaan, cacian hingga pengasingan pun ia alami,

Ibnu Rusyd juga mengalami hal yang sama. Ia mencoba mengintegrasikan secara lebih detail titik temu antara filsafat dan agama yang dianggap bertentangan. Ia menuliskan dalam bukunya Fashl al-Maqal fi ma Baina al-Hikmah wa al-Syariah.

Ia juga pernah difitnah sebagai orang kafir dan zindiq lantaran kesibukannya mempelajari filsafat. Hingga beberapa karyanya dibakar bahkan pernah juga dipenjara akibat fitnah tersebut.

Memang banyak akan kita temukan para filosof yang atheis dengan pemikirannya yang sangat mengkritik tajam atas agama dan komponen-komponennya. Meski demikian, di sisi yang berbeda juga banyak ditemukan sosok filosof yang begitu agamis dan religius. Meminjam istilah Prof. Musa Asy’ari berfilsafat justru merupakan sunnah nabi dalam berpikir.

Berfilsafat dalam Islam

Perkara ada seseorang yang karena mempelajari filsafat ia menyangkal keberadaan Tuhan. Tentu kita tidak dapat menggenalisir bahwa filsafat-lah yang membuat orang itu menjadi atheis. Banyak juga, kok lantaran belajar filsafat semakin religius, lebih teguh dan kokoh imannya.

Ibarat kata pisau yang mampu mengupas apel, dengan pisau yang sama juga bisa menghilangkan nyawa seseorang, lantas apakah kita akan melayangkan tuduhan atau justifikasi salah terhadap pisau? Jika iya, mungkin anda harus kembali ke dokter barangkali ada yang salah satu sel saraf yang putus.

Betapa banyak pengulangan ayat Alquran yang mewanti-wanti kita agar terus berpikir dan menelaah sekitar. Paling tidak akan kita temukan beberapa penggalannya seperti ini; “afala ta’qilun, tadabbarun, tatafakkarun, dll.

Dalam Surah al-Ghasyiah ayat 17-20 Allah memancing manusia agar senantiasa menelaah alam dengan anugerah teragungNya berupa akal budi;

أفلا ينظرون إلى الإبل كيف خلقت، وإلى السماء كيف رفعت، وإلى الجبال كيف نصبت، وإلى الأرض كيف سطحت

Dalam hadis juga dikatakan “Agama adalah akal, tak ada agama bagi orang yang tak berakal”

Haidar Bagir dalam bukunnya Mengenal Filsafat Islam (2020) menyebutkan sesungguhnya filsafat dapat digunakan sebagai cara mendekati ajaran Islam. Hal ini dilakukan dari luar teks-teks Islam melalui akal budi manusia yang merupakan karuniaNya. Sekaligus dapat memberikan pembenaran (justifikasi) logis atas ajaran-ajaran Islam.

Ibnu Rusyd juga menyatakan filsafat dan Islam laiknya saudara sepersusuan. Keduanya sama-sama berorientasi menemukan kebenaran karena kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran (Demonstrative truth and scriptural truth cannot conflict). Bukan malah meruntuhkan iman, namun justru menopang lebih kuat keimanan dengan berpikir logis-metode berpikir demonstrasionalnya.

Maka dari itu, akan terasa kurang jika hanya beragama sebatas mengerjakan simbol-simbol keagamaan tanpa mengetahui maksud dan tujuan sang Khalik. Tanpa mengerti kandungan nilai-nilai tersirat yang terkandung.

Pembunuhan Filsafat sama dengan Pembunuhan Peradaban

Jika kita mau menelisik lebih jauh kebangkitan peradaban besar masa lalu juga lantaran filsafat. Kejayaan peradaban Yunani kuno lantaran filsafat yang berani berpikir out of the box melampaui alam pikiran mitos hingga ke logos yang dipelopori oleh Thales, Anaximandros, Heraklitos, dan kawan-kawan.

Dari mitos hingga logos tadi menjadi pemantik pertarungan pemikiran (ghazwat al-fikr) yang pada puncaknya dipunggawai Socrates. Hingga muridnya Plato, bahkan Aristoteles , dan lain-lain turut memperkaya khazanah peradaban Yunani melalui sumbangsih pemikirannya.

Bahkan ada yang mengatakan khazanah Pemikiran Timur maupun Barat dewasa ini merupakan catatan kaki dari Plato dan Aristoteles.

Dari filsafat-lah terlahir aneka macam cabang ilmu pengetahuan. Tak heran jika ada yang mengatakan filsafat sebagai mother of knowledge. Ibarat kata sebuah pohon, filsafat menjadi akar dari batang dan ranting-ranting ilmu pengetahuan yang tumbuh rindang.

Mari sejenak flashback ke Abad Pertengahan. Pembunuhan terhadap filsafat semarak terjadi, filsafat mengalami kemerosoton sehingga pada masa itu filsafat tidak lagi digalakkan sebagaimana sebelumnya. Akhirnya tidak banyak muncul filosof yang sangat gemilang, filsuf tersohor sebagaimana sebelumnya (Socrates, plato, Aristoteles).

Sebab terkurung kebebasan berpikir yang dilarang oleh gereja karena dianggap dapat merusak tatanan sosial, politik, hingga keagamaan seseorang.

Filsafat dan Kemajuan Islam

Diakui atau tidak, kegelapan yang terjadi menjadi salah satu faktor yang dialami Abad Tengah tidak lain dan tidak bukan karena permusuhannya dengan filsafat yang menjeruji kebebasan berpikir umatnya.

Kejayaan peradaban Islam (golden age) pun karena sifat keterbukaanya terhadap peradaban lain, bersifat welcome tidak anti meski dari peradaban dari yang berbeda agama sekalipun. Transliterasi dari Suryani hingga Yunani ke dalam Bahasa Arab hingga berdiri Baitul Hikmah sebagai jantung peradaban Islam.

Pada masa itu Islam menjadi kiblat pengetahuan. Banyak pula lahir para ilmuan-ilmuan jenius yang merangkap menjadi filosof sekaligus.

Bayangkan saja jika Islam pada masa itu begitu tertutup tidak mau menerima khazanah keilmuan yang berkembang dari peradaban lain dengan dalih perbedaan agama misalnya. Apa mungkin Islam akan menjadi kiblat pengetahuan? Apa mungkin kemajuan dan kepesatan berpikir kaumnya akan secanggih saat itu?

Sungguh ironi jika di satu sisi kita membangga-banggakan masa itu, akan tetapi sekaligus mengutuk dan mendiskreditkan unsur penting pembangunnya. Wallahu ‘Alam bi as-Shawab

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ten + 7 =