Kabar Daerah

Film Al Ghoriib, Sebuah Kisah yang Tidak Biasa

HIDAYATUNA.COM, Bantul – Pertengahan bulan kemarin dilangsungkan Pemutaran dan Diskusi Film “Al Ghoriib: Sebuah Kisah tentang Kemungkinan yang Asing”. Acara ini diselenggarakan oleh diselenggarakan oleh Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) Kabupaten Bantul di di Gedung Kantor PCNU Bantul.

Acara diskusi menghadirkan Vedy Santoso (sutradara film al-Ghoriib), Dr. Katrin Bandel (santri PP Al Munawwir, subyek utama film al-Ghoriib), dan Awaludin Mualif (Ketua Lesbumi Yogyakarta).

Sutradara film al-Ghoriib Vedy Santoso membuka diskusi dengan menjawab Apa itu Al Ghoriib? dan Mengapa Al Ghoriib saya pilih sebagai judul film?. Ghoriib merupakan Bahasa Arab yang berasal dari kata “garaba” yang artinya asing. Sedangkan ghariib pengertiannya adalah bacaan-bacaan yang tidak lazim, sesuatu yang tidak biasa.

“Saya pilih sebagai judul film karena ide dasarnya bermula dari pengamatan saya pada sosok Dr. Katrin Bandel, muallaf asal Jerman yang menjalani kehidupan nyantri di Pondok Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, lima tahun yang lalu. Kehadiran Katrin Bandel sebagai santri di komplek Pondok Krapyak adalah sesuatu yang tidak lazim. Rasa penasaran pada yang tidak biasa inilah yang menjadi ide awal saya menggarap film dokumenter al Ghoriib.” Ungkap Vedy Santoso.

Hari Cinta Tanah Air

Dalam sambutan acara, Ketua Lesbumi Bantul Ahmad Zaki, menuturkan, “Penyelenggaraan ini berupaya untuk menggugah para pemuda-pemudi NU untuk semangat berkarya. Kalau menengok sejarah tahun 50-an, ada tokoh Usmar Ismail yang menyutradarai film “Darah dan Do’a” yang merupakan film Indonesia pertama yang secara resmi diproduksi oleh Indonesia setelah kemerdekaan. Film itu diproduksi Perusahan Film Nasional Indonesia (Perfini). Lebih lanjut Usmar Ismail selain dikenal sebabagai Bapak Perfilm-an Indonesia karena beliau adalah pendiri Perfini. Selain itu, Usmar Ismail adalah tokoh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi), sebuah lembaga kebudayaan yang didirikan Nahdlatul Ulama. Keahlian dalam produksi film menjadikan Usmar dipercaya sebagai ketua umum pertama Lesbumi kala itu. Kisah sejarah ini sedianya menjadi dan penggugah bagi kita, bahwa soal perfilm-an generasi ‘sepuh’ NU sudah memberikan tauladan yang hebat, dan itu patut kita tiru untuk membuat karya-karya yang baik.

Baca Juga :  Tips Mencegah Virus Corona Secara Mandiri ala Santri Tahfidz

Poin lainnya perhelatan gelaran pemutaran film ini adalah dalam rangka pengingat pada simbah KH. Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri Nahdlatul Ulama yang kelahirannya pada 14 Februari. Ingatan pada ulama pendiri NU kita harapannya sebagai momentum kepada kita semua, terutama kaum muda untuk cinta pada tanah air. 14 Februari bukan hanya soal hari valentine, namun kita sebagai warga NU mari memahamkan diri bahwa 14 Februari adalah hari cinta tanah air.” Ujar lanjut Zaki

Kisah tentang Kemungkinan yang Tidak Biasa

Film al-Ghoriib mengisahkan pencarian seorang manusia akan kerinduan spritual. Aktifitas nyantri si tokoh Katrin Bandel dalam lingkungan pesantren ditangkap sebagai sebagai sesuatu yang tidak biasa oleh Vedy Santoso. Kehidupan yang tampak tidak biasa itu itu kemudian diolah dan diproduksi menjadi film dokumentar. Dan nasib baik film dokmenter ini mendapat penghargaan Juara Ketiga Kompetisi Film Pendek Dokumenter dalam ajang Muktamar NU ke-33 pada 2015 silam.

“Kalau kita lihat-lihat di youtube, kisah-kisah seorang muallaf kebanyakan visualnya menampakkan bahwa si tokoh mendapat pencerahan atas hadirnya keyakinan baru yang dianut, dan kadang terkesan ada penghakiman pada keyakinan lama yang dianut sebagai sesuatu yang buruk. Kalau saya tidak seperti itu. Saya masuk Islam, saya anggap sebagai keberlangsungan kehidupan saya atas kebelangsungan kehidupan sebelumnya. Saya tidak merasa dan tidak mau mengangap bahwa keyakinan sebelumnya itu salah atau buruk. Ya, biasa saja. Lebih pada kerinduan akan spiritual, seperti ada yang asing–sesuatu yang entah apa–yang menarik hati saya ke Islam. Saya merasa lebih nyaman dalam tahapan kehidupan sekarang, lalu kelangsungan hidup saya kedepannya bagaimana, ya saya tidak tahu, Ya, mengalir saja, saya belajar ber-Islam dan menikmatinya. Nah poin inilah, yang saya tekankan kepada Vedy, sehingga saya mau menjadi subyek dalam film dokumenter ini.” Ungkap Katrin Bandel

Baca Juga :  Mentawai Salat Istisqo Saat Kemarau Melanda

Katrin melanjutkan, melalui pengamatan dan bacaan-bacaan yang saya pahami, menjadi muallaf di Indonesia itu sesuatu yang rentan untuk dipolitisasi. Maka pada awal saya masuk Islam, saya tidak mengaktualkan diri ke umum. Kemudian, setelah saya sering berkunjung ke Pesantren Krapyak, mengaji kepada Bu Ida (waktu itu belum nyantri mondok), lambat laun saya merasa yakin untuk mengekspresikan ke-islaman saya. Itu semua adalah proses dinamis yang panjang, hampir dua tahun saya menutup ke-islaman diri saya. Lingkungan pesantren Krapyak-lah akhirnya membuat saya berhenti menutup diri, motivasinya supaya eksistensi saya dapat bermanfaat bagi santri lain untuk lebih giat beribadah dan menghayati Islam dengan lebih mendalam. Bagi saya, sesuatu peribadahan yang tidak kita hayati hanya menjadi sesuatu kebiasaan tanpa makna. Selain karena kerinduan spiritual, ya tentu perjuangan, saya belajar dari nol untuk berusaha lebih memahami Islam, mengaji huruf hijaiyah, hingga lanjut mengaji Al Qur’an. Hingga sekarang pun saya masih belajar.

Sementara itu, Awaludin Mualif menyampaikan bahwa dalam visual film al-Ghoriib memperlihatkan sang muallaf-Katrin ditarik oleh sustu kerinduan yang tidak diketahui, yakni merasa nyaman dengan Islam. Selama tinggal di Pesantren al-Munawwir Krapyak hidup dalam pluralisme bersama santri-santri lainnya yang berasal dari berbagai suku dan wilayah Indonesia. Kehidupan pesantren Krapyak pada film ini tidak ada visualisasi gambar atau dialog perihal penghakiman atas agama atau keyakinan lama si muallaf. Peralihan kepada keyakinan baru tampil begitu saja mengalir. Hal inilah yang sangat menarik dalam film ini.

Pada dialog dalam film. Ketika Ibu Nyai Ida Rufaida (pengasuh PP al-Munawwir, red) mengatakan, “Walau begini-begini, santri saya ada yang doktoral”. Kemudian Katrin menjawab, “Kalau schoolarship di kampus saya doktor, namun di sini saya hanyalah anak TK.” Adegan ini juga penting dan menarik. Di situ terlihat bahwa Katrin-sang muallaf memiliki kerendahan hati yang hebat dan kesadaran posisi yang baik, bisa menempatkan perbedaan lingkungan kampus dan pesantren dengan tepat.

Baca Juga :  Pemanfaatan Dana ZIS Didorong untuk Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

“Film ini sangat menyentuh hati dan bisa memotivasi bagi orang-orang yang menganut Islam sejak kecil dengan hadirnya pengetahuan-pengetahuan baru supaya terus ingat kepada Sang Pencipta alam semesta, Allah SWT.” pungkas  Awaludin (Kontributor: Markaban Anwar)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close