Fenomena Kadrunisme: Aksi Memecah Belah Bangsa Berkedok Agama

 Fenomena Kadrunisme: Aksi Memecah Belah Bangsa Berkedok Agama

Fenomena Bangsa Beragam (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

Artikel berikut merupakan kiriman dari peserta Lomba Menulis Artikel Hidayatuna.com yang lolos ke tahap penjurian, sebelum penetapan pemenang. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis dan bukan merupakan penyebaran kebencian, murni opini penulis.

HIDAYATUNA.COM – Kadang berpikir mengapa sebagaian manusia negeri ini sibuk ingin mengganti ideologi bangsa ini. Apakah dalam benak mereka terselip rasa tak puas dengan falsafah berbangsa dan bernegara, atau hanya memuluskan agenda politik mereka yang berkedok agama?

Padahal jika diruntut, para pendiri bangsa ini tak hanya dari golongan nasionalis, tapi hadir juga para tokoh ulama nusantara seperti KH Hasyim Asy’ari. Pun ulama’-ulama’ lainnya yang ikut berikhtiar merumuskan dasar falsafah negara ini.

Jika menelisik sejarah, para pendahulu menggunakan agama untuk membela agama, tetapi sekarang kebalikannya. Beberapa orang yang mengaku dari agama tertentu menggunakan agama sebagai alat untuk memberontak negara.

Mereka memaksakan standar beragama mereka kepada penduduk negeri indah ini yang memang memiliki keragaman dalam hal suku, ras dan agama. Namun hal yang menarik untuk diperbincangkan adalah penerapan konsep khilafah yang digaungkan oleh beberapa pihak untuk diterapkan di Indonesia.

Sedangkan kita mengetahui sendiri, Indonesia merupakan negara demokrasi. Di mana falsafah bangsa bersumber dari Pancasila dan konsep berbangsa dan bernegara sesuai dengan UUD 1945. Dua rumusan tersebut tidak secara instan dicetuskan oleh para pendiri bangsa. Akan tetapi melalui proses panjang yang tak hanya dilakukan secara lahir tetapi lewat secara batin.

Konsep khilafah inilah yang harus coba kita pahami, apa sebab dan maksud dari konsep yang selalu ingin diterapkan oleh beberapa pihak di Indonesia ini. Apakah hanya didasari dengan keinginan untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan? Ataukah, hanya sebagai alat memuluskan suatu agenda politik yang menyangkut golongan dari pihak pro khilafah ini?

Pancasila Tidak Bertentangan dengan Alquran

Pendiri bangsa sebenarnya telah mengerti betul bahwasannya Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman dalam hal suku, ras dan agama. Mereka tak perlu memaksakan semua untuk sama dalam hal keyakinan.

Hal ini dibuktikan saat Sila-1 yang berbunyi “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kemudian dikarenakan beberapa pihak merasa sila tersebut kurang cocok dijadikan landasan ideologis bangsa karena Indonesia yang beragam, akhirnya diganti dengan bunyi sila-1 yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Tetapi belakangan ini beberapa pihak dengan kedok agama mulai merongrong negara kesatuan republik Indonesia. Mereka berupaya-upaya untuk mengganti dasar falsafah berbangsa dan bernegara bangsa ini.

Dimulai dari mereka mengharamkan hormat bendera karena dianggap syirik. Diikuti dengan sikap menganggap tepuk tangan sebagai perwujudan budaya yahudi hingga keinginan mengganti sistem negara demokrasi dengan khilafah. Penulis merasakan makin kesini mereka semakin berani menunjukkan taringnya dalam memuluskan langkah mereka.

Sebenarnya mereka tak bosannya menggaungkan sistem khilafah ini hanya untuk memuluskan agenda politik tersembunyi mereka. Mungkin saja hanya untuk mengubah Indonesia dari negara hukum menjadi negara Islam atau mungkin hanya ingin memecah belah bangsa.

Mungkin saja agama digunakan sebagai alat untuk menguasai setiap kekayaan dari negara ini. Semua kemungkinan tersebut hanyalah sebatas asumsi penulis, di mana dan apa pun dapat terjadi.

***

Sebenarnya gerakan mereka telah terorganisir. Hal ini dibuktikan dari berbagai aliran dana yang terkumpul sebagai pununjang gerakan mereka. Walaupun dengan masa lebih sedikit dibandingkan dengan Ormas lain seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyyah, tetapi mereka memiliki kekuatan dalam hal struktural.

Di mana mereka, dengan kekuatan yang dimiliki dapat membuat berbagai kegiatan untuk penggalangan dana. Terbaru pendirian sebuah investasi lewat sebuah toko yang terbukti belakangan ini sebagai investasi bodong.

Mereka menggunakan ayat-ayat tertentu untuk menarik perhatian umat agar mendukung setiap gerakan yang golongan mereka perlihatkan. Menggunakan sejumlah tokoh untuk mengenalkan kepada ummat agar semakin menarik simpatisan.

Apa yang telah mereka bangun justru hancur seketika, saat pimpinan mereka semakin terlihat berbeda pandangan dengan ideologi Pancasila. Akhirnya banyak dari kalangan mereka menyebarkan ujaran kebencian kepada pemeluk agama lain.

Para ulama dan tokoh pendiri bangsa ini sebenarnya membangun bangsa dengan susah payah, dan dengan semangat gotong royong. Hal tersebut dilakukan untuk menciptakan tempat di mana semua suku, ras dan agama dapat hidup berdampingan dengan semangat persatuan dan kesatuan.

Tak pernah dari mereka mempersoalkan agama dan pendapat yang seringkali berbeda karena hal tersebut dapat dimusyawarahkan secara bersama. Miris dengan beberapa pihak yang sebenarnya memaksakan standarisasi beragama mereka hingga ingin menerapkan sistem khilafah.

Dalam pandangan penulis, secara manifesti sila-sila dalam Pancasila telah sejalan dengan apa yang dituangkan dalam Alquran. Di mana Alquran mengajarkan untuk mengesakan Tuhan, mempererat ukhuwah dan selalu bersikap adil kepada siapa pun dan nilai-nilai kebaikan lainnya.

Apakah hal itu lantaran menganggap Alquran sebagai hukum tertinggi? Lantas golongan pro khilafah ini berusaha keras mendirikan negara Islam di Indonesia ini.

Penulis rasa tidak tepat karena Alquran merupakan kitab suci yang berisi kisah dan hikmah. Dengan demikian, tidaklah tepat seorang mukmin memaksakan orang yang menganut paham agama lain untuk mengakui Alquran sebagai hukum tertinggi bagi mereka.

Reformasi Pemikiran

Aksi memecah belah negara sebenarnya sebuah agenda terselubung untuk memecah dan menghancurkan bangsa ini secara struktural melalui media dan jaringan yang dimiliki. Mereka selalu menyajikan ayat-ayat Alquran dan pendapat yang mendukung usaha mereka untuk menegakkan khilafah di negeri ini.

Tak hanya menyebarkan paham pro khilafah, mereka pun seringkali mengharamkan sesuatu yang tak sejalan dengan pemikiran mereka. Misalnya mencium bendera merah putih, dan lain sebagainya sebagai perwujudan kesyirikan versi kelompoknya.

Kelompok ini tersebar di mana-di mana hingga disinyalir perusahaan sekelas BUMN juga terpapar paham radikal pendirian negara Islam ini. Tak hanya menyebarkan kader-kader pro khilafah, kelompok tersebut pun mulai dengan terang-terangan menyasar generasi milenial bangsa ini.

Tindakan tersebut didukung oleh orator ulung sehingga menarik militan dari generasi milenial untuk menyebarkan paham kelompoknya. Padahal konsep khilafah ini tak mungkin bisa diterapkan di Indonesia karena sejatinya Indonesia merupakan negara yang memiliki suku, ras dan agama yang beragam. Di lain sisi juga Alquran tak pernah mewajibkan setiap negara harus menerapkan konsep khilafah dengan pmimpin yang dikenal dengan khalifah dan amir.

Bahkan dari beberapa sumber menyebutkan bahwasannya pada Muktamar Nahdhatul Ulama pada tahun 1936 menyepakati dan mendaulat Presiden Soekarno sebagai Kepala Pemerintahan yang sah. Muktamar tersebut pun menyepakati Negara Indonesia dipimpin oleh seorang Presiden. Hal ini sebagai bukti bahwasannya Indonesia sebagai negara hukum dan demokrasi bukan sebagai negara khilafah.

***

Andaipun konsep khilafah diterapkan di Indonesia, tentu tidak menjamin akan menyelesaikan konflik yang menerpa Negeri ini. Bisa jadi justru akan menambah konflik berkepanjangan.

Kita lihat saja negara seperti negara muslim di Timur Tengah yang menganut konsep negara Islam. Negara tersebut tetaplah berkonflik dengan golongannya sendiri, di mana terjadi perang dan memakan korban.

Islam memang tidak mengajarkan kekerasan, tetapi tak dipungkiri Negara Islam di Timur Tengah berkonflik karena memperebutkan sumber daya alam yang terkandung didalamnya. Nah, mungkin saja hal ini juga yang sedang mengancam negara ini dengan konsep Negara Islam yang digaungkan oleh beberapa pihak.

Sebenarnya dalam mengatasi berbagai konflik yang menghantam bangsa ini tak harus dengan pemaksaan standarisasi beragama. Tetapi dengan semangat persatuan dan kesatuan. Dengan semangat gotong-royong dan menyingkirkan rasa iri dan dengki dengan pemeluk agama lainnya. Inilah jalan yang dapat menyelesaikan konflik berkepanjangan di Negeri ini.

Hilal Mulki Putra

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

17 − 1 =