Cancel Preloader

Fenomena Jahiliyyah di Abad 21

 Fenomena Jahiliyyah di Abad 21

Fenomena Jahiliyyah (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Berbicara mengenai jahiliyah, otomatis kita juga diajak bicara tentang jaman dulu dan Islam. Sebab, ini berkaitan dengan satu istilah di dalam konteks kondisi sosial masyarakat Mekkah pra-Islam zaman dulu kala.

Jahiliyah bagi sebagian kalangan memaknainya hanya sebatas dari segi kebahasaan saja. Menurut mereka, jahiliyah adalah sebuah komunitas orang-orang bodoh atau orang yang tidak berpendidikan.

Lalu, apa benar, jika masyarakat jahiliyyah dulu itu bodoh? Lalu, apakah kini juga ada kelompok yang demikian itu? Mari kita telisik.

Jahiliyah Zaman Dulu

Saya, kira anggapan atau pandangan yang memandang orang jahiliyah jaman dulu bodoh itu tidak benar. Sebab, saya teringat dengan Zuhairi Misraw, dalam bukunya yang berjudul Mekkah (2009) menjelaskan bahwa, Muhammad al-Jabiry juga menolak jika masyarakat jahiliyah dikatakan bodoh dan tak punya nalar.

Pasalnya, kata al-Jabiry, orang-orang pra-Islam sudah mempunyai “nalar” yang memungkinkan mereka hidup dengan sistem kebudayaan. Kiranya demikian, boleh dibilang masyarakat jahiliyah pada hakikatnya adalah masyarakat primitif, mungkin itu lebih tepat dalam penyebutannya.

Sebab, mereka juga hidup sebagaimana layaknya masyarakat lain. Hanya saja, mungkin sistem hidup mereka ditentukan sejauh mana otoritas klan maupun kekuasaan ekonomi memengaruhi sebuah tatatan sosial kemasyarakatan. Maka, wajar bila dulu masih kerap terjadi peperangan dalam sebuah tatanan sosial kemasyarakatan.

Konteks sosial tersebut merupakan salah satu cara masyarakat Arab untuk bertahan hidup. Tatkala mereka sedang hidup kelaparan misalnya, maka mereka pun hanya mempunyai cara yaitu saling berperang di antara mereka.

Meskipun demikian, satu hal yang perlu diapresiasi adalah bahwa mereka juga tidak menjadikan persengketaan atau peperangan itu sebagai tradisi yang permanen. Kira-kira begitulah, jahiliyyah di zaman dulu, terlepas itu belum norma, hukum, atau pun Nabi Muhammad di tengah-tengah umat.

Coba bandingkan dengan saat ini, kini norma, hukum, bahkan kanjeng Nabi Muhammad Saw pun telah hadir. Beliau pun sudah mengajarkan hal-hal yang baik dalam beragama melalui ajaran agama Islam.

Jahiliyah di Abad 21

Itulah kemudian, boleh jadi yang membuat saya berfikir, bahwa kini ada masyarakat Jahiliyyah di Abad 21 ini. Atau malah mungkin lebih jahiliyyah dibandingkan dengan zaman dulu. Bisa jadi demikian.

Pasalnya, kini masih banyak orang-orang yang mengaku Islam tetapi perilaku dan sikapnya sangat jauh dari ajaran islam sendiri. Pantas, jika masyarakat jahiliyyah dulu melakukan hal-hal yang buruk atau bahkan diluar agama Islam. Sebab pada waktu itu memang Islam dan ajarannya belum lahir di tengah-tengah mereka.

Bagaimana dengan kondisi sekarang? Islam sudah hadir, Nabi Muhammad Saw pun telah mengajarkan hal-hal yang baik. Tentang bagaiaman hidup berdampingan, bagaimana hidup bersosial dan lain sebagainya, yang sesuai dengan ajaran Islam.

Masih saja ia kerap melakukan hal-hal di luar agama termasuk peperangan, belum peperangan itu mereka dalihkan sebagai jihad di jalan Allah SWT. Maraknya peperangan ini juga entah kapan akan berakhirnya, tidak seperti jahiliyyah zaman dulu yang tidak permanen. Sungguh ironis.

Maka, jika demikian, apakah itu namanya bukan masyarakat jahiliyyah? Duh.

Belum lagi, ada sekolompok orang atau golongan yang hidupnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka mengakui Pancasila sebagai dasar negaranya. Di sisi lain mereka ingin mendirikan negara Khilafah, yang jelas-jelas itu sangat bertentangan dengan kaidah hidup di Negara Indonesia.

Negara Indonesia sendiri notabenenya terhimpun atas berbagai suku, etnis, maupun golongan. Sebab khilafah sendiri adalah sistem negara yang menolak Pancasila.

Apakah Mereka Bukan Jahiliyyah?

Mungkin Jahiliyyah Jiddan kali, ya, yang benar untuk menyebutnya. Ciri-ciri orang jahiliyyah itu adalah salah satunya fanatik buta atau fatanatik berlebihan.

Bahwa, kita kini bisa melihat dengan mudah, ada sekelompok orang yang begitu fanantik pada kelompoknya atau pun pada kepala suku kelompok itu. Saya tidak mau menyebut namanya, pastilah Tuan dan Puan tau sendiri. Bahwa, mereka menganggap kelompok atau hanya pemimpinnya-lah yang paling benar, hingga dengan mudah kerap menyalahkan orang lain.

Mengenai hal ini, sebenarnya kita bisa mengambil pelajaran dari kaum Quraisy. Di dalam sejarah Islam, para pembesar kafir Quraisy menolak Islam itu bukan sebab menganggap Islam itu salah. Akan tetapi sebab fanatisme kesukuanlah yang menolak jika kebenaran dibawa oleh Muhammad dari kabilah Bani Hasyim.

Apakah di masa kini ada yang serupa dengan kisah di atas? Tentu Anda mempunyai jawaban sendiri.

Sebagai pungkasan, bahwa masyarakat Jahiliyyah tidak hanya ada di zaman dulu saja, melainkan kini pun juga ada orang-orang yang demikian. Bahkan, menurut saya malah cenderung lebih jahiliyyah dibanding dengan zaman dulu.

Oleh sebab itu, siapa pun Anda, hilangkan sikap-sikap yang mengarah pada sikap Jahiliyyah itu, seperti fanatik buta pada diri anda misalnya. Tidak lain, itu juga demi terciptanya rukun dan damianya negeri tercinta ini. Semoga.

Rojif Mualim

Rojif Mualim

https://hidayatuna.com

Alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pengajar dan Peneliti, Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eight − three =