Entitas di luar waktu

 Entitas di luar waktu

Waktu terlarang untuk salat (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Waktu adalah salah satu tema diskusi para fisikawan modern. Darinya muncul banyak film sains fiksi yang membahas relativitas waktu atau bahkan perjalanan menembus waktu.

Pembahasan semacam ini tidak terpikirkan oleh orang awam di masa ini. apalagi di masa lalu yang menganggapnya sebagai murni khayalan belaka.

Tetapi, ulama Asya’irah sejak berabad-abad lalu sudah mengatakan bahwa ada entitas (wujud) yang berada di luar waktu. Dia tidak terpengaruh pada periode. Baginya tidak ada masa lalu, masa kini atau pun masa depan.

Dia adalah Allah, Sang Pencipta waktu. Dzat-nya maupun seluruh sifat Dzatiyahnya tidak terkait dengan periode. Imam Fakhruddin Ibnu Asakir (Keponakan al-Hafidz Ibnu Asakir) pernah menjelaskan:

ليس له قبلٌ ولا بعدٌ، ولا فوقٌ ولا تحتٌ، ولا يَمينٌ ولا شمالٌ، ولا أمامٌ ولا خلفٌ، ولا كلٌّ، ولا بعضٌ. ولا يقالُ متى كانَ ولا أينَ كانَ ولا كيفَ، كان ولا مكان، كوَّنَ الأكوانَ ودبَّر الزمانَ، لا يتقيَّدُ بالزمانِ ولا يتخصَّصُ بالمكان

Artinya :

“Bagi Allah tidak ada sebelum dan sesudah, tidak ada atas dan bawah, tidak ada kanan atau kiri, tidak ada depan dan belakang, tidak ada seluruh atau sebagian. Dia tidak bisa ditanya kapan ada, di mana atau bagaimana. Dia telah ada waktu tempat tidak ada. Dia menciptakan semesta dan mengatur waktu, tidak terikat dengan waktu dan tidak terbatasi tempat.”¹

Kurang canggih apa coba pemikiran ulama Asya’irah? Mereka betul-betul melepaskan Allah dari keterikatan apa pun dengan makhluk atau sistem yang berlaku pada makhluk. Termasuk makhluk adalah ruang dan periode itu sendiri.

Para pengkritik Asy’ariyah biasanya sulit paham pembahasan beginian. Bagi mereka, Allah sama seperti manusia yang berada di dalam ruang dan waktu yang kita kenal, hanya beda kaifiyah saja (beda bentuk) dan dilarang membahas hal ini.

Mereka mengharamkan membahasnya sebab mereka tidak paham pertanyaan semacam ini karena nalarnya terbatas. Mereka bisanya hanya mendoktrin dan memerintah jamaahnya untuk taklid buta pada pemahaman jumud mereka dengan dogma: “imani saja lalu diam, kalau tidak maka neraka”.

 

 

Referensi:

¹. Al-Aqidah al-Mursyidah, dinukil oleh As-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyah

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one + ten =